Chapter 30

35.2K 2.9K 108
                                        

Jungkook menghela napas beratnya, setelah acara perayaan ulang tahun Taehyung tadi sore kini ia baru merasakan betapa lelah dirinya karna harus melakukan ini itu agar kejutan yang dibuat Saeron berjalan lancar. Jungkook memasuki kamarnya sembari memegangi pinggangnya yang sedikit terasa nyeri, mungkin efek orang hamil--pikirnya.

Tak lama kemudian Jungkook dikejutkan dengan adanya sepasang lengan yang melingkar diperutnya, Taehyung tersenyum melihat Jungkook lalu mengecup pipi chubby itu sekilas lalu menggesek-gesekkan hidungnya di pipi Jungkook lantaran gemas, membuat kelinci manisnya sedikit terkekeh karna geli. Jungkook mencubit lengan Taehyung, erangan kesakitan terlontar jelas dari namja itu.

"Yak!! Kenapa kau mencubitku?!" Protes Taehyung, tapi tidak membuatnya melepaskan back hug nya pada Jungkook.

"Itu geli hyung." Taehyung mendesis mendengar jawaban Jungkook, tapi tak lama setelah nya, Taehyung segera membalik tubuh Jungkook agar menghadap padanya, membuat Jungkook terlonjak kaget dan refleks kedua tangannya memegang kedua pundak Taehyung.

Hidung mereka bersentuhan, Jungkook bisa merasakan deru napas Taehyung diwajahnya begitu pula sebaliknya, keduanya  saling melempar senyuman dan terkadang tertawa geli saat saling beradu pandang--persis seperti saat orang yang baru pertama kali kasmaran. Taehyung mengecup bibir Jungkook, hanya menempel tak lebih, sekedar untuk mengisyaratkan betapa senang dirinya hari ini karna diberi hadiah terbaik oleh Jungkook--karna kehamilannya. Taehyung melepaskan ciumannya lalu menatap Jungkook dalam tepat dikedua mata doe itu.

"Terimakasih.. aku sangat beruntung memiliki mu, dan jangan tinggalkan aku lagi. Aku tak bisa hidup tanpa kau, Kook. Aku sangat mencintai mu." Jungkook tersenyum hangat mendengar penuturan Taehyung yang terlihat jujur padanya, lantas ia mengecup bibir itu, melakukan persis seperti yang Taehyung lakukan tadi padanya.

"Aku juga mencintaimu hyung, sangat mencintaimu."

"Kook... kau manis sekali." Jungkook tertawa mendengar perkataan Taehyung, gombalan macam apa itu? Itu terlalu biasa untuk orang seperti Jungkook. Benarkan?

"Hahaha... hyung, aku geli mendengar orang seperti mu mengatakan hal itu, sebaiknya jangan katakan lagi. Meski wajahmu itu, wajah orang mesum. Tapi kau tidak pantas untuk menebar keju." Taehyung merengut tak suka, ia sudah berusaha bersikap manis tapi respon yang ia dapatkan hanya seperti itu. Benar-benar sangat tak beruntung untuk dirinya.

"Aiishh.. kau ini!! Pura-puralah senang akan pujianku, setidaknya beri aku kecupan atau apalah itu.. hhiiiss.. kau ini sangat tidak pe----"

Cup

"Sudahkan. Jadi jangan mengomel lagi." Taehyung tersenyum geli, lalu namja itu menurunkan badannya agar sejajar dengan perut Jungkook yang masih rata itu. Mengelusnya sedikit dan menciumnya sekilas.

"Baby.. lihatlah eomma mu, dia pandai sekali menggoda appa. Jika saja appa tidak ingat dengan mu, mungkin appa sudah menerkamnya diatas ranjang." Jungkook tertawa mendengarnya, Taehyung terlalu bersemangat untuk menjadi seorang ayah rupanya.

"Astaga hyung.. jangan tularkan penyakit mesum mu pada anakku, lagipula mana mungkin dia bisa mendengar nya, dia masih segumpal daging, mungkin."

"Tak apa!! Aku ingin dia tahu jika appa nya ini begitu perhatian padanya, dan kali ini aku tak kan biarkan yang satu ini pergi lagi." Perkataan Taehyung barusan seketika membuat Jungkook tersenyum pahit, hatinya mendadak nyeri. Dan dari perkataan Taehyung tadi kini ia baru menyadari betapa besarnya keinginan Taehyung menjadi seorang ayah, tapi lagi-lagi Jungkook menghapus harapan besar itu begitu saja, meski Taehyung terlihat tegar saat menenangkan Jungkook kala dirinya terguncang karna keguguran untuk yang kedua kalinya, Taehyung tetaplah manusia yang mempunyai satu sisi yang begitu rapuh. Dan kali ini Jungkook janji akan mempertahankan bayi mereka, tak kan ia biarkan satu nyawa didalam tubuhnya pergi lagi begitu saja.

Jungkook mengusap lembut kepala Taehyung, namja itu mendongak untuk menatap Jungkook, dan mendapati tatapan sedih dari si manisnya, lantas hal itu membuat Taehyung berdiri dan segera memeluk Jungkook erat, tangis Jungkook pecah, didalam hatinya masih saja ada denyutan lara yang timbul begitu saja saat bayang-bayang itu kembali muncul dan kini rasa takut sedikit menggerogoti hatinya itu. Ia takut kejadian yang lalu terulang untuk yang ketiga kalinya.

"Hiks.. hyuungg.. a-aku ttakut.. hiks.. bagaimana jika nanti.. hiks aku keg---"

"Sssttt.. jangan katakan itu. Karna itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku janji akan menjaga kalian berdua." Taehyung mengusap punggung Jungkook pelan, membiarkan kelinci manisnya melampiaskan rasa khawatir yang ada dihatinya dan mengganti nya dengan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Tenanglah... hyung selalu ada bersamamu." Jungkook mempererat pelukannya pada Taehyung, semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang namja itu. Beberapa kali Taehyung melontarkan kalimat penenang untuk Jungkook agar tangisnya mereda dan sesekali ia mengecup pucuk kepala namja manisnya itu.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan sedih.

'Kuharap kalian akan bahagia... oppa.. alien.. rencanaku sudah selesai, jadi aku harus kembali.. sebelum appa mengirim orang-orang nya untuk menyeretku lagi.. selamat tinggal.'

* * *

Saeron menarik kopernya keluar dari mansion Taehyung, ia memandang jengkel kearah para bodyguard ayahnya yang sudah datang menjemputnya kali ini. Ayahnya itu.. apa tak bisakah ayahnya percaya sedikit saja padanya? Ohh.. hayolah, dia bukan anak kecil yang harus dilindungi lagi dan lagi, dia sudah dewasa tapi ayahnya selalu saja memperlakukannya seperti anak kecil yang tak tahu jalan pulang.

"Mari nona. Penerbangannya tiga puluh menit lagi." Saeron berdecak, ia sedikit menoleh kearah mansion Taehyung, sedih rasanya harus pergi tanpa berpamitan pada Jungkook dan Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi, kedua orang itu sedang tidak bisa di ganggu. Saeron tersenyum tipis lalu menghembuskan napas beratnya.

"Terlalu banyak kenangan itu sangat menyulitkan saat situasi seperti ini... oppa, alien. Aku akan sangat merindukan kalian. Maaf karna aku begitu merepotkan. Sampai jumpa lagi, undang aku saat kalian akan menikah." Monolog Saeron, dan untuk yang kesekian kalinya ia harus menghembuskan napas beratnya. Lalu kembali menatap pada bodyguard ayahnya itu.

"Bawakan koperku!!" Suruh Saeron, dan salah satu bodyguard itu menurut, mengambil koper besar itu dan menaruhnya dibagasi, sedangkan dirinya langsung berjalan kearah belakang mobil dan duduk dengan tenang sembari memainkan ponselnya, ia sedikit tersenyum saat melihat beberapa foto yang ia ambil saat merayakan ulang tahun Taehyung tadi. Tanpa sadar setetes air matanya jatuh, tapi dengan cepat Saeron menghapusnya.

"Haaahh.. padahal aku belum berpamitan dengan baby Kim, Mingyu juga. Uugghh.. jika saja appa tak tahu aku ada dimansion Taehyung, mungkin aku masih bisa menjahili alien itu lagi. Tapi setidaknya aku sudah mendapat apa yang aku inginkan."

Saeron tersenyum lebar memandangi foto dirinya bersama Jungkook dan Taehyung, yahh.. setidaknya hal itu membuat nya bahagia. Ia senang karna mengalami hal baru--lagi, saat ia datang kembali ke Seoul. Menerima semua pelajaran yang Jungkook ajarkan padanya agar dia bisa sopan sebagai seorang yeoja dan tidak bersikap semaunya sendiri. Dan mungkin dari sekarang ia bisa sedikit berlaku sopan pada seseorang berkat Jungkook.

'Oppa, alien, Mingyu, Jimin. Maaf karna aku merepotkan kalian.'

.
.
.
.
.
.

Tbc.

Mr. KimTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang