9. Lonceng Doraemon

29.5K 3.5K 159
                                        



"Yak. Kita sudah memasuki wilayah kaki gunung Fuji. Bisa teman-teman lihat di kanan-kiri ada hutan yang sangat terkenal di Jepang. Kenapa bisa terkenal? Hutan ini dipercaya sebagai hutan paling angker yang dipenuhi hantu. Sampai saat ini hutan di kaki Gunung Fuji masih sering digunakan untuk bunuh diri. Nah kalau teman-teman bisa baca plang-plang yang tergantung disana itu artinya pengumuman untuk mencegah terjadinya bunuh diri."

Gue menoleh ke kanan liatin pohon-pohon tinggi itu. Merinding anjir.

Mas Tama kembali menceritakan sejarah dari gunung Fuji ini. Dalam hati gue bertanya-tanya, apa dia punya kepribadian ganda ya? Kalau lagi bertugas, mulutnya lancar aja tuh. Tapi kok pas berdua sama gue dia jadi rada-rada freak?

  "Kenapa banyak orang Jepang yang bunuh diri? Menurut riset, tingkat kebahagiaan masyarakat itu sangat rendah. Serba buru-buru, harus sempurna, standar kehidupan yang sangat tinggi itu menjadi pemicunya. Dulu cara bunuh diri yang menjadi tren itu dengan harakiri, kalau sekarang supaya gak merasakan sakit terlalu lama biasanya mereka menabrakkan diri ke Shinkansen. Wuuuss, langsung game over!"  

Iya sih dia ganteng, dan memang jauh lebih ganteng dari si brengsek. Menurut gue lho yah! Terus kalau senyum pipinya bolong, makin manis kan. Kalau dia banyak bicara yang gak penting memang pesonanya agak turun, tapi pas dia lagi bicara serius atau diam-diam sok cool gitu tuh... gak ada yang ngalahin, cuuuy. Serius deh.

Kayak yang sekarang ini, dia lagi menjelaskan berbagai hal mengenai gunung Fuji pada rombongan, dan gue udah gak bisa fokus sama sekali. Bener-bener gue kayak liat malaikat yang tampannya kelewatan gini. Cuma bisa merhatiin gerak-gerik mas Tama yang gak tau kenapa bikin gue merinding disko. Lalu dia menoleh ke arah gue dan tersenyum sangaaaat manis. Cuuy, gak kuat, tolong!

"Mba Anggrahani, bisa dengar gak suaranya?" Tanyanya mengagetkan gue dari lamunan.

"Hah?!"

Anjir anjir anjir! Gue sepertinya udah kegap lagi ngelamun merhatiin dia. Duuuuh malu, cuy! Harga diri gue mau dibawa kemanaaaa abis ini?

Dia terkekeh manis, "Bisa dengar nada lagu, gak?"

"Enggak?" Gue balik tanya dia.

Nada lagu apaan sih? Emangnya ada yang nyalain musik di bus ini? Gak ada tuh. Apa gue emang menderita budeg sejak menapakkan kaki di Jepang? Ih amit-amit jangan sampe.

"Hani lagi gak fokus, ya? Mikirin apa sih?" Sela mba Salma.

Gue pun hanya bisa senyum bego.

"Oke.. jadi saat ini kita sedang melewati singing road. Suara yang terdengar ini berasal dari aspal yang dibuat bergelombang sehingga menimbulkan sebuah partitur lagu tentang Fuji." Lanjut Mas Tama khas suaranya yang bikin tenang kalau lagi berdiri di depan gitu.

Gue udah gak peduli sama nada-nada apalah yang dia sebut-sebut itu. Gue yakin nada aspal masih kalah jauh sama nada suaranya yang bikin dada gue cenat-cenut. Hahaha.

Kemudian Mas Tama duduk di samping gue lagi. Gue sibuk mengumpat dalam hati. Haduh kapan sampe sih? Dia bisa dengar suara jantung kelojotan gue gak ya? Najis ih kok gue lebay gini sih? Ah gue pura-pura tidur aja lah.

"Gak perlu pura-pura tidur. Bentar lagi sampe." Katanya ngeledek. Sialaaaan.

*

Begitu turun dari bus gue langsung bicara dengan supirnya untuk minta tolong dibukakan pintu bagasi. Hujan masih turun walau hanya gerimis rintik, tapi suhu sudah mencapai minus satu derajat celcius. Gue mau ambil coat yang ada di dalam koper. Tapi lagi-lagi gue gagal paham. Pak supir ini sepertinya gak mengerti maksud gue, padahal gue udah nunjuk-nunjuk pintu bagasinya. Sampe hampir jerit-jeritan, "Open!". Dia malah komat-kamit.

"Kenapa?" Mas Tama menghampiri kami.

"Saya mau ambil jaket." Kata gue ketus.

"Kamu jangan teriak-teriak, dong. Gak sopan." Katanya menenangkan.

"Saya kedinginan, mas!" Jawab gue kesal.

Dia menghadap ke supir itu dan bicara dengan bahasa Jepang sambil membungkuk berkali-kali. Seperti meminta maaf. Lalu Pak supir itu pun berjalan melewati gue lalu membuka pintu bagasinya.

"Yang mana koper kamu?"

"Yang paling gede warna item!" Bentak gue. Sumpah gue emang udah emosi. Pertama karena kedinginan. Kedua kedinginan. Ketiga dingin!

Setelah koper gue dikeluarkan, dengan kecepatan kilat gue menyambar coat dan langsung mengenakannya ke badan gue. Sementara mas Tama kembali membereskan koper-koper itu, gue menghadap pak supir tadi dan membungkuk sembilan puluh derajat kayak sudut siku-siku.

"Arigatou gozaimasu." Ucap gue berkali-kali.

Pak sopir itu ikut membungkuk dan tersenyum, "Hai.. hai."

Gue kembali ke mas Tama yang kayaknya udah selesai soalnya dia malah petantang petenteng senyam senyum ngeliatin gue berbahasa Jepang yang singkat tadi.

"Pinjam payung lagi dong, mas?" Gue mengadahkan tangan kanan untuk menerima payung itu.

Tapiiiii... yang gue terima adalah... tangan Mas Tama yang menggenggam tangan gue lalu sambil sedikit berlari menarik gue ke salah satu toko oleh-oleh yang letaknya lumayan jauh dari tempat parkir bus tadi. Ini sayang aja gue lagi di Jepang ya, kalau di India udah dikira syuting film!

Selama adegan gandengan lari-larian yang sialnya gak gue tolak itu, gue gak bicara apa-apa. Hanya sibuk menikmati hangatnya telapak tangan dia dan memikirkan maksud dari Mas Tama ini apa coba?!

Gue melihat sekeliling khawatir kalau-kalau duo curut melihat peristiwa ini. Bisa gak tidur semalaman gue diinterogasi Vivi kalau dia lihat.

Ada seseorang yang sedang mebagi-bagikan semacam karcis sambil bunyuiin lonceng klonteng-klonteng(?). Mas Tama mengajak gue untuk mendekat dan menerima karcis itu.

"Kamu juga ambil satu. Nanti bisa ditukar sama mochi disitu."

Masih dengan jantung yang udah gak karuan kerjanya, gue melakukan apa yang Mas Tama suruh. Lagi-lagi badan gue tremor. Dan kali ini bukan karena kedinginan, tapi karena Mas Tama mengalungkan tangannya ke pundak gue dan mengajak gue ke tempat penukaran karcis.

Bangsat nih cowok, berani-beraninya!

Gue berusaha melepas rangkulannya sekuat mungkin, tapi ditahan sama dia. Dia mengambil karcis yang ada ditangan gue tanpa meminta izin, main comot aja gitu, laku menyerahkannya ke ibu-ibu disitu. Terus dia ngomong pake bahasa Jepang lagi.

Ibu itu mengangguk dan tersenyum lebar sambil ketawa renyah lalu memberikan kami dua potong mochi dan juga dua gantungan kunci berbentuk lonceng kayak yang ada di leher doraemon namun ukurannya lebih kecil. Cantik banget!

"Arigatou gozaimasu..." Ucapnya ramah banget.

"Kalau datang dengan pasangan gak hanya dapat mochi, tapi kita juga akan dikasih lonceng. Disimpan ya loncengnya, supaya ingat saya terus." Katanya lagi sambil nyengir ganteng.

Gue memang masih jetlag, gue juga lagi kurang fit sehingga bisa menyebabkan masalah ditelinga, apa lagi gue sedang berada di dataran tinggi kan? Tapi yang barusan itu... gue yakin gue gak salah dengar. 

Note :

Sebenarnya mau nambahin multimedia foto-foto yang saya ambil di Jepang, tapi kualitasnya jelek banget. Gak pede hahaha. Terima kasih sudah membaca :)

TOKYO, The Unexpected GuyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang