Bukan gak sengaja gue pilih paket tur kelas ekonomi begini. Kalau boleh milih, jelas gue akan memilih untuk backpacker-an aja dari pada ikut tur. Backpacker memang lebih ribet tapi lebih bebas. Lo gak perlu merasakan diuber-uber waktu pas lagi belanja karena rombongan udah pada nunggu, lo mau bangun jam berapapun, mau balik ke hotel kapanpun, bebas, mau makan apa aja terserah lo. Gak kayak tur gini apa-apa serba diatur. Buat gue yang susah menyesuaikan diri dengan orang lain tuh challenging banget, cuuuy!
Masalahnya lagi, cuti gue cuma di approve untuk seminggu! Dan gue pikir sayang sih kalau gue pilih kelas premium tapi cuma sebentar doang jalan-jalannya. Rugi! Jadi, apalah daya gue memang harus milih yang ekonomis.
Udah gitu ya, ini dua tuyul di sebelah pake pre-honeymoon gini, coba?! Gagal total sudah planning gue untuk travel like a king!
Akibatnya gini, pinggang gue pegel banget. Economy Syndrome. Belum lagi yang makin bikin gondok pegel hati, dua sejoli kebelet kawin di sebelah gue ini malah mesra-mesraan kayak gak peduli orang lain. Gue dianggap apa woi! Vivi mah gak akan pegel karena ada yang disenderin, paling sampe Jepang pundaknya Rama miring sebelah, liat aja!
Ketika ada pramugari yang nawarin makan, adik gue belum bangun juga.
"Bangun, Vi! Makan." Gue senggol lengannya pakai sikut.
"Excuse me, what do you want for dinner? We have Beef Steak, Spaghetti, Omurice- "
"Beef Steak, please..." Jawab gue sebelum pramugari itu menyelesaikan kalimatnya.
"And for drink, we have orange juice, kiwi juice, mix, and wine..." ucap pramugari itu dengan Bahasa Inggris yang sulit gue pahami.
"Mix and wine, please."
"Kak lo mau nge-wine? Nyesel lo besok! Kan mau jalan-jalan malah minum." Ucap Vivi yang baru aja bangun terkejut, gak tau kenapa dia takut banget kalau gue mabok. Rama yang baru bangun juga kayaknya kaget gitu liat gue pesan wine.
Gue lihat botol wine kecil ditangan gue, kadar alkoholnya dua belas koma lima persen dimana itu jauh banget dari wine yang biasa gue 'mimik' di Jakarta. Yah gue mah anak piyik, cuma sok-sok-an doang nyobain minuman haram ini demi social life. Hehehe.
"Gak doyan gue. Buat temen ini." Jawab gue setengah jujur. Memang nantinya kalau gue bisa bertemu si brengsek di Jepang nanti mau gue kasih ke dia.
Setelah kami menghabiskan makan malam, Vivi dan Rama lanjut molor, lampu pesawat sudah mulai diredupkan. Gue melihat sekeliling, orang-orang yang gue kenal sebagai anggota tur ini juga sudah mulai terlelap. Hanya gue yang masih bisa melek. Gue putuskan untuk nonton film.
Film dengan alur cerita yang mudah sekali ditebak. Kisahnya tentang cowok peranakan Indo-Jepang yang jatuh cinta dengan gadis Indonesia. Yang begini pasti bahagia deh akhirnya, ketebak banget. Tapi gak tau kenapa gue tetep lanjutin nonton itu film. Gue kayak mengharapkan yang terjadi di film itu akan terjadi juga di kehidupan gue. Lucu gak sih, naif banget lo, Han! Sadar!
Gue mengambil ponsel lalu membaca sisa pesan yang belum sempat gue buka dari teman-teman kantor.
Fera : Pokoknya han kalau ketemuuu langsung aja lu hantem kepalanya
Hantem kepalanya gigi lo benjol!
Dirga : Sakit otak lo ya fer! Omongin baik2 aja han. Dia pasti punya alasan.
Ini lagi sok bijak!
Gita : Iya haniii. Omongin baik baik dulu. Btw safe flight ya sayang :*
Gue kembali memikirkan alasan utama gue mengunjungi negaranya Nobitha. Hal pertama apa yang akan gue lakukan ketika bertemu si brengsek? Haruskah gue melakukan saran dari Fera? Gue terkekeh sebentar. Maaf ya gue tuh emang kasar banget kalau udah menyangkut masalah itu.
"Tau ah." Ucap gue pelan pada diri sendiri lalu melanjutkan tontonan yang tadi.
Gak kerasa gue sudah nonton sebanyak 3 film. Gue skip sih bagian yang gak serunya. Terus lampu pesawat kembali dinyalakan, gue dengar pengumuman bahwa kurang lebih satu setengah jam lagi kita akan mendarat di Narita. Gue buka jendela di sebelah kiri, langit udah mulai biru,di sebelah kanan matahari sudah siap menyapa kami. Cantiiiiik banget.
Mbak pramugari tadi kembali menghampiri bangku gue untuk memberikan Embarkation Card. Gue mencoba bangunin Vivi yang posisi tidurnya udah gak karuan lagi.
"Dek, bangun! Ram, bangun woi!" Mereka diam.
"Udah mau landing nih." Gue masih gak dapat tanggapan.
"Gue foto nih ya kalian tidur pelukan gini, terus gue kasih tau ke Ayah!"
Akhirnya mereka bangun. Gue ketawa ngeliat mereka yang kayak panik gitu. Vivi masih setengah sadar sambil elap iler, kalau Rama lagi mencoba membaca Embarkation Card tadi dengan mata yang gue rasa masih banyak kunang-kunangnya.
"Nih paspor gue! Isiin sekalian punya gue yah, gue mau merem bentaran!" Perintah gue. Enak kan jadi anak sulung?
"Nyuruh-nyuruh mulu lo ah!" Protes Vivi yang gak gue hiraukan. Biar kesal tetap dia kerjakan. Lagian emang itu kan fungsinya mereka ngikutin gue? Hahaha.
Gue nyender dengan bangku yang udah gue atur ke posisi semula plus sabuk pengaman terpasang, supaya nanti si mbak pramugari gak perlu bangunin gue ketika mau landing.
Gue hanya merem dengan bantuan penutup mata yang disediakan pihak maskapai. Kemudian bayangan ketika si brengsek ninggalin gue kembali datang. Lalu terbesit pikiran tentang apa yang harus gue lakuin ketika gue bertemu si brengsek nanti.
Gue menghela napas berat.
"Ya... kalau dipikir-pikir sarannya Fera gak buruk-buruk amat sih. Hantem kepala dulu atau anunya dulu ya?" Bisik gue pada diri sendiri.
"Hah? Kenapa, kak?" Tanya Vivi yang ternyata bisa denger ucapan gue barusan
"Gak apa-apa."
"Lo ngigo?! Siapa yang brengsek?" Lanjutnya kepo.
Gue membuka penutup mata lalu menghadap dia, "Mantan." Ucap gue miris.
Note :
Terima kasih sudah membaca ^,^
11 Februari 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
TOKYO, The Unexpected Guy
Genç Kız EdebiyatıSebagai seorang backpacker, Hani sudah tidak asing lagi dengan yang namanya liburan. Gadis itu berharap di tengah hiruk-pikuknya kota Tokyo dia dapat menyelesaikan misi rahasianya . Tapi justru saat liburannya ke Jepang, dia menemukan perbedaan dari...
