Stories 118: Are You Lost?

1.7K 212 10
                                        

“Hey, coba kau lihat pemuda itu, dia terlihat seperti tak memiliki gairah hidup.”

“Benar, kasihan sekali.”

Pernahkah kalian merasa begitu lemah, tak memiliki gairah hidup, bagaikan tersesat kehilangan arah? Kalian mungkin merasa masih memiliki harapan, namun sebetulnya harapan itu ialah bentuk dari keputusasaan. Beberapa waktu lalu aku bertemu seseorang, ia pemuda yang cukup baik, setidaknya begitu menurutku.

Suatu hari ia merasa cemas akan sesuatu yang tak pasti, ia merasa hidupnya telah hancur dan putus asa. Ia memiliki harapan, namun buta arah. Kemudian ia mulai mencari petunjuk, seseorang berkata padanya bahwa aku bisa memberi bantuan bagi sesiapa yang membutuhkan. Cahaya harapan di matanya kembali terlihat, ia pun berusaha keras menemukanku. Begitu katanya, saat ia berhasil menemuiku.

Ia berkata betapa sulit mencariku, ia harus mengorbankan segala yang ia miliki. Ku balas dengan lembut, menyampaikan bahwa ia bisa menemukanku di mana pun ia mau. Dan dengan senang hati aku akan ada bagi sesiapa yang membutuhkan. Ia terlihat begitu gembira dan menyuarakan kekagumannya padaku, oh sungguh aku tak sehebat itu untuk dikagumi. Ternyata ia memiliki beberapa masalah, ia memohon padaku untuk membantu menyelesaikannya. Tentu saja aku akan membantunya, namun aku bukanlah orang yang tak pamrih. Ini demi kebaikan bersama, bukan?

“Hai anak muda, sungguhkah kau membutuhkan bantuanku?” ucapku.

“Tentu yang mulia, dengan segala kehormatan aku memohon kemurahanmu.” ia berserah dan berlutut di hadapanku.

“Baiklah, namun, sanggupkah kau memenuhi persyaratanku?” di sini aku akan menguji kesungguhannya.

“Aku sangat, sangat sanggup. Lalu apakah persyaratan yang tuan maksud?” ia menatapku, matanya berbinar, membara api harapan di sana.

“Pertama, kau harus mengabdikan seluruh hidup dan waktumu padaku, apakah kau sanggup?”

“Ah… tentu, tentu, mohon terimalah hamba yang lemah ini sebagai abdimu, tuan.” ia menunduk lagi.

“Kedua, sudikah kau membawa persembahan sebagai bukti pengabdianmu? Jika iya, pelayanku akan membimbingmu.”

“Dengan senang hati, tuanku. Lalu, apakah ada persyaratan yang lain?”

“Ya. Berkunjunglah setidaknya setiap seminggu sekali. Jangan lupa untuk memakai pakaian istana, kau bisa mendapatkannya dari pelayanku. Jika kau sudah mencukupi persyaratan, kau akan mendapatkan pekerjaan di istana ini dan hidup dengan damai bersama kami.”

“Sungguh? Te-tentu, aku akan sangat senang untuk hidup di sini!”

Aku mempersilakan ia untuk pulang dan kembali jika sudah saatnya. Aku merasa senang bila dapat membantu oranglain, namun jangan salah paham dulu, alasanku memberi persyaratan pada mereka yaitu agar mereka sendiri mau berusaha untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Bukankah ini menguntungkan satu sama lain? Apakah aku salah?

Minggu pertama ia begitu bersemangat saat berkunjung, ia merupakan pemuda yang gigih.

Minggu ke-dua ia sama bersemangatnya seperti minggu pertama.

Minggu ke-tiga ia masih bersemangat untuk meraih keinginannya.

Minggu ke-empat semangatnya nampak berkurang.

Minggu berikutnya ia tampak biasa saja.

Minggu selanjutnya sama sekali tak ada semangat.

Minggu ini ia kehilangan seluruh semangat yang tadinya sangat membara itu. Kondisinya tampak sangat buruk, usaha kerasnya membuat dirinya sendiri tak terurus. Kegelapan pun terlihat meliputi seluruh jiwa dan raganya. Apakah ia sudah menyerah? Aku tak akan memaksa jika ia tak menyanggupi.

“Hey, coba kau lihat pemuda itu, dia terlihat seperti tak memiliki gairah hidup.” ucapku pada pelayan di sebelahku.

“Benar, kasihan sekali, tuan.”

“Ku rasa ia tak sanggup menjalani persyaratan ini. Sepertinya energi hidupnya sudah habis.”

“Bukankah itu kabar bagus untuk kita, tuan?”

“Hahaha tentu saja. Suatu kesenangan bagiku bisa menyerap energi manusia bodoh nan lemah itu. Omong-omong, apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?”

“Tentu tuan, aku sudah menyebar pengetahuan dan petunjuk pada manusia-manusia tersesat yang membutuhkan bantuan. Untuk mempermudah penyebarannya, aku memakai metode lain yaitu memasukan doktrin ke dalam media seni dan hiburan. Cara ini cukup ampuh.”

“Bagus sekali anakku, kau memang sangat cerdas.”

“Saat ini sudah mencapai trilyunan ummat yang mengabdi padamu. Dan  40% dari populasi mereka merupakan pemuda yang terkumpul dari seluruh penjuru dunia. Bersabarlah sedikit lagi sampai kita menuju puncak kemenangan.”

“Hahahaha… Itu adalah kabar yang sangat bagus, lain kali antar aku ke bumi untuk menyaksikan keindahan ini berlangsung. Aku ingin memberi berkat pada anak-anakku di bawah sana.”

“Dengan senang hati, hamba akan mendampingimu, tuan Lucifer.”

Pepatah lama mengatakan “Don’t play with the Devil, he always cheats.”

Creepy HorrorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang