16. Akihabara

24.5K 3.2K 29
                                        

Untuk ukuran kota yang sibuk seperti Tokyo, foto di atas menunjukkan jalanan di Akihabara kalau udah malam tuh sepi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untuk ukuran kota yang sibuk seperti Tokyo, foto di atas menunjukkan jalanan di Akihabara kalau udah malam tuh sepi. Tokonya banyak yang sudah tutup. -Gwen-

Mengunjungi Akihabara selepas makan malam adalah keputusan terburuk yang dibuat Tama. Karena toko-toko di sepanjang jalan hampir semuanya tutup, cuy! Dia tuh pengalaman gak sih sebenernya? Apa dia sering dapat rate jelek ya, makanya perusahaan kirim dia ke kelas ekonomi gini bukannya premium?

Gue mulai kedinginan lagi. Agak susah nyari vending machine kopi disini. Iya lah, isinya cuma toko anime doang sepanjang jalan kenangan sejauh mata memandang. Udah gitu banyak yang tutup pula!

Rama sama Tama lagi sibuk gak tau nyari apaan. Rombongan gue yang bawa anak hanya duduk-duduk, mungkin mereka kecapekan. Gue sama Vivi foto-foto, dong. Sambil jalan-jalan menyusuri jalan di Akihabara yang nyaman banget buat jalan kaki.

Kalau ada toko yang masih buka gue masuk sambil lihat-lihat siapa tahu ada yang bisa gue beli buat Bayu. Tenang-tenang, itu hanya merupakan wujud syukur gue yang udah buat keputusan besar untuk gak bertahan lagi disisinya. Tapi nihil. Gue gak menemukan sesuatu yang kiranya Bayu suka.

"Kak ini group AKB48 bukan sih?" Tanya Vivi sambil menunjuk suatu layar yang sedang menayangkan video musik.

"Kayaknya sih iya. Abis banyakan gitu anggotanya." Jawab gue. Gue gak ngerti apa-apa tentang ginian.

Gue pamit sama Vivi mau nyari kopi.

"Gue juga dong, cokelat panas kalau ada." Pesannya. Kebiasaan buruk emang.

Setelah mengiyakan pesanannya Vivi gue berjalan mencari warung kopi-eh lu kata ini di Jakarta ada warkop, Han! Maksudnya nyari kopi, terserah mau itu dari mesin atau warung kopi kalau ada mah.

Gue nyari minimarket tapi gak ketemu. Atau udah tutup? Atau gue yang gak paham kalau ada minimarket yang masih buka terus gue lewatkan begitu aja? Ah gak tau lah.

Gue tetap berjalan jalan menyusuri kawasan toko-toko yang sebagian kecil masih buka ini. Udah lumayan jauh dari toko tempat gue sama Vivi tadi berhenti. Sampai akhirnya gue sumringah banget lihat ada Seven Eleven di seberang jalan tapi beda blok dari tempat gue berdiri. Artinya gue harus nyebrang dua kali.

"Jepang aman kan buat nyebrang?" Ucap gue pada diri sendiri sebagai bentuk upaya mengusir ketakutan gue.

Singkat cerita, gue beli lah itu kopi dan cokelat panas buat Vivi. Gue sempet-sempetin liat majalah bokep yang tersedia gratis disini. Yang buat cowok ada, yang buat cewek juga ada. Lengkap pokoknya mah! Gila gila gila, makmur nih kalau orang kayak Dirga atau Fera tinggal di Jepang. Konsumsi ginian tiap hari, gratis pula!

Setelah keluar dari Sevel, gue jalan dengan perasaan senang udah dapat kopi dan bisa lihat sesuatu yang aduhay, hahaha. Gue jalan ngikutin toko anime pokoknya.Seru aja gitu kan keliatan Jepang banget. Gue jalan sambil instastory dong, cuy! Biar kekinian.

TOKYO, The Unexpected GuyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang