“Menurutmu, Kimber menyalahkan diri sendiri?”
“Nggak tahu. Bisa saja.” Aku meregangkan tubuh di bangku Chevyku dan menarik ujung topi turun sehingga menutupi mata.
“Menurutmu dia akan baik-baik saja, ‘kan?”
Aku tak menjawabnya. Saat kehilangan Whitney, jelas aku tidak baik-baik saja, dan bahwa Kimber lebih dekat dengan ibunya dibanding aku dengan kakakku, merupakan fakta tak terbantahkan. Whitney jelas tidak baik-baik saja.
“Sam … aku benar-benar kalut. Ini sudah dua hari.”
Kulepas topi dan menoleh ke arah Kyle yang memang terlihat amat kacau. Matanya sangat merah, wajahnya pucat, dan rambut merahnya itu benar-benar kusut.
“Ibunya bunuh diri. Kau tahu sendiri betapa dekatnya dia dengan Ibunya. Dia cuma butuh waktu menenangkan diri, nanti, dia bakal pulih, kok.”
“Dia tidak mengangkat telepon atau membalas smsku. Pesan suara yang kutinggalkan kayaknya sudah lebih dari sepuluh. Aku bakalan gila kalau seperti ini terus.”
“Beri dia ruang, Kyle.”
“Iya. Tapi dia- dia- … “ Kyle tak mampu meneruskan kalimatnya. “Seharusnya, aku selalu menjaganya.”
Kusetel bangku mobil sehingga dalam posisi tegak. “Begini, Kyle, aku tahu kau ingin membantu. Aku juga. Tapi telepon kita nggak juga dibalasnya. Dia belum muncul juga di sekolah. Bahkan membuka pintu saat kita mampir juga tidak. Kimber masih belum ingin menemui kita, dan kita harus mengerti hal itu. Saat ini, cuma dia yang tahu apa yang terbaik buat dirinya.”
“Mengenai pesan bunuh diri itu, menurutmu, punya hubungan tersendirikah?
Aku mendesah.
“Pesan itu bukan sesuatu yang pasti, Kyle. Ayahnya saat itu sedang gusar dan emosinya kacau, lagipula, bisa jadi aku cuma salah dengar saat dia mengatakan hal itu. Saat kutanyakan ke ayah, dia juga bilang nggak ada pesan bunuh diri atau semacamnya.”
“Ya! Ayahmu kan Si Sumber Kebenaran!” Saat kulirik, wajah Kyle langsung menunjukan ekspresi menyesal. Aku hanya mengabaikannya.
“Aku tak tahu apa yang mesti kupercaya.”
Namun, kebenarannya adalah aku tahu betul apa yang kudengar. Tuan Destaro memang benar mengatakan sesuatu mengenai pesan. Namun, aku tak bisa mengatakan pada Kyle mengenai hal itu. Setidaknya untuk saat ini. Dia sudah terlalu khawatir bahwa hubungannya dengan Kimber merupakan salah satu penyebab ibunya menjadi begitu depresi.
Sebelumnya, aku sudah menanyakan tentang surat itu pada ayah saat dia pulang setelah malam panjang itu. Ayah hanya mendesah sembari mengelus kepala dengan kedua tangannya. Dalam kelelahan yang sangat, dia berkata, “Sam, Ayah tak tahu mesti bilang apa. Anne Destaro tidak meninggalkan pesan bunuh diri dan sejujurnya, ini pertamanya Ayah dengar mengenai hal itu.”
Dengan sahabat baik yang sdang berduka dan penyelidikan yang tertunda, aku dan Kyle sampai pada keadaan yang tak menentu. Kami malas-malasan untuk datang ke sekolah, membolos dari kelas, melewatkan tes akhir tahun dan mengisap ganja lebih banyak dari biasanya. Tanpa Kimber yang kerap menjadi sosok penengah, kami benar-benar menjadi malas, murung, dan tak bertanggungjawab. Aku tak penah menyangka betapa tergantungnya kami akan sosoknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror
HorreurCerita-cerita yang dibagikan disini merupakan cerita horor yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Namun, apakah kau cukup berani untuk membacanya? Satu hal pasti yang perlu kau ingat adalah you are not alone... Attention! Saya bukan pengarang dari...
