Stories 26: The School at Night

7.8K 711 29
                                        

Sekolah Di Malam Hari merupakan sebuah Urban Legend Jepang tentang sekolah angker. Biasa disebut juga "Gakkou no Kaidan" atau "School Ghost Stories". Urban Legend ini juga kadangkala dikenal dengan nama "Seven Wonders of The School"

***
Bertahun-tahun yang lalu, di Jepang, ada sebuah kebutuhan mendesak untuk sekolah baru. Ada rumor mengatakan bahwa pemerintah ingin mencari lahan murah dimana mereka bisa membangun sekolah, jadi mereka membangunnya di pemakaman lama. Hal ini menimbulkan rumor dan gosip diantara para siswa, bahwa sekolah mereka berhantu.

Menurut legenda, jika kalian pergi ke sekolah pada saat tengah malam pada hari ke-15 pada bulan saat itu, kalian akan mendengar dan melihat banyak hal aneh seperti, sebuah lilin yang melayang-layang, suara langkah kaki tanpa tubuh yang menggema di setiap ruangan dan patung-patung yang matanya mengikuti setiap arah langkah kalian. Di ruang sains, kerangka anatomi menjadi hidup, kalian akan mendengar suara pantulan sebuah bola yang tak terlihat di ruang olahraga dan bahkan kalian mungkin akan melihat sesosok hantu tanpa kepala melayang-layang mengelilingi kelas.

Ada sebuah patung yang berdiri di jalan menuju ke sekolah dan matanya akan mengikuti kalian saat kalian melewatinya. Jika kalian berjalan menaiki tangga utama, jumlah anak tangga akan berbeda saat kalian menuruninya. Jika kalian menyalakan keran di laboratorium sains, bukan air yang akan mengalir keluar melainkan darah. Jika siapapun berani memasuki bilik terakhir di toilet yang berada di lantai bawah, sebuah tali akan jatuh dari atas langit-langit dalam bentuk sebuah gantungan, dan orang itu tidak akan pernah terlihat hidup lagi.

Jika kalian berjalan di taman sekolah, tangan-tangan hantu akan keluar dari bawah dan berusaha untuk menarik kalian. Jika kalian menggali tanah di sekolah, kalian akan menemukan batu nisan dan kuburan. Jika kalian pergi berenang di kolam, tangan-tangan berhantu akan memegang kaki kalian dan mencoba untuk menenggelamkan kalian. Bangunan-bangunan tua akan muncul di lahan sekolah dan ada anak tangga yang akan menuntun kalian pergi entah kemana. Jika kalian menaikinya, kalian akan lenyap.

Di sebuah kota kecil di Jepang, ada sekelompok remaja laki-laki yang telah mendengar rumor mengenai sekolah mereka.

Anak-anak itu memutuskan untuk pergi ke sekolah pada malam hari untuk membuktikan apakah legenda itu memang nyata atau hanya sekedar cerita. Pada hari ke-15 pada bulan itu, mereka menyelinap keluar dari rumah mereka dan bertemu tepat pada tengah malam. Mereka pergi berempat Shinichi, Mikio, Takashi dan Hiro.

Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah dan jalan masuk menuju ke gedung sekolah, mereka memperhatikan patung tersebut, menunggu sesuatu terjadi. Mata dari patung itu memandang ke sebelah kiri dan meskipun anak-anak itu sudah melewatinya, matanya tidak bergerak satu inchi pun.

"Terlalu mengada-ada untuk sebuah legenda bodoh," seru salah satu anak sambil tertawa kecil.

Mereka berjalan memasuki gedung sekolah dan dengan waspada menaiki tangga lalu menghitung tiap langkah. Satu, dua, tiga... Jumlahnya ada tiga belas anak tangga. Ketika mereka berjalan kembali menuruninya, jumlahnya masih tetap tiga belas anak tangga.

"Cuma kisah tua lainnya," ujar salah satu anak.

Mereka berjalan melewati koridor menuju ke laboratorium sains dan menyalakan semua keran. Bukannya darah melainkan semua keran itu memancarkan air keluar. Mereka menghela nafas kecewa.

"Sudah kuduga," ujar salah satu anak. "Sia-sia kita datang kemari."

Mereka memutuskan untuk membuktikan satu legenda lagi sebelum pulang ke rumah dan pergi ke toilet di lanta bawah. Namun, ketika mereka tiba di pintu kamar mandi, beberapa anak kehilangan keberanian mereka. Meskipun mereka telah membicarakannya dengan bersemangat, tak ada satupun dari mereka yang nampak bergegas memasuki bilik berhantu tersebut.

