Author pov
12 jam berlalu. Akhirnya mereka sampai di desa kembang wangi. Mereka semua turun dan membawa koper masing-masing. Mobil mereka di parkir kan di sebuah tanah yang lapang khusus untuk pengunjung karena memang jalanan nya tidak mendukung untuk di masuki sebuah mobil ataupun sepeda motor. Mereka berjalan kaki menuju balai desa untuk menemui pak RT.
"Assalamualaikum " ujar Liora
"Walaikumsalam. Eh ada tamu. Silahkan masuk nak. Ngomong-ngomong ada perlu apa ya, sehingga kalian berani datang kesini. Eh maksutnya kalian ke balai desa ini. ?" tanya pak RT
"Oh kami dari kota pak, ingin berlibur ke desa yang masih Asri banget. Kami bosan dengan suasana kota. Jadi kami datang kesini !" jelas Adam .
"Oh iyya-iyya. Apa kalian sudah membulatkan tekat kalian untuk berlibur disini ? ". Tanya Pak RT .
"Maksut bapak apa ya ? Emang ada apa dengan desa ini ?". Tanya Ajeng yang mulai nyolot
"Eh bukan begitu nak. Karena disini itu desa yang sangat pelosok sekali, listrik jarang, toko jarang, sepi juga". Jelas pak RT
"Oh itu bukan masalah pak. Kami kesini hanya untuk menenangkan diri, kami hanya ingin menghirup udara sejuk disini dan bersenang-senang untuk melepas beban kami yang habis ulangan untuk kelulusan". Jelas Rendy.
"Oh begitu. Baiklah. Disebelah sana ada hotel. Kalian bisa menginap disana!" tawar pak RT dengan menunjukkan sebuat atap hotel yang begitu megah hingga bisa terlihat dari balai desa
"Pak. Kok ada hotel ya di desa , besar lagi ? Emang banyak pengunjung ya ? " tanya Ajeng
"Hm. Eeee. Anuuu. Nggak. Disini dulu sering ada pengunjung jadi kami membangun hotel untuk para pengunjung". jawab pak RT
"Oh yasudah kami permisi dulu pak. Assalamualaikum". Jawab Liora
"Walaikumsalam. Eh tunggu nak. Bapak mau pesan. Jangan sekali kali membuka pintu warna hitam bagian lantai atas sendiri, ingat! Kalo kalian melanggarnya kalian akan tanggung sendiri akibat nya." ujar pak RT kepada Liora, Ajeng, Adam, Rendy, dan Udin, sedangkan Risma sudah berlalu meninggalkan mereka semua dan menunggu di depan balai desa .
Mereka berjalan menuju hotel, namun mereka memilih jalan memutar untuk melihat pemandangan di desa ini. Namun Liora tak sedemikian. Liora terlihat cemas dan bingung
"Liora, Liora, Liora. Lo ngapain sih dari tadi tengok kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang. Tapi sama sekali gak kelihatan menikmati pemandangan. Malah elo seperti orang ketakutan dan kebingungan". tanya Ajeng
"Gue punya feeling gak enak nih guys. Gue serasa ada aura aneh di desa ini . mending kita pulang !". jawab Liora.
"Yang bener aja loh Ra. Kita udah setengah hari perjalanan kesini, iyya gue tau lo indigo, tapi ya liat-liat situasi dong. Sekarang udah jam 4, sementara perjalanan butuh 12 jam an. Setidaknya kita pulang besok. Karena gue percaya sama elo". jawab Adam
"Iyya nih. Gue benar-benar ngerasain aura yang sangat kuat, sementara kalo sekarang pulang itu tidak memungkinkan". jawab Liora berubah fikiran untuk memutuskan pulang secara sepihak.
"Hm. gue jadi takut deh kalo lo ngomong kayak gitu. Pulang sekarang yuk " rengek Ajeng.
"Ah gak mungkin sekarang. Sehari aja kita bermalam disini sebelum ada sesuatu yang terjadi sama kita. Gue udah bener-bener percaya sama omongan Liora. Karna gue juga ngerasa ada yang buntutin kita lo". jawab Risma
Perjalanan menjadi hening kembali. Hingga sampailah mereka di depan death hotel. Namun semua langkah terhenti karena Liora berhenti melangkahkan kaki nya .
"Gue ragu untuk masuk". Ujar Liora
"Hah ? Kenapa? Bagus loh hotel nya, cuma namanya aja yang aneh". Jawab Udin
"Hm entah lah. Gue masih belum bisa melihat apa yang akan terjadi". Jelas Liora
"Sudah gengs. Kita masuk yuk. Jangan berfikir negatif dong. Setidaknya kita bisa menikmati liburan disini walau hanya 1 hari". ujar Risma yang mendapat anggukan dari Udin .
Mereka memasuki hotel, semua menunggu di ruang tunggu sementara Adam mengurusi administrasi untuk memilih kamar yang akan di buat istirahat. Setelah selesai Adam menghampiri teman-temanya
"Guys, kita dapat nomor 308. Lantai paling atas sendiri.jadi lebih baik kita naik tangga aja, ntar kalo naik lift takut macet 😀 kalo gamau naik tangga ya naik lift aja sendiri. Kalo macet jangan salahin aku". jelas Adam tak mau tau.
"Okelah. Gue mau naik lift, capek kalo harus naik tangga". kata Risma .
"Oke" jawab Adam dan kawan-kawan .
***
Risma sampai duluan di lantai paling atas. Namun karena Risma terlalu lama menunggu, dia berfikir untuk mengelilingi lantai atas dahulu. Namun ketika ia sudah di pojok dia menemukan sebuah kamar dengan pintu berwarna hitam dan tertulis "dilarang masuk". Karena ia ingin tahu apa yang di dalam kamar tersebut ia mencoba untuk membuka kamar tersebut, namun tak bisa karena dikunci. Dan sebuah keberuntungan, Risma sekarang mengenakan jepit, jadi ia mencoba membuka kunci tersebut dengan jepit rambutnya. Dan ya, ia berhasil. Ketika ia perlahan membuka pintu. Angin berhembus kencang keluar dari kamar tersebut menabrak tubuh Risma. Tiba-tiba hawa menjadi dingin. Bulu kuduk Risma mulai berdiri. Ia menutup kembali pintu tersebut dan berlari menuju kamar nya.
"Risma kamu dari mana ?". Tanya Liora
"Dari jalan-jalan lah. Kalian sih, lama banget". Jawab Risma .
"Ohhh. Oh iya kamu udah tau pantangan dari Pak RT ? ". Tanya Adam
"Gak tau". Ujar Risma dengan mengerutkan dahinya
"Kita kebetulan kan dapet nomor hotel kamar 308 dan lantai paling atas sendiri. Kita itu gak boleh buka kamar dengan pintu warna hitam.jangan ! Sedikitpun jangan !". jelas Adam
"Hah ? Tapi gueee. Eee. Gueee ". Risma gelagapan .
"Tunggu-tunggu jangan bilang kalo lo udah buka tuh pintu ". Ajeng mulai khawatir
"Eeee. Enggak kok. Yang bener aja, gue gak buka". Ujar Risma berbohong
"Eh. Yang bener jangan bohong Ris " Udin memperjelas
"Iyya Din. gue gak bohong. Gue gak tau apa- apa". Ujar Risma sembari berlalu meninggalkan teman-teman nya ke kamar mandi
"Okelah kalau gitu kita istirahat aja dulu. Besok pagi kita pulang. Gue takut yang di rasain Liora itu bener sebener bener nya". Perintah Adam
"Aelah. Masih aja percaya sama mitos gituan ". Recceh Rendy
"Ssst. Udah lah. Kita cari wisata lain aja ". Jelas Liora
"Oke besok kita pulang". Jelas Adam
Semua mempersiapkan untuk tidur. Namun Risma hanya berdiri di depan westafel dan mulai khawatir
"Aduh gimana nih. Gue takut kalo ada apa-apa. Gue yang buka kamar itu. Di tambah saat gue buka pintunya angin berhembus kencang di muka gue, kalo itu makhluk-makhluk halus gimana. Oh nooo.! Jangan berfikir yang macam-macam Risma". Batin Risma
Namun saat Risma ingin mencuci muka nya. Dan membuka kran air, yang keluar bukan lah air jernih, namun seperti darah, darah yang sudah kental dan membusuk. Risma menjerit ketakutan. Lalu Liora menghampiri nya karena Liora masih belum bisa tidur
"Eh ada apa Ris". Tanya Liora
"Ada darah keluar dari kran westafel Ra. Gue takut !" ujar Risma sambil menangis ketakutan
"Ssst jangan gitu. Mungkin hanya halusinasi lo aja karena lo kecapek an." tenang Liora.
"Mungkin kali ya Ra. Yaudah gue istirahat dulu. Halusinasi kayak gitu wajar kan Ra ?". Risma memastikan
"Iyya lah wajar. Sudah sana tidur, gue mau buang air dulu". Ujar Liora.
"Hm" Risma hanya mengangguk dan meninggalkan Liora di kamar mandi
Hai. Guys. Sampek sini dulu ya . wkwkwkw . tunggu chapter selanjutnya .ini masih awal-awal jadi agak gak serem . jangan lupa bayangin kalo di cerita ini adalah kalian . hahaha .
