Sebagai seorang backpacker, Hani sudah tidak asing lagi dengan yang namanya liburan. Gadis itu berharap di tengah hiruk-pikuknya kota Tokyo dia dapat menyelesaikan misi rahasianya . Tapi justru saat liburannya ke Jepang, dia menemukan perbedaan dari...
Hal pertama yang ada di bayangan gue ketika gue bertemu Sasa: dia bakal ngamuk, rambut gue dijambak, terus gue ditampar bolak-balik.
Tapi gue salah besar. Dia malah nangis dan meluk gue erat banget. Gue merinding takut awalnya, tapi setelah gak menemukan perubahan dari Sasa, gue merasa dia memang... apa ya? Butuh pelukan?
Sasa mengajak gue ke sebuah restauran sekalian makan siang. Dia bilang banyak yang ingin dibicarakan sama gue. Sebenernya gue udah nyuruh Tama pergi, tapi dia keukeuh mau nungguin gue disini walau meja kami jauh. Katanya supaya dia tetap bisa ngawasin gue. Dipikir gue binatang buas kali perlu diawasin?!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi Hani, saya minta maaf sudah bikin kamu ketakutan." Ucapnya memulai obrolan. Dia sudah agak tenang kali ini.
Gue diam. Dari tadi yang aktif bicara memang si Sasa sih.
"Saya gak sengaja lihat pesan yang kamu kirim ke Bayu."
Gue menelan ludah.
"Tenang... Saya gak marah kok, Hani. Saya sudah tau sejak awal kalian masih berhubungan."
Gue gemetar.
"Saya bisa mengerti. Saya sepenuhnya sadar. Bukan kamu yang rebut Bayu dari saya, tapi saya yang rebut dia dari kamu. Saya sadar, makanya saya mau minta maaf sama kamu."
Ini oksigen pada kemana sih? Susah banget mau nafas dari tadi.
"Bayu gak pernah anggap saya ada. Saya merasa kalau dia lagi bicara sama saya pikirannya tetap ke kamu." Keluhnya. Kelihatan banget kelelahan di wajahnya Sasa.
Brengsek banget Bayu!
"Dua minggu yang lalu dokter menyatakan saya hamil. Sebentar lagi Bayu akan jadi ayah dari anak ini." Dia berhenti sebentat mengambil nafas, "Saya gak mau Bayu dan kamu terus-terusan berhubungan. Apalagi kamu sampai nyusul dia kesini. Saya pikir setelah pindah ke Jepang saya bisa hidup tenang, ternyata masih belum. Semuanya sudah harus berubah, Hani. Dan saya gak mau anak saya juga ikut gak dianggap sama ayahnya."
Air mata gue jatuh lagi hari ini. Otak gue kayak gak mampu mencerna semuanya. Gue lihat Sasa juga ikutan nangis. Gue kayaknya mesti ganti judul cerita ini jadi Tokyo, Full of Tears.
"Sasa dengerin saya..." Kata gue dengan suara sengau. "Memang benar Bayu dan saya masih saling menghubungi. Mungkin kamu juga akan sulit percaya kalau kedatangan saya kesini bukan untuk nyusul dia atau apapun itu. Justru saya mau mengakhiri sampai disini. Saya mau menyadarkan dia kalau kita sudah berakhir."
Gue genggam tangannya yang ada di atas meja. "Saya sudah ikhlas ketika dia menikahi kamu."
Gue menatap dia menilai tanggapannya terhadap omongan gue, "Saya tahu kamu gak akan percaya begitu aja sama saya. Tapi saya mau omongin yang sebenarnya, nanti malam, saya dan Bayu memang janji untuk bertemu. Bayu anggap saya menemuinya untuk kelanjutan hubungan kami. Tapi saya sudah punya tekad ingin mengakhiri semuanya disini." Lanjut gue.