Akhirnya, salah satu anak, Shinichi maju ke depan dan memberitahu yang lainnya bahwa ia tidak takut pada apapun. Dia mendorong pintu terbuka dan masuk ke dalam toilet, sementara teman-temannnya menunggu di luar. Anak-anak itu melihat ke arah jam. Saat itu sudah tepat pukul 01:00 AM.

Satu menit kemudian, Shinichi keluar dari toilet dengan senyuman di wajahnya.

"Tak ada apa-apa" Katanya. "Itu semua cuma sekumpulan kisah anak-anak dan dongeng"

Semua anak laki-laki itu tertawa dan berjalan pergi. Saat mereka keluar dari sekolah, mereka berjalan kembali ke jalan. Sebelum pergi, mereka melihat untuk terakhir kalinya ke arah patung tersebut, namun matanya tetap melihat ke arah sebelah kiri.

"Sungguh mengecewakan." Bisik salah satu anak dengan nada menghina dan mereka semua pulang ke rumah.

Esok paginya, masing- masing anak laki-laki itu menerima telepon dengan penuh kecemasan dari ibu Shinichi.

"Apakah Shinichi bersama kalian kemarin malam?" Tuntutnya. "Dia tidak berada di sana ketika aku memeriksa kamarnya pagi ini. Dia menyelinap keluar dan masih belum pulang ke rumah. Dimana dia?"

Anak-anak itu merasa ada sesuatu yang salah. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menceritakan pada orangtua mereka mengenai kunjungan kecil yang mereka lakukan pada malam sebelumnya. Orangtua mereka menghubungi kepala sekolah dan segera, para orang dewasa, anak-anak dan kepala sekolah berkumpul di luar sekolah.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya kepala sekolah. "Kalian membicarakan patung di luar sekolah? Patung itu selalu memandang ke arah sebelah kanan."

"Tapi saat kami di sini semalam, mereka memandang ke sebelah kiri" Salah satu anak berseru.

Memasuki gerbang, mereka semua terkejut melihat mata patung tersebut memang benar-benar memandang ke arah sebelah kanan.

"Tapi bagaimana dengan anak tangga di tangga utama?" Salah satu anak berseru.

Mereka semua dengan cepat berlarian menuju ke tangga dan menghitung jumlah anak tangganya.

"Satu, dua, tiga... DUA BELAS?"

"Ya," kata kepala sekolah. "Tangga ini selalu memiliki dua belas anak tangga. Saat dibangun, arsitek melakukan sebuah kesalahan dalam rancangannya. Seharusnya ia memiliki tiga belas anak tangga."

"Itu tidak mungkin" Bentak salah satu anak. "Tapi bagaimana dengan keran air di lab?"

Memasuki laboratorium sains, mereka semua melihat ke arah wastafel. Masing-masing berlumuran oleh noda merah gelap. Anak-anak itu membeku ketakutan.

"Tapi... Tapi... Bagaimana dengan Shinichi?" Gumam salah satu anak. "Dia masuk ke dalam toilet..."

"Mari kita pergi melihatnya," ujar kepala sekolah dengan suara cemas.

Mereka semua berkumpul di luar toilet. Anak-anak dan orangtuanya saling menoleh satu sama lain dengan gugup. Kepala sekolah menarik sebuah nafas panjang, meraih dan membuka pintunya terbuka.

Ibu Shinichi mengeluarkan jeritan yang mengerikan dan pingsan. Yang lainnya mundur ketakutan dan beberapa orang tidak dapat menahan diri untuk muntah di lantai.

Mayat teman mereka Shinichi menggantung di langit-langit dengan 
sebuah tali melilit lehernya. Wajahnya sangat pucat dan matanya membelalak terbuka, membeku dengan tatapan horror. Tenggorokannya telah teriris lebar dan semua darah telah mengering keluar dari tubuhnya, menutupi lantai dengan genangan darah merah gelap. Organ dalam dan ususnya telah di ambil dari tubuhnya, lalu ditumpukkan dengan rapi di toilet.

Salah satu anak terpaku. Dia menatap tanpa berkedip ke arah jam tangan yang berada di pergelangan Shinichi. Jam itu berhenti tepat pukul 01:00 AM.

Creepy HorrorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang