Stories 100: The Seer of Possibilities

3.2K 287 14
                                        

Terkadang, makhluk-makhluk supernatural menemukan cara-cara unik untuk menyapamu. Mereka mungkin menggunakan papan Ouija, jelangkung, atau mendatangimu dalam mimpi. Masing-masing dari mereka punya gaya sendiri. Salah satunya, yang berbicara pada Jack, menyapanya lewat layar komputer. Ketika itu terjadi untuk pertama kalinya, Jack sedang asyik bermain Solitaire di internet. Mendadak modemnya berkedip-kedip gara-gara sinyalnya melemah, namun karena ini biasa terjadi, Jack tak terlalu menghiraukannya. Akan tetapi, ketika dia sedang menggeser kartunya dengan kursor, mendadak layar komputernya menghitam, dan papan Solitaire berganti menjadi sederet teks berwarna merah.

"Hai, Jack, aku perlu bantuanmu. Kau orang yang istimewa dan aku tahu kau bisa menolongku. Kaulah satu-satunya yang bisa."

Jack terdiam sejenak. Modemnya masih berkedip-kedip. "Apakah ini bercanda?" Gumamnya.

Beberapa saat kemudian, teks di layar komputernya berganti: "Jack, aku tahu ini mungkin aneh. Tapi jangan khawatir. Aku cuma butuh bantuan kecil. Aku akan memberimu imbalan."

Sekarang Jack mulai panik, dan dia buru-buru mencabut modemnya.

"Sori, Jack, aku masih di sini. Aku tak mau buang-buang waktu, jadi aku langsung saja. Besok, kalau kau pergi kerja, aku mau kau menggeser pot tanaman di sebelah lift di lantai dasar kantormu. Cukup geser kira-kira tiga inci dari dinding. Lakukan pada pukul 8.17 pagi, saat masih belum ada orang di sana."

Jack masih duduk terpaku, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Tulisan di layar kembali berganti.

"Jack, aku minta tolong padamu karena aku tahu kau bisa. Kau tak akan mengecewakanku. Kau spesial. Kita bicara lagi besok."

Jack akhirnya beranjak dan mencabut kabel komputernya. "Apa yang barusan itu?" Pikirnya, merinding. Dia buru-buru mandi air hangat dan akhirnya naik ke tempat tidur, berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang barusan itu cuma mimpi, atau ada yang iseng terhadapnya. Tapi siapa yang akan melakukan itu? Dia sama sekali tak punya musuh atau teman dekat yang suka iseng.

Jack bangun keesokan paginya dalam keadaan segar. Jam kerjanya mulai pukul 8.30, dan dia memang selalu bangun pagi sehingga tak pernah terlambat. Mobilnya masuk ke tempat parkir di bawah gedung kantornya tepat pukul 8.10. Saat itu, pesan yang dibacanya tadi malam soal menggeser pot tanaman pada pukul 8.17 mengusiknya. Apakah dia sebaiknya melakukannya? Rasa takut akan kejadian tadi malam kini sudah berganti menjadi rasa penasaran. Katakanlah dia benar-benar menggeser pot itu, dia tidak melanggar hukum, 'kan? Kalau dia melakukannya, tak akan ada yang terjadi, dan dia bisa segera melupakan kejadian ini. Tepat semenit sebelum pukul 8.17, Jack keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung. Pesan itu benar; tak ada orang di sekitar situ.

"Aneh," pikir Jack. Gedung itu biasanya sudah cukup ramai pada jam-jam segitu, tapi saat itu, koridor nampak kosong melompong.

"Baiklah! Akan kulakukan. Coba kulihat apa yang akan terjadi."

Dia berjalan mendekati pot besar yang diletakkan di antara dua lift di lobi gedung itu. Tanamannya kelihatan palsu, jenis dekorasi yang tidak pernah dihiraukan orang-orang yang lewal, lapi polnya ternyata lebih berat dari yang disangka Jack. Dia harus sedikit berjuang untuk menggeser pot itu sekitar tiga inci. James kemudian mundur, lantas melihat sekelilingnya. Tak berapa lama kemudian, orang-orang berdatangan, dan lobi itu penuh lagi. Tak ada seorangpun yang menaruh perhatian pada pot itu. Jack menunggu dan menunggu, tapi tak ada yang terjadi. Akhirnya, dia menyerah dan memutuskan naik lift ke kantornya di lantai 7. Tepat waktu, seperti biasa.

Seandainya ada yang meminta teman-teman Jack untuk mendeskripsikan dirinya, orang itu mungkin akan mendengar sebutan-sebutan seperti "pendiam," "sopan," dan "kompeten." Akan tetapi, walau kata-kata itu terdengar cukup akurat untuk menggambarkan Jack, mereka sebenarnya menyembunyikan fakta bahwa Jack sebenarnya tidak terlalu menyukai semua orang. Bukannya dia benci mereka, tapi dia hanya tak tertarik untuk dekat atau berteman dengan mereka. Kecuali dengan Allie, gadis yang duduk sejauh dua kubikel dari tempatnya. Allie adalah satu-satunya orang yang ingin dikenal Jack lebih jauh. Senyumnya manis, rambutnya pirang, dan tubuhnya indah. Jack sangat ingin mengenalnya. Walaupun Jack jarang sukses dengan wanita sebelumnya, dia berhasil menjalin pertemanan lumayan akrab dengan Allie. Setiap pagi, Jack akan mampir di kubikelnya untuk mengobrol. Mulanya hanya semenit, lalu dua menit, lalu beberapa menit. Jack bahkan agak terkejut ketika menyadari bahwa Allie sepertinya juga cukup suka padanya.

Creepy HorrorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang