Saat aku masih seorang gadis kecil, jika kau tanya aku mau jadi apa, ‘seniman kelaparan’ tak akan pernah ada dalam daftar.
Seperti kebanyakan aku pasti akan bilang ‘dinosaurus’ atau ‘astronot’—dan kemudian, saat aku tahu bahwa seorang bocah tak akan mungkin jadi dinosaurus dan gadis cokelat dari New Zealand tak akan bisa jadi astronot, aku akan bilang ‘guru’ atau ‘perawat’.
Di sekolah aku semakin parah dalam semua pelajaran kecuali Bahasa Inggris dan Seni, tapi saat aku remaja tanteku memberiku kerjaan paruh-waktu sebagai petugas kebersihan di Rumah Sakit setempat. Saat itu kupikir bayarannya lumayan, dan aku ahli melakukannya. Aku suka bersih-bersih; bahkan meski kadang yang kubersihkan adalah ledakan diare atau muntahan darah.
Lama-kelamaan kau akan terbiasa dengan bau seperti itu. Yah, kecuali untuk Clostridium difficile—atau yang biasa dikenal sebagai ‘C. Diff’. Tapi untunglah aku jarang membersihkan di bekas pasien seperti itu.
Akhirnya gaji kecilku membuatku bisa berhenti sekolah dan menyewa kamar satu tempat tidur di sebuah flat beton yang kecil dan kotor. Ketika aku tidak kerja atau tidak tidur, aku membuat karya seni untuk dijual di pasar Sabtu pagi. Dan begitulah aku menjadi seniman paruh-waktu yang miskin.
**
Pasti ada beberapa bahan makanan tertentu yang dipunyai orang miskin di lemari mereka. Punyaku adalah beras dan kentang; keduanya murah dan bisa dijadikan berbagai macam sajian. Tumbuh bersama orangtua yang sama miskinnya dan harus menjalani hidup sebagai wanita berarti bahwa ibu sudah lebih dulu mengajariku memasak sebuah bahan menjadi beberapa jenis makanan.
“Nasi sangat bagus,” kata ibuku, “Kau bisa menjadikannya manis untuk sarapan dan tawar untuk makan siang dan makan malam.”
Dan kubis. Tampaknya semua makanan harus pakai kubis.
Tapi aku masih punya sedikit kemewahan di flat kecilku; setoples selai kacang, beberapa sarang lebah liar Manuka dari pamanku di utara dan gula mentah untuk secangkir tehku.
Jadi kau paham kenapa aku sangat marah saat semut-semut mulai masuk.
Mereka sangat kecil, semut-semut paling kecil yang pernah kulihat. Saat aku terbangun di pagi hari, mereka akan menyerbu serpihan terkecil makanan yang jatuh, memisahkannya kemudian membawanya kembali ke sarang mereka dengan tubuh kecil cokelat-hitam mereka yang tenang.
Awalnya aku tak merisaukannya—aku tahu rasanya kelaparan. Dan aku bisa lebih mengapresiasi mereka dibanding kebanyakan orang bahwa mereka sedang membereskan kekacauan yang kubuat, melayaniku.
Tapi ketika mereka mulai membuat lubang menembus kantong kertas gula mentahku, kuputuskan bahwa itu sudah cukup.
**
Aku menemukan bahwa borax dan gula adalah pembunuh semut buatan sendiri yang manjur.
Kami punya banyak produk kebersihan berbasis borax di tempat kerja untuk membersihkan saluran air dan kotoran yang membandel. Jadi aku membuat campurannya sesuai instruksi di internet kemudian meninggalkannya di piring kecil di atas dapur.
Tidak butuh lama bagi tamu kecil tak diundangku untuk menemukannya; satu jam kemudian, sepasang semut melenggang melintasi formika putih dapur yang bersih dan menemukan piring kecilnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Creepy Horror
HorrorCerita-cerita yang dibagikan disini merupakan cerita horor yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Namun, apakah kau cukup berani untuk membacanya? Satu hal pasti yang perlu kau ingat adalah you are not alone... Attention! Saya bukan pengarang dari...
