02

392 73 67
                                        

Malam harinya Elsa terpaksa terjebak makam malam bersama Ayahnya dan juga istri baru Ayahnya, di sana juga ada dua orang saudara tirinya yang tak perlu Elsa perkenalkan satu persatu karena jujur saja ia masih belum bisa menerima kehadiran tiga orang asing di dalam kehidupannya.

Saat Elsa hendak menyuap makanannya, gerakannya terhenti saat mendengar suara seorang cewek seumuran dengannya, cewek itu salah satu saudara tirinya, kalau tidak salah namanya Rayya.

"Minggu depan pas acara Pentas Seni, Rayya tampil pa, papa bisa datang gak?"

Elsa mendengus pelan, bibirnya gatal sekali ingin berteriak 'Woy itu papa gue! lo bukan anak papa' .

Dan hati Elsa tambah terluka saat sang Ayah merespons baik ucapan si Rayya sambil tersenyum bahagia, ah senyuman itu, diam-diam Elsa merindukannya, tapi sekarang senyuman itu tak hanya tertuju padanya lagi, senyuman itu juga sudah tertuju pada saudara tirinya.

Perasaan tak rela itu menghampiri Elsa, ia ingin egois dan tak ingin berbagi apapun yang ia punya dengan orang lain, namun keadaannya memaksa ia untuk harus berbagi.

"Papa pasti datang kok sayang, semangat ya!"

Elsa hanya diam mendengarkan obrolan itu, tak berniat untuk ikut nimbrung. Ia fokus menghabiskan makanannya cepat-cepat agar bisa kabur dari suasana memuakkan di meja makan.

"Elsa, mau nyobain sup ayamnya? kata papa kamu, Elsa suka sup ayam?"

"Saya hanya suka sup ayam buatan mama, bukan buatan tante."

"Elsa!"

Elsa mengabaikan teguran Ayahnya yang tak suka mendengar jawaban dinginnya. Ia juga mengabaikan tatapan maklum Ibu tirinya yang hanya tersenyum mendapat respons dingin darinya. Suasana di meja makan kembali canggung, semuanya sibuk menghabiskan makanan masing-masing tanpa ada yang mengetahui jika Elsa sedang berusaha mati-matian agar tak ada air mata yang lolos lagi dari matanya. Ia menatap nanar sup ayam yang sama sekali tak disentuhnya itu, jika dahulu ia sangat menyukai sup itu, namun sekarang entah kenapa ia menjadi tak suka lagi dengan sup itu, melihatnya saja sudah mampu menggores hatinya yang bahkan belum sembuh dari luka lama.

"Yaudah sup ayamnya nggak usah dimakan. Kamu mau makan apa lagi? biar mama ambilin." Ranti, wanita itu masih berusaha tersenyum lembut pada Elsa yang bahkan tak menatapnya sedikit pun.

"Gak perlu, saya bisa sendiri, saya bukan anak tante yang harus tante perhatiin gitu."

Sehabis Elsa mengucapkan kalimat ketus itu, suara sendok yang dibanting langsung menyambutnya. Elsa menatap datar Ayahnya yang merupakan pelaku pembantingan sendok itu. Ayahnya pun juga balas menatapnya dengan tatapan amarah yang jelas sedang ditahan.

"Elsa, papa gak pernah ya ngajarin kamu ngomong kurang ajar gitu sama orang yang lebih tua."

Tak ada balasan dari Elsa, ia hanya menatap Ayahnya dengan tatapan terluka karena barusan telah membentaknya. Ia cukup terkejut tentu saja, pasalnya selama ini ia tak pernah dibentak oleh Ayahnya. Hal itu tentu saja menambah luka di hatinya, setelah ditinggalkan sang Ibunda, sekarang perlahan Ayahnya pun mulai berubah.

"Bisa kamu ubah sikap kamu Elsa?"

Elsa masih diam, tak berniat menyahut. Ia hanya ingin pergi dari meja makan.

"Elsa kamu dengar papa?!"

Lagi, Elsa terperanjat karena dibentak untuk yang kedua kalinya. Cukup sudah, ia tak tahan lagi. Elsa segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya dengan mengabaikan panggilan marah dari Ayahnya yang meminta Elsa kembali ke meja makan. Tentu saja Elsa tak mendengarkan panggilan Ayahnya, ia malah mempercepat langkahnya seiring dengan air mata yang mulai turun dengan cepat membasahi wajahnya.

EdelweisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang