19. BBQ (Baper Baper Qlub)

24.8K 3.1K 55
                                        

Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi ketika naik eskalator di Jepang. Jangan bayangin eskalator disini bisa dinaikin dua sisi. Orang Jepang memberikan jalan pada kepentingan umum.

Jadi kalau naik eskalator berdirinya di sisi sebelah kiri. Yang kanan untuk prioritas orang yang lagi buru-buru gitu.

 Yang kanan untuk prioritas orang yang lagi buru-buru gitu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kalau kalian gak patuh bisa bisa kayak gue. Dibentak-bentak pake bahasa Jepang. Gue bukan gak patuh, cuma suka kelupaan aja. Biasa di Jakarta bebas dan slow moving, disini gue harus disiplin.

Tama menghampiri gue setelah dibentak orang Jepang itu. "Saya sudah berkali-kaki ngingetin. Berdirinya sebelah kiri."

"Iya iya, saya lupa maaf." Jawab gue.

Dia ketawa abis itu dia ngacak-ngacak rambut gue. Pelan sih tapi kayak nyetrum.

"Apaan tuh barusan?" Tanya gue sok gak terima.

"Kamu lucu sih." Ya elaaaah.

"Emangnya saya badut!" Sahut gue.

Dia malah ketawa dan narik pipi gue.
"Kamu kalau digodain kan langsung misuh-misuh gitu. Lucu jadi pengen ketawa."

"Aw sakit!"

"Apanya yang sakit?"

"Otak kamu tuh! Sakit jiwa!"

Dia gak tersinggung cuy! Asli! Malah cengengesan kagak jelas dah.

Kemudian dia mengusap pipi gue yang tadi dicubit sampe merah. "Maaf deh..."

"Berani banget sih? Bayu aja gak pernah gituin saya!"

"Berarti saya yang pertama dong?" Katanya sambil tersenyum.

"Mau banget dibilang pertama!" Kata gue kesal.

"Jadi kamu mau jadiin saya yang terakhir?"

Gue menghela nafas. Ladenin jangan nih? Gak ah laper gue! Tama juga kenapa deh? Kepalanya tadi kejedot apa sih? Kok makin gila aja lama-lama. Makin kesini makin berani modusannya.

Heran gue!

Menu makan malam hari ini adalah BBQ. Restaurannya masih di daerah Shibuya, di dalam sebuah mal? Tapi bukan mal sih kayaknya. Ya intinya mah restoran aja!

Kayak udah jadi kebiasaan, Tama selalu gabung sama gue, Vivi, dan Rama kalau lagi makan. Sebenarnya gue gak ada masalah kalau dia gabung, tapi gue kesel karena ada aja tingkahnya yang bikin gue bisa-bisa beneran baper.

Seperti barusan, gue dan Tama mau ngambil sumpit, barengan, dan akhirnya telapak tangan dia nyentuh punggung tangan gue. Terus pas gue tersedak, dia dengan sigap memberikan gue ocha hangat lalu menepuk-nepuk punggung gue.

Gak tau dia sengaja atau enggak. Gue kalem aja, udah paham soalnya.

Dan gue yakin seratus persen Vivi sama Rama mikir hal yang iya-iya kalau gini caranya.

"Mas Tama kapan pulang ke Indonesia? Atau masih betah disini?" Tanya Vivi memulai obrolan. Secara alamiah kuping gue langsung menajam nunggu jawabannya.

"Nunggu kontrak kerja selesai." Jawabannya masih gantung ih.

"Sampai kapan kontraknya selesai?" Rama ikutan nanya.

Dalam hati gue bersyukur sudah diwakilkan sama duo curut, karena memang gue juga penasaran sebenernya. Kan gue jadi gak perlu kelihatan kepo. Hehehe.

Gue melihat Tama siap menjawab, "Kalian grup terakhir yang saya handle." Terus dia naro daging yang sudah matang ke piring gue padahal gue gak minta lho.

Gue gak ikut bakar-bakaran, biar Rama sama Vivi aja yang sibuk balik-balikin dagingnya, gue ogah. Maunya terima beres pokoknya. Hahaha.

"Gak diperpanjang?" Tanya Vivi lagi.

Gue menyuapkan sesondok nasi ke mulut gue sambil dengerin obrolan mereka.

"Nggak. Kayaknya Januari saya pulang ke Indonesia."

Uhukk...

"Demi apa?!" Lha gue kenapa kaget begini?

Untung Tama menanggapi dengan santai. Tapi tangannya yang gak nyantai nabok nabok punggung gue karena keselek.

"Ya.. demi... keluarga lah." Jawabnya salah tangkap maksud gue.

"Lho udah punya keluarga, Mas?" Vivi tampak terkejut gak tau kenapa.

"Orang tua kali maksudnya." Gue membantu Tama menjawab.

Terus Vivi masih gak berhenti yekan, "Sok tahu lo!"

"Iya bener. Maksud saya orang tua." Timpalnya sopan.

"Oooh..."

"Beneran ini grup terakhir?" Gue gak bisa nahan untuk gak nanya.

"Saya dapat tawaran kerja di Indonesia."

"Kerja apa? Dimana?" Sumpah gue kepo banget.

"Masih di perusahaan Jepang. Meliput apapun yang berbau Jepang."

"Oh." Berarti bener dia sebentar lagi pulang ke Indonesia ya? Eh tunggu, kenapa gue yang seneng?

"Besok lo mau kemana, Kak?" Tanya Vivi setelah membagikan daging yang sudah matang ke atas mangkuk nasi kami semua.

Gue berdeham pelan, "Di hotel aja. Nyusun koper." Semoga Tama gak bacot sama rencana kita tadi.

Gue meminum ocha dengan tenang. Sepik doang, padahal panik.

"Lho? Katanya mau jalan sama saya?"

Uhuk..uhuukk!

Tuh kan! Kampreeeet. Gue keselek mulu elah! Tama menepuk-nepuk punggung gue lagi.

"Pelan-pelan aja minumnya." Ucapnya.

Gue liat Rama sama Vivi lirik-lirikan penuh arti.

"Bukannya kita mau sarapan di luar doang ya? Abis itu saya balik ke hotel, kan?" Tanya gue ngelantur parah.

Tama kebingungan. Plis ngerti dong kalo ini sandiwara!

"Oh mau sekalian sarapan di luar?" Tanya dia balik.

Sialan dia masih gak ngeh.

Gue cuma bisa mengangguk pasrah takutnya Vivi bakalan lebih curiga nanti.

Setelah itu gue gak menghiraukan senyuman licik dari Vivi dan Rama, gue cuma lanjut makan sesantai mungkin. Gue lirik Tama juga kayak diem-diem bego gitu. Tau ah! Gue kesel sama dia.

"Mau kemana emang?" Tanya Rama.

Gue juga nunggu jawabannya. Gue penasaran kan dia gak pernah kasih tau gue tujuannya. Main asal ngajak jalan aja!

"Keliling Tokyo aja sih."

"Yah gue kira ke Disneyland!" Sahut gue asal.

"Saya bisa ajak kamu ke tempat yang lebih proper buat ngedate!" Ucap Tama yakin.

Malah gue yang gak yakin sama telinga gue bahwa gue gak salah dengar.

Ngedate dari hongkong!

Note :

Judulnya maksa, iya saya tau. Maapin.

TOKYO, The Unexpected GuyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang