FIFTEENTH : BECAUSE HATE, SO MISS..

2.8K 107 0
                                        

"Aku tidak ingin dibenci oleh siapapun, terutama olehmu." -Aleta

___________________________






Seminggu telah berlalu, Aleta kini sudah bisa masuk ke sekolah lagi, menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Dia baru sadar di sekolah banyak perubahan, mulai dari teman-temannya yang ketika bertemu di koridor menyapanya sekedar berkata 'hai' atau tiba-tiba senyum, Samudra yang enggan menyapa ketika bertemu, Angga yang selalu ada untuknya meski Aleta sama sekali tidak mengharapkannya, dan,

Siswi baru yang terus membututi Samudra saat bertemu dikoridor. Entahlah Aleta tidak tahu namanya siapa tapi apa dia pacar Samudra? Secepat itu Samudra melupakannya? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menjalar di pikirannya.

Kini Aleta sedang duduk di dalam kelas menikmati pelajaran fisika, tapi sayangnya pikirannya tidak ada di dalam kelas, sampai dia tidak menyadari kalau Bu Reta--guru fisika dari tadi memanggilnya.

Syifa yang berada di samping Aleta menepuk pundaknya, dan membuyarkan lamunannya.

"Eh," Aleta menoleh kearah Syifa, namun Syifa menunjuk dengan dagu kearah Bu Reta, selanjutnya Aleta hanya tersenyum menanggapinya. "Ada apa bu?"

"Dari tadi saya perhatikan kamu melamun terus, ada apa Aleta?"

"Ng-nggak pa-pa bu, kepala saya tadi pusing berusaha mengingat semuanya," bohong Aleta, berharap Bu Reta mempercayainya.

"Kalau kamu masih belum sehat benar, lebih baik kamu istirahat di UKS saja dari pada mengganggu konstentrasi yang lainnya,"

"Nggak bu saya baik-baik aja, saya mau ikut belajar aja."

"Yasudah sekarang perhatikan kembali," Aleta mengangguk untuk menanggapinya.

Bu Reta kembali menjelaskan rumus Taraf Intensitas, Aleta sebenarnya tidak terlalu mengerti pelajaran yang banyak rumus seperti ini. Apalagi Bu Reta tipe guru yang anti menjelaskan contoh soal.

Setelah menjelaskan pengertian dan rumus beserta keterangannya, Bu Reta malah seenaknya menyuruh mengerjakan latihan soal.

Tapi tidak ada yang berani membantah, karena Bu Reta tergolong guru kiler, beruntung Aleta sedang berperan sebagai siswi amnesia jadi tatapan tajam dan mulut pedas Bu Reta tidak sampai ke telinganya.

-----

Ini hari ke empat Sonya bersekolah di Jakarta, Sonya terus membuntuti Samudra kemanapun dia pergi dan itu membuat Samudra tidak nyaman.

Apalagi ketika bertemu Aleta dikoridor, Aleta seperti terlihat cemburu tapi mana mungkin dia cemburu, dia kan sedang amnesia.

Sialnya lagi Samudra malah sekelas dengan sepupunya yang rese itu.

Sepupunya yang selalu terlihat humoris, dan selalu mengobrol dengan teman cowok Samudra tak lupa juga di sela-sela obrolan mereka selalu saja ada topik yang membuatnya terbahak-bahak, bukannya Sonya playgirl atau semacamnya, tapi dia hanya ingin mempunyai banyak teman.

Sekarang ini mereka sedang asyik berbincang-bincang di kantin sambil menunggu Samudra datang.

"Joko.. Pasti pacar lo bahagia banget ya?" pertanyaan Sonya membuat Reza, Ferdi, Rio, dan juga Revan tertawa.

"Si Joko gak punya pacar Soy," Kata Ferdi yang masih tertawa "Yang ada dia malah dapet tolakan dari cewek."

Sonya menaikan sebelah alisnya bingung "Kok bisa? lo kan gak jelek-jelek amat."

"Si Joko mah demen sama semua cewek hampir nyokap gue aja kalau janda mau dia sikat," Tawa Rio lebih puas ketika mengingat Joko pernah main kerumahnya dan melihat mama Rio yang terlihat masih muda lebih tepatnya awet muda.

Joko yang sedaritadi hanya diam karena malu langsung menoyor kepala Rio, "Asal ngomong lo cangak," kini Joko beralih menatap Sonya "Nggak kok Soy, lo salah paham gue itu udah punya doi,"

"Wowwwww..." Teriak keempat temannya berusaha menggoda.

"Siapa? Tanteh Eci?" Tanya Rio yang langsung di hadiahi pukulan sendok dikepala oleh Reza.

"Itu emak gue bego!" Celetuk Reza

Joko menoyor kepala Rio "Sembarangan lo! Doi gue Syifa bukan tanteh-tanteh."

"Wowwwww..." Teriak teman-temannya lagi berusaha menggoda, kecuali Reza yang hanya menanggapinya dengan senyuman palsu.

Sonya tertawa sambil bertepuk tangan "Berondong punya doi wuuuuhh..." Teriaknya heboh sambil bertepuk tangan membuat pusat perhatian seisi kantin. 

Tak lama Samudra datang membawa nampan pesanan mereka, "Waaahhh.. Mamang baik banget aku jadi makin nyaman deh," kata Joko berekspresi gemas sambil mencubit centil lengan Samudra.

Sonya bergidik ngeri melihat Joko yang seperti itu, berbeda dengan Samudra, Reza, Ferdi, Rio, dan juga Revan yang sudah terbiasa melihat sifat aneh Joko.

"Eh, btw kalian kenal Angga gak? Dia mana ya? Kok dari tadi gak kelihatan?" tanya Sonya sambil celangak-celinguk.

"Paling sama Aleta," Jawab Reza singkat

"Aleta?" tanya Sonya, yang sepertinya nama itu sudah tidak asing lagi didengar.

"Iya, gue sih tadi dapat kabar kalau Aleta udah mulai sekolah lagi."

Ah, Sonya ingat, "Aleta, yang waktu itu kita tolongin bukan sih Sam?" mata Sonya beralih pada Samudra yang sedang mengunyah bakso cukup pelan.

Samudra hanya mengangguk tanpa berniat untuk membuka suara.

"Kasihan ya Aleta, masa cewek secantik dia harus amnesia?" Kata Rio yang menunjukan wajah prihatin.

"Tapi kenapa dia gak sama lo aja Sam?" Revan bingung, makanya dia bertanya seperti itu.

"Iya bener tuh, lo kan pacarnya." kata-kata terakhir Rio suskes membuat Reza melemparkan tatapan tajam padanya.

Sonya yang mendengar itu merasa bingung sama sekali tidak mengerti, apalagi dia baru-baru ini tinggal di Jakarta. "Pacar?" Sonya melemparkan tatapan bingung kearah Samudra. "Kenapa lo nggak pernah cerita Sam? Mungkin gue akan berteman baik sama pacar lo."

Samudra tidak tega mengatakan ini, tapi rahasia yang dia jaga selama seminggu ini sudah terbongkar begitu saja, Samudra tahu ini pasti akan membuat sepupunya terluka. "Gue udah relain Aleta sama Angga."

"Angga? Sumpah gue makin gak ngerti, kenapa harus Angga?"

"Soy meningan lo tenang dulu, biar Sam juga enak jelasinnya," kata Reza mencoba menenangkan orang yang padahal baru kenal beberapa minggu ini, tapi sikap Reza seperti sudah lama berteman dengannya.

"Soy, gue minta maaf, gue baru tahu kalau ternyata lo suka sama Angga dan gue malah bikin Aleta sama Angga pacaran sejak Aleta amnesia."

"Gue gak masalah Sam, tapi kenapa lo relain dia? Lo udah gak punya perasaan ya sama Aleta?"

"Gue sayang sama Aleta, tapi lo tau kan sejak orang tua gue masih ada, keluarga gue sama keluarga Angga itu udah deket banget, bahkan pas mama gue meninggal yang perhatiin gue sama Kak Elba itu mamanya Angga karena papa gue mungkin sibuk kerja, dari situh gue merasa, gue orang yang beruntung bisa kenal sama keluarga Angga. Dan gue udah janji akan ngalah kalau ada kemauan Angga yang gue dapat." Jelas Samudra membuat Sonya bungkam.

"Thanks kalian udah care sama gue, tapi gue minta sama kalian mulai sekarang nggak usah ikut campur urusan gue."

Apakah Samudra marah atau tidak? Mereka tidak tahu, karena Samudra mengatakan itu dengan wajah tanpa berekspresi atau bisa di bilang datar.

"Apa lo benar-benar yakin bakal rela kehilangan Aleta?"

"Gue percaya kata pepatah, bisa karena terbiasa. Gue yakin gue akan terbiasa tanpa Aleta."

Semuanya diam memilih memakan baksonya kembali tanpa berniat bertanya-tanya lagi.



♥♡♥

See you the next part

ALETATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang