FOURTEENTH : THE PAST HAS RETURNED

2.8K 118 0
                                        

"Jika melihatmu membuatku rindu, lebih baik aku tidak melihatmu setiap hari." -Samudra

__________________________





Samudra duduk di pinggiran danau sambil melemparkan batu kerikil ke tengah danau untuk melampiaskan kekesalannya.

"Lo kenapa ngajak gue kesini, hah?!" Sonya menyerngit bingung karena Samudra yang tiba-tiba menyuruhnya untuk kemari.

Namun percuma saja, Samudra malah diam dan terus melempar batu kerikil tanpa menjawab pertanyaan Sonya.

Sonya memutar bola matanya malas. "Kacang!"

"Btw, gue belum ketemu Angga nih, ke rumah Angga yuk Sam?!" Ajak Sonya bersemangat.

"Sepupu gak berguna, bukannya ngehibur malah memperkeruh suasana!" Gumam Samudra namun masih dapat di dengar jelas oleh Sonya.

Sonya yang mendengar itu langsung menabok punggung Samudra. "Lo ngomong apa barusan?!" Samudra diam. Sonya menabok punggung Samudra, Lagi.

Sonya mendengus kesal, bibirnya mengerucut, matanya beralih menatap Samudra yang terus memandangi danau itu. "Lo lagi ada masalah ya?"

Samudra kembali melemparkan batu itu lagi, berharap akan terlempar lebih jauh "Gue butuh hiburan," jawab Samudra asal dan singkat.

"Tapi gak disini juga kali Sam," Sonya bangkit kemudian menarik lengan Samudra "Ayo!"

Samudra mendongak, melihat sepupunya itu sangat bersemangat kemudian Samudra ikut berdiri dan penasaran, "Kemana?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ke rumah Angga."

Samudra memicingkan mata malas. "Mau ngapain?"

"Mau ngajakin Anggita, udah lama gak ketemu pasti sekarang udah besar." Sonya terus tersenyum sambil menarik tangan Samudra.

Yang di tarik hanya mengikut pasrah. 

-----

"Permisi... Assalammualaikum, Angga..?" Teriak Sonya dengan bersemangat sambil mengetuk pintu.

"Kayaknya Angga gak ada," kata Samudra yang berada di sampingnya.

Sonya mendengus mendengar ucapan Samudra, tapi tak lama pintu utama rumah Angga terbuka menampakkan Ratna--Mama Angga yang tengah menggendong Anggita.

"Sam," Ratna langsung tersenyum melihat Samudra yang sudah lama tidak mampir ke rumahnya.

"Hai tanteh?" Sapa Samudra lalu mencium tangannya kemuadian di ikuti Sonya.

"Wah, Anggita udah besar ya tan?" Ucap Sonya, namun sepertinya Ratna masih belum mengenalinya "Waktu itu Anggita baru berumur 8 bulan, sekarang kayaknya sekitar 4 tahunan ya tan,"

"Maaf nih sebelumnya, neng ini siapa ya? Dari ucapannya barusan seperti sudah kenal lama."

Sonya menghela nafas, "Tanteh kok gituh, aku dilupain." Sonya mengerucutkan bibirnya "Aku Sonya tan, teman SMP Angga, sepupu Sam juga."

Ratna mengingat-ngingat, saat sudah tahu dia tersenyum "Ohh.. Iya-iya tanteh inget," Sonya tersenyum lebar, akhirnya Ratna tidak sepenuhnya lupa "Sonya, teman SMP Angga yang suka mampir makan kesini?" perasaan malu tiba-tiba muncul, karena baik Samudra maupun Ratna menertawakan hal yang memalukan dulu.

"Tanteh bisa aja," Sonya nyengir kuda. "Tan, Anggita biar aku yang gendong aja."

"Ah gak usah nanti malah jadi ngerecokin kalian,"

"Gak pa-pa tan, kasih aja biar dia ngerasain rasanya berat ngegendong." Samudra tersenyum miring, mengingat saat SMP Sonya begitu manja.

Ratna hanya tersenyum lalu memberikan Anggita pada Sonya "Yaudah masuk yuk, kalian pasti nyari Angga yah? Angga ada di kamarnya, kalian keatas aja soalnya tanteh lagi masak."

Setelah itu mereka masuk dan membuntuti Ratna, namun pas di depan tangga Ratna lurus, berbeda dengan Sonya dan Samudra yang langsung naik keatas menuju kamar Angga.

Samudra membuka pintu, terlihat Angga sedang bermain playstation, tapi Angga tidak menoleh tetap fokus pada games nya itu, "Bentar Ma, Bentar lagi goal." sepertinya Angga mengira kalau yang datang ke kamar adalah Ratna.

"Mama-mama lo pikir gue mama lo!" suara Samudra, sukses membuat Angga menoleh kearahnya. Samudra dengan enaknya seperti biasanya langsung merebut stik playstation itu dari Angga.

Angga hanya berdecak kesal. "Kebiasaan," Angga bangkit dan baru menyadari perempuan yang sebaya dengannya sedang menggendong Anggita.

Angga mengabaikan Samudra yang sedang asyik memegang stik dengan mata menatap layar persegi panjang yang tersedia di hadapannya.

Wajah perempuan itu sudah tidak asing lagi baginya, kemudian menampilkan senyum di wajahnya, "Sonya?" Ucap Angga namun seperti sebuah pertanyaan.

Melihat Sonya semakin tersenyum lebar, membuat Angga juga tersenyum lalu reflek memeluk Sonya yang masih menggendong Anggita.

Anggita yang merasa sedikit terjepit nangis layaknya balita. Angga yang menyadari tangisan adiknya langsung melepaskan pelukannya, walaupun dia tahu Sonya tidak membalas pelukannya karena mungkin sedang kesulitan menggendong Anggita.

"Lo sih, jadi nangis kan si Anggita!" bentak Sonya dan langsung menghibur Anggita.

Angga tidak merasa terbentak, bahkan dia tertawa ketika Sonya sedang membentaknya tadi.

Setelah Anggita berhenti menangis, Sonya meletakkan Anggita di tempat tidur Angga dan sudah di suguhkan barbie--mainan kesukaan Anggita-- oleh Angga.

"Gimana kabar lo Soy?"

"Seperti yang lo liat Ga."

Mata itu? Sonya tidak bisa berbohong untuk tidak menatap sempurna tatapan teduh Angga saat ini.


♥♡♥

See you the next part

ALETATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang