Flashback
Brian
2012
Gue merasa apa yang gue lakuin akhir-akhir ini memang gak ada manfaatnya sama sekali, seperti bolos sekolah, ngerokok diwarung belakang , ataupun ikut tawuran bareng temen-temen gue ya itu memang kegiatan yang tidak ada faedahnya sama sekali, tapi anehnya gue menikmati itu semua, gue merasa saat gue melakukan hal tersebut beban gue agak terjeda, kalian bingung maksud terjeda itu apa ? iya maksudnya beban yang dimana gue ya sebut saja anak brokenhome jadi tertunda, ya gue akui hal tersebut gak bisa membuat beban gue terbuang atau berkurang begitu saja, tapi ya setidaknya dapat membantu gue lupain untuk sementara waktu
Asap rokok yang sudah memenuhi warung belakang sekolah gue ini, serta kartu remi yang sudah berhamburan diatas meja atapun tas dan seragam yang sudah berserak disudut ruangan bukan menjadi hal yang aneh bagi kami, setiap harinya pasti begini sebut saja warung mang udin , iya warung ini selalu menjadi tempat pelampisan gue beserta temen-temen gue yang memang pada dasarnya kita semua yang selalu dianggap tidak mempunyai masa depan yang cerah , ya gue tidak bisa menyangkal itu semua, apa yang guru ataupun temen-temen gue yang pinter anggep kita begitu , ya setidaknya hidup gue tidak membosankan seperti merekalah
" Bri mau ? "
" Ah sorry gue gak ngisep yang begitu "
Iya sebagian temen-temen gue yang memang pada pakai barang terlarang begitu , ya sebutlah ganja , iya lingkungan teman-teman gue memang begini , tapi gue gak ada sedikitpun tertarik ataupun ingin menyentuh barang haram itu, gue punya alasan mengapa gue tidak mau memakai barang tersebut , apa karna gue takut kecanduan terus lari ke barang yang levelnya lebih atas ? dan gue lama-lama bisa mati karna obat terlarang itu ? atau gue takut karena gue sering melihat temen-temen gue yang gemetaran bahkan hampir mati gara-gara barang tersebut ? Jawabannya bukan karna semua itu , alasan gue gak mau memakai barang –barang terlarang itu adalah ibu dan mas gue, iya setiap gue ingin melakukan hal terburuk dalam hidup, gue selalu inget mereka , gue bisa bayangin bagaimana ibu atau mas dimas sangat kecewa terhadap gue , ya walaupun bolos sekolah sudah menjadi salah satu kekecewaan dimata mereka, tapi setidaknya gue masih punya batasan sampai mana gue harus nakal, jangan sampai kelewat batas .
Pagi ini gue mendengar kedua orang tua gue ribut , ya seminggu mereka bisa adu mulut 5-6 kali lah, mau malam, pagi, sore, ah sampe enek gue dengernya , andai saja gue sudah punya penghasilan sendiri ya gue bakalan keluar dari rumah ini, terserah pembagian harta warisan jatuh ketangan siapa gue gak peduli .
Gue mengetuk kamar mas dimas yang ada diujung
" Mas "
" Mas bangun lo udah jam berapa ini ? "
Setelah tidak ada jawaban dari kamar dimas, gue kembali kekamar dan mengecek handphone dan menemukan beberapa pesan masuk
19. 41
Dimas : " Bri , mas malem ini nginep dirumah temen "
Dimas : " Ada kerjaan nih, lo jangan balik malem kasian ibu dirumah sendiri "
Gue hanya menghela napas panjang mendapatkan pesan dari abang gue, dia curang banget masa gue ditinggalin dengan keadaan orang-orang rumah emosian begini sih
Gue jalan menyusuri anak tangga menuju dapur dengan maksud mengambil air minum dan dengan pemandangan kedua orang tua gue masih beradu argument
" Kamu tuh dari kemaren alesan terus yah, jelas jelas ada yang lapor sama aku kamu main kehotel sama perempuan lain "
" Itu rekan bisnis aku, udah berapa kali aku bilang jangan percaya omongan orang lain, percaya tuh sama suami sendiri " Balas ayah gue
Gue hanya bisa mengusap wajah gue gusar mendengar itu semua, bukannya gue gak mau melerai mereka, tapi gue sudah terlalu sering melakukan itu dan gue capek . Pas gue menginjakan kaki dianak tangga pertama , ayah memanggil nama gue
KAMU SEDANG MEMBACA
R U Mine ?
Ficción GeneralBrian : " Bubur ayamnya jangan pake kacang yah pak , awas ketuker lagi " Nares : " Iya iya gue diperpus " Dewa : " Mas nares milonya jangan lupa" Reza : " Teh tarik tuh sebenernya terbuat dari apa sih ? " Wildan : " Bu, ini pesenanya dikirim ke sia...
