Untuk yang masih mau baca dan sudah mau menuggu, terima kasih banyak. Silahkan dibaca cerita abal-abal ini.
Untuk yang niat mau komentar jahad karena aku kelamaan update, yaudah lah itu resiko hidup di dunia maya gini kan. Ibu jari lebih kejam daripada ibukota! Tapi daripada buang-buang tenaga, mendingan kalian minggir. Toh aku kan nggak pernah maksa kalian baca cerita abal-abalku ini.
This chapter gonna be the most longest part ever! Silahkan cari posisi senyaman mungkin❤️
Langkah gue menuju mobil yang terparkir di halaman depan sana gak tau kenapa jadi makin melambat. Nggak munafik sih. Selain berharap Tama lagi lari dari dapur dan berupaya mencegah kepergian gue, setelah gue pikir lagi sebenernya ada penyesalan yang sangat besar di dalam hati gue sudah memperlakukan Tama sampai segitunya. Gue sadar gue gak bisa menyalahkan Tama sepenuhnya karena memang gue yang selalu menghindar dari dia.
Bersamaan dengan gue memasuki mobil, saat itu juga gak tau kenapa bayangan akan kenangan indah gue sama Bayu perlahan bermunculan. Diikuti dengan munculnya bayangan wajah sumringah Ayah dan Ibu ketika tau gue mulai deket sama cowok lain. Gak ketinggalan petuah Uti yang sangat penuh harapan supaya gue bisa segera mengikuti jejak adik gue. Gue juga tiba-tiba teringat sama air matanya Vivi disaat dia bilang kalau dia rela mengorbankan pernikahannya waktu kami berdua nangis di kamar hotel.
Sekarang harapan semua orang pupus dan gue bakal mengecewakan mereka semua lagi sepertinya.
Sambil memegang kunci, tangan gue yang agak gemetaran ini terulur untuk menyalakan mesin mobil. Sulit. Gue gak berhasil menemukan lubang kunci itu. Tangan gue semakin lemas gak bertenaga dan akhirnya kunci itu terlepas dari tangan gue dilanjut dengan helaan nafas berat yang sarat akan kefrustasian. Kemudian gue menumpukan kening di atas stir.
Kalau aja gue masih sama Bayu. Mungkin gue gak akan dilangkahin.
Kalau aja gue masih sama Bayu. Gue gak perlu nyamperin dia ke Jepang.
Kalau aja gue masih sama Bayu. Gue gak perlu kenal sama Tama.
Sementara gue masih sibuk dengan pikiran-pikiran kacau ini, tiba-tiba pintu di sisi sebelah kiri mobil terbuka. Tama masuk dan duduk di samping gue. Kepala gue langsung terangkat dan duduk tegak.
"Ngapain?" Tanya gue. Please, lo dateng kesini untuk memperbaiki semuanya, please. Tapi kalau niat lobcuma mau menyerah sama gue mending gak usah nyamperin deh karena gue belum sanggup. Ralat, gak akan pernah sanggup.
"Kenapa belum pergi?"
Bahu gue turun lagi abis denger itu. Jadi dia memang niat ngusir. Gue kembali meletakkan kepala di atas stir tapi menghadap sisi yang lain supaya gue gak perlu lihat manusia ini. Gue males jawab pertanyaannya.
"Hani. Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja. Nggak usah putus asa. Cukup aku aja, kamu nggak perlu. Pulang naik taksi gih, jangan nyetir kalau kamu capek! Mobil kamu biar adik aku yang antar ke rumah nanti malam."
Gue menggeleng. "Nggak usah."
"Kamu nangis?" Lanjutnya.
"Enggak." Buat apa nangis coba?
"Kamu marah?"
"Enggaaaaak." Masih berhak kah gue untuk marah?
"Kamu nunggu aku kejar?"
"Enggak, enggak! Nggak perlu ditanya."
Tama mengangkat kepala gue dan memaksa wajah gue supaya berhadapan dengan dia. Matanya merah. Habis nangis juga kah?
KAMU SEDANG MEMBACA
TOKYO, The Unexpected Guy
ChickLitSebagai seorang backpacker, Hani sudah tidak asing lagi dengan yang namanya liburan. Gadis itu berharap di tengah hiruk-pikuknya kota Tokyo dia dapat menyelesaikan misi rahasianya . Tapi justru saat liburannya ke Jepang, dia menemukan perbedaan dari...
