Part 19

892 42 5
                                        

Lucy in mulmed geng💕
~~~~~~~~~~

Bagaimana bisa gue menjauh dari lo jika kita selalu bersama? Mungkin ini awal dari bentuk penyesalan gue ke lo -Brandon

~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah bel sekolah telah di bunyikan, Lauren dengan buru-buru memasuki ruangan OSIS. Ia sudah telat sekitar satu jam lebih. seharusnya rapat OSIS di mulai satu jam sebelum bunyi bel tanda pulang sekolah. Namun, Lauren harus harus berhadapan dengan Bu Tia yang sangat menyebalkan.

Mengapa? Karena seorang guru bernama Bu Tia tidak akan pernah mengizinkan muridnya keluar sebelum mata pelajarannya habis.

Dengan tergesa-gesa, Lauren membuka pintu dan memasuki ruangan dan alhasil, tidak ada satu orang pun yang duduk di kursinya kecuali seorang ketua OSIS. Brandon langsung melihat ke arah perempuan yang baru saja masuk. Brandon tersenyum sinis memandang Lauren yang masih kebingungan.

"percuma lo datang," ucapnya seraya berdiri dari tempat duduknya.

"apa-apaan ini? Harusnya lo tau kalo rapat gak akan di mulai tanpa salah satu anggota, kecuali ada halangan!" Balas Lauren tidak terima.

Brandon mendekati Lauren sambil tersenyum. "Ren, lo telat satu jam dan rapat di mulai satu jam sebelum bunyi bel. Harusnya lo tau itu. Dan gak mungkin gue ngebiarin mereka nunggu satu jam dengan lo yang gak ada kepastian." Jelas Brandon.

Lauren mengernyit tidak senang. "oke, gue tau tanpa lo kasih tau juga! Tapi gue gak bisa keluar dengan pelajaran Bu Tia yang jelas-jelas gak akan membiarkan muridnya keluar sebelum mata pelajaran dia habis."

Brandon tersenyum mendengar penjelasan dari Lauren "Ya gue emang ga tau. Apa lo gak mau berusaha buat kabarin gue? Lo jelas punya HP, dan artinya lo bisa kan chat gue? Supaya gue tau dan bisa nunda rapat sampe lo selesai."

Brandon menatap Lauren. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Bahkan gue juga udah chat lo, kenapa gak lo buka line gue? Gue yakin lo tau gue chat lo, dan notif dari gue pasti muncul. Apa sesusah itu Ren?"

Lauren diam tak bersuara. Ia bodoh, seharusnya ia tidak membiarkan chat dari Brandon tadi. Seharusnya ia tau bahwa ini adalah urusan rapat, bukan ke hal-hal yang sudah terjadi.

Memang, Lauren sangat berusaha untuk menghidar dari Brandon setelah kejadian waktu itu, namun bagaimanapun ia juga salah. Tidak mungkin dengan kejadian itu, ia sampai melupakan tugas nya sebagai wakil ketua OSIS yang artinya selalu berhubungan dengan sang ketua.

Bagaimana bisa ia menghindar dari Brandon jika dirinya dan Brandon sering di pertemukan? Mengingat ia adalah seseorang yang sangat erat dengan ketua OSIS.

Lauren masih diam, ia tidak tau harus menjawab apa. Sampai akhirnya seseorang masuk setelah mengetuk pintu. Khanza, ya dia masuk dengan santai sambil memandang Lauren dan Brandon yang sama-sama diam.

Khanza berdehem, ia kemudian membuka suaranya. "sorry ganggu. Ren, lo di cari sama Fadlan, katanya sih lumayan penting."

Lauren mengangguk. kemudian ia memandang Brandon dengan tajam sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Lalu di ikuti dengan Khanza yang hendak pergi, namun usahanya di cegat oleh Brandon.

"Za, bisa kita bicara sebentar?"

Khanza tersenyum sinis. Ia sudah tau tentang kejadian dimana Brandon meninggalkan Lauren dan memanfaatkan Lauren saja. "masih berharap gue mau ngomong sama lo? Aduh tolong ya, waktu gue bukan buat ngurusin lo aja. Dan jangan harap gue mau ngomong lagi sama lo kak, setelah kejadian dimana lo nyakitin temen gue."

SEGALANYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang