Bonus

24.5K 3.3K 79
                                        

Ini bisa juga sih jadi next chapter karena masih lanjutan yang kemarin. Tapi kubuat jadi bonus aja.

BONUS

"Kak, beneran lo gak papa?" Yeuh dasar! Tadi yang semangat motivasiin gue siapa coba? Sekarang malah dia ragu kalau gue mencoba terlihat baik-baik saja. Ya gimana gak baik baik aja....

"Selain ngantuk berat, gue gak apa-apa, Vi. Gue mau tidur dulu, nanti bangunin kalau udah sampe! Jangan ajak gue ngomong, jangan jawab telfonnya Bayu, jangan kabur nyamperin Rama, jangan pokoknya jangan! Lo harus tetep disamping gue, jangan pergi kemana-mana!"

"Gue kayak bawa bayi, najis!"

"Diem!" Teriak gue.

"Iya iya maaf..."

Entah kenapa kepala gue pusingnya makin menjadi. Bukan cuma karena konversasi yang sangat tidak ada faedahnya dengan Tama tadi, terus gue dengar niat tololnya Bayu yang mau nyusul ke bandara, ditambah pemandangan di dalam bus yang menampakkan tour guide ganteng gue yang selama ini gak pernah gagal bikin salah fokus dan jantung kelojotan lagi berdiri memegang mikrofon siap untuk mengucapkan selamat tinggal.

Jangan bahas yang anu-anu tadi ya. Gue sama Tama udah sepakat, lebih tepatnya gue yang memaksa dia agar setuju sama gue kalau kita gak perlu mengenal lebih jauh lagi. Alasannya sih simpel, karena gue mau menata kondisi hati dulu lah.

Gue mau pinjem lagunya Raisa dulu ya, gue harap semuanya usai disini.

Semoga Bayu bisa setia sama Sasa. Semoga Tama gak dendam karena gue marahin tadi. Semoga kondisi hati gue bisa normal lagi seusai gue mendarat di Jakarta nanti. Selesai semuanya selesai. Halah pret! Terus tadi nyosor-nyosor apaan tuh maksudnya?

Yuk, pura-pura tidur lagi!

"Tes... tes... oke teman-teman, gimana nih? Kayaknya saya lihat itu kantong belanjaannya gede-gede banget ya? Pada borong apa aja?"

"Paling ini Mas, gantungan kunci, tempelan kulkas, gelas, sama ini nih kaos-kaos. Yang pantes buat oleh-oleh lah." Gue dengar suara Mba Salma menyahuti.

Beuh pantes anaknya dititipin ke gue, dia mau borong semua ternyata.

"Banyak juga ya Mba. Mungkin memang harganya sedikit lebih mahal dibanding Indonesia ya karena mostly barang disini handmade, dan Jepang sangat menghargai tenaga kerja manusia dengan memberi upah yang tinggi jadi harganya juga lebih mahal."

"Terus tadi sudah pada selfie di depan temple, kan?"

Duh iya gue lupa mau foto depan situ. Sialan deh gara-gara dititipin tuyul gue jadi lupa. Ah pengen turun dari bus terus balik kesana lagi gue!

"Sudaaaaah."

"Bagus. Walaupun hujan ya tetep hajar. Mumpung disini, kapan lagi ya kan? Semoga gak ada yang ketinggalan foto di depan temple ya, selain Hani. Ya Hani?"

Tahik.

"Udah tidur mas, ngantuk kali dia semalem begadang bantuin saya packing." Gue gak tau niatnya Vivi apa ngomong begini.

"Oh, ya sudah jangan diganggu deh kasian."

Kalem jantung, kaleeeem!

"Mas, Januari sudah di Indonesia kan? Kita adain reuni yuk?" Gue gak tahu ini usulnya siapa, tapi gue rasa itu ide yang buruk.

"Wah boleh tuuuuh!" Vivi ngapain pake setuju sih elah.

"Boleh boleh, nanti keep contact aja ya di grup?"

Hahaha untungnya gue gak masuk grupnya tuh.

"Oke Mas, yang lain setuju kan?"

Enggak!

TOKYO, The Unexpected GuyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang