05 | tujuan diciptakannya mesin cuci

334 38 18
                                        

‹ ‹ ✾ l i m a  ✾ › ›

Selin dengan bangga menggandeng tangan Aiden di mal dekat sekolah. Ia menggoyang-goyangkan tangannya seperti anak kecil yang sedang menggandeng ayahnya. Aiden yang sudah merasa lelah dengan sikapnya hanya mengikuti cewek itu dengan pasrah. Karena jika ia memprotes, Selin akan menuduhnya marah padanya lagi, dan semua urusannya akan menjadi panjang, dan ia tidak mau itu terjadi.

Pacarnya itu sedang memilih-milih baju di salah satu toko baju yang memiliki range harga yang cukup tinggi. Matanya sibuk memilah-milah antara baju-baju yang tersedia.

"Kamu buat apa sih beli baju lagi? Kan baju kamu udah banyak," komentar Aiden saat Selin sedang memegang dua gantungan baju sekaligus dan menyocokkan dengan tubuhnya secara bergantian.

"Really, Aiden? Emang kamu mau aku pake baju yang sama terus-menerus dan diulang-ulang? Ew." Selin memasang wajah jijik.

"Iya? Itu tujuan diciptakannya mesin cuci."

Selin menatap pacarnya tak percaya, lalu kembali memilih-milih baju tanpa menanggapi perkataannya. Aiden sudah merasa lelah ketika cewek itu sudah mengambil beberapa helai baju untuk dicoba.

"Sekarang aku mau nyoba baju dulu ya, kamu tungguin aku." Wajah Selin berbinar-binar, Aiden hanya mengangguk dan menghela napas.

Tampaknya Selin membutuhkan waktu yang lama untuk mencoba baju-baju yang telah dipilihnya.

Ini bukan tujuannya. Aiden memiliki pacar untuk bersenang-senang, bukan malah diperbudak seperti ini. Setelah menunggu cukup lama, cowok itu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke luar. Berada berjam-jam di tengah-tengah pakaian-pakaian perempuan beserta mannequin-mannequin dengan tubuh-tubuh rampingnya tidak manusiawi itu membuatnya muak.

Ketika Aiden baru saja keluar dari toko tersebut, ia melihat dua perempuan berjalan dengan menggunakan seragam SMA Adyatma. Kedua cewek itu tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang lucu karena mereka berdua tertawa begitu keras. Mereka berdua sama-sama memiliki rambut sebahu, sekilas seperti anak kembar. Tetapi yang satu bertubuh lebih tinggi dari yang lainnya.

Saat itulah Aiden merasa kalau salah satu dari mereka tampak familier. Lalu senyumnya  seketika mengembang ketika melihat karet rambut berwarna pink yang melingkar di pergelangan tangannya. Tanpa ragu ia melangkah mengikuti mereka berdua. Keira dan cewek di sebelahnya berjalan menuju toko buku.

Aiden dan toko buku bukanlah kombinasi yang pas. Ia tidak pernah menyelesaikan sebuah buku seumur hidupnya. Ia selalu membayar seseorang untuk mengerjakan tugas sastra Inggrisnya dan hanya sebatas membaca sinopsis dari buku tersebut agar tidak terlalu clueless ketika sang guru menanyakan kepadanya.

"Kassie!" seru Keira pada cewek yang satunya. Yang dipanggil dengan nama "Kassie" menoleh, ia sedang melihat tumpukkan puzzle tiga dimensi yang tampak sangat menarik perhatiannya. Setelah Kassie berlari kecil ke arahnya, ia menunjukkan sebuah novel yang dipegangnya dengan raut wajah sangat gembira. Aiden tidak mendengarkan apa yang ia katakan karena jaraknya terlalu jauh, ia harus menjaga jaraknya sewajar mungkin kalau tidak mau tertangkap basah menguntit.

Cowok itu pikir Keira akan segera membelinya, tetapi ia meletakkannya lagi dengan wajah sedih. Aiden bergerak mendekat dan bersembunyi di balik rak.

"Nanti akhir depan pas sisa uang jajan udah kekumpul, aku balik lagi ke sini," ujar Keira penuh tekad.

"Beli aja sih, Kei. Masih awal masuk sekolah uang jajan masih banyak kan," kata Kassie. "Yang ribet aku nih pengen beli puzzle 3D harganya bikin istigfar."

"Nope, kalo misalnya ada keperluan mendadak gimana? Pokoknya aku nunggu sampe akhir bulan."

"Ya udah terserah sih. Tapi jangan neleponin aku kalo misalnya kamu nggak bisa tidur gara-gara penasaran."

QuaternaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang