Stories 58: Fran and Jock

4.6K 515 20
                                        

Aku adalah orang terakhir di garis panjang keturunan dari kedua belah keluargaku. Tak ada yang sering mengatakannya, tapi aku cukup yakin aku adalah seorang bayi "ups"; hasil dari gelas wine yang terlalu banyak dan pasangan di atas 40 tahun yang berpikir bahwa kehamilan yang tak direncanakan hanyalah untuk remaja.

Ups.

Saat aku lahir, kedua nenekku sudah meninggal dan dua kakekku sudah sangat tua dan tinggal di negara bagian yang berbeda. Merencanakan perjalanan lima anggota keluarga, termasuk satu bayi, adalah sulit dari segi biaya sementara tak satu pun kakekku bisa sering datang, jadi pertemuan kami sangat jarang terjadi.

Tetap saja kedua orangtuaku ingin aku tetap berhubungan dengan mereka, jadi kami akan melakukan panggilan telepon agar mereka bisa mendengar ocehan-bayiku, mereka akan menulis surat untuk Mom dan Dad untuk dibacakan untukku, dan kakekku akan mendapat coretan krayon sebagai balasan.

Saat aku 3 tahun, mereka berdua mulai mengalami kemunduran kesehatan. Pertama kakek dari ibuku, menyusul kemudian kakek dari ayahku. Bersiap untuk yang terburuk, Mom membeli sepasang beruang teddy yang ada perekam di dalamnya sehingga kau bisa merekam pesan yang akan berbunyi saat si beruang dipeluk, dan ibuku memastikan pesan kakekku tersimpan di dalamnya.

Ayahnya ibuku meninggal saat usiaku 4. Beberapa hari setelah pemakamannya, aku diberi sebuah beruang teddy putih dengan mata biru cerah yang berkelip dari balik sebuah topi kotak-kotak dan sweater hijau. Saat aku meremasnya, aku akan mendengar suara kakekku yang agak teredam dari perutnya.

"Aku menyayangimu, Sadie."

Dua tahun kemudian, setelah ayahnya ayahku meninggal, aku mendapat lagi yang satunya. Warnanya kelabu bak batu tulis dan jahitan di wajahnya memberinya ekspresi serius seekor binatang yang sedang menderita. Sepasang suspender merah menahan celana cokelat panjangnya. Aku jatuh tertidur sambil memeluknya dan ayahku memberitahuku beberapa tahun kemudian, dengan air mata di matanya, bahwa secara acak pada malam itu, dia terus mendengar suara Abah dari dalam kamarku.

"Aku menyayangimu, Sadie."

Aku menamai beruang putihku Fran dan beruang abu-abuku Jock dan meletakkan mereka di rak di atas tempat tidurku, tempat mereka berdiam selama masa kecilku. Sejujurnya, aku tidak terlalu memikirkan mereka; mereka telah menjadi perlengkapan di kamar tidurku, sama seperti lampu atau meja rias. Dari waktu ke waktu, aku akan pulang sekolah dan menemukan salah satu orangtuaku berdiri di samping tempat tidurku, menatap ke para beruang dan memberi mereka remasan kecil. Meski waktu telah lama berlalu, para beruang itu tetap membacakan satu kalimat itu tanpa keliru.

Selain itu, bagaimanapun, Fran dan Jock tak lebih dari barang-barang semasa kecilku.

Saat aku mulai kuliah, keduanya tidak kuhitung sehingga kutinggalkan saat aku mulai masuk ke duniaku yang baru itu. Kupikir orangtuaku sedikit kecewa karena aku sudah tak punya perasaan pada para beruang, tapi kenangan yang kuingat tentang kakekku sangatlah kabur dan aku tak menemukan koneksi yang sama pada mereka.

Saat Mom dengan baik hati menanyaiku apa sebaiknya kubawa mereka saat aku pindah ke apartemen pertamaku, aku bilang tidak, bahwa mungkin lebih baik jika mereka tetap bersamanya saja.

"Oke," dia bilang. "Mereka di sini jika kau berubah pikiran."

Aku cukup yakin tak akan berubah pikiran.

Kali berikutnya aku kembali ke tempat orangtuaku adalah untuk menjaga rumah mereka sementara Dad membawa Mom berlibur ke barat setelah penantian yang lama. Ayahku sudah berjanji padanya lebih dari 30 tahun lalu dan keduanya sangat bersemangat. Dari segi ibuku, itu artinya, dia juga sangat gugup.

Creepy HorrorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang