Begitu sampai di titik kumpul, Tama menyerahkan Adam kepada Ayahnya.
"Maaf ya mas Tama, ngerepotin." Ucap Ayahnya Adam.
"Gak apa-apa, Pak." Jawabnya tersenyum manis.
Gue menghampiri Ibunya Adam yang lagi sibuk sama si kembar. "Bu.. ini tadi Adam gak beli apa-apa jadi uangnya masih utuh." Gue menyerahkan uang itu kembali.
"Oh iya makasih, Mba Hani." Ibu itu menerimanya dengan senyum. "Kok bisa digendong Mas Tama ya?"
Ya masa gue yang gendong?
"Iya tadi ketemu di jalan. Adam diajak main sama Mas Tama terus ngantuk. Kecapekan mungkin, Bu." Jawab gue jujur.
"Makasih Mba Hani."
Gue mengangguk lalu beralih menghampiri Tama yang lagi sibuk sama ponsel.
"Berapa?" Tanya gue pelan.
"Apanya?" Dia balik nanya.
Gue beneran berharap dia lupa. Tapi kalau gue ingat lagi tadi mukanya Adam yang bahagia banget, gue kayaknya perlu berterima kasih deh.
"Additional fee. Tadi kamu juga beliin Adam burger. Totalnya jadi berapa?" Tanya gue lagi.
"Kamu beneran mau bayar?" Tanya Tama balik.
Begitu aja terus sampe lebaran monyet!
"Iyalah!" Sahut gue.
"Kalau gitu saya gak mau terima dalam bentuk uang." Katanya membuat gue kebingungan.
"Hah?"
"Besok jalan-jalan sama saya mau gak?"
Jalan-jalan? Maksudnya apa nih?
"Kan besok free day?" Gue mengingatkan kalau-kalau dia lupa.
"Justru itu. Besok saya free." Katanya tersenyum. Sebenernya kalimat dia ini gak menjawab pertanyaan gue.
Gue bergeming. Paling lemot otak gue masalah ginian mah. Jangan bilang kalau dia baper lagi setelah semalam gue peperin ingus di dadanya? Anjir lah ingetnya aja bikin gue pengen muntah. Sangking malunya!
Terus Tama ninggalin gue gitu aja untuk memberikan briefing kepada rombongan mengenai tempat wisata selanjutnya. Kebiasaan!
***
"Shibuya terkenal dengan crossing street teramai di dunia. Nanti kita akan ikut merasakan bagaimana menyebrang disana. Saya himbau bagi yang membawa anak-anak agar tetap mengawasi anaknya. Kita akan keluar stasiun lewat Hachiko Exit. Tujuan pertama adalah patung Anjing Hachiko."
Kami semua bergerak menuju patung Hachiko yang terkenal dengan loyalitasnya terhadap tuannya.
Vivi sama Rama meminta gue untuk memotret mereka. Selalu deh!
"Aku sendiri dulu dong." Sela Vivi saat Rama mau gabung ikutan foto di sisi sebelah. Rama awalnya protes tapi abis itu dia nurut.
Gue memotret dia dengan berbagai gaya. Tapi Vivi gak mau udahan, makin keasyikan.
"Udah bego! Antri!" Kata gue mengingatkan.
"Sini lo gue fotoin buruan!" Ucapnya pada gue.
Yaudah gue masuk dong, biarin aja norak. Gue gaya deh tuh, tapi baru sekali difoto udah diinterupsi.
"Mas Tama masuk, Mas! Foto berdua!" Ini suaranya Rama nih. Ngeselin abis dah.
"Eh apaan?!" Gue memelototi Rama dan Vivi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOKYO, The Unexpected Guy
ChickLitSebagai seorang backpacker, Hani sudah tidak asing lagi dengan yang namanya liburan. Gadis itu berharap di tengah hiruk-pikuknya kota Tokyo dia dapat menyelesaikan misi rahasianya . Tapi justru saat liburannya ke Jepang, dia menemukan perbedaan dari...
