Elsa menatap Adit dengan wajah cemberutnya, ia tak peduli jika orang-orang di kantin memperhatikannya. Karena saat itu ia sedang kesal, dan penyebab rasa kesalnya itu muncul ke permukaan tentu saja Adit yang tiba-tiba menyeret Elsa yang sedang enak-enakan ke kantin.
"Buka mulutnya." perintah Adit.
Meskipun sedang kesal pada saudara tirinya itu, Elsa tetap membuka mulutnya karena tergiur dengan bakso kesukaannya itu.
"Enak ga?" tanya Adit.
"Banget!"
"Terus kalo enak, ilangin dulu dong wajah cemberutnya."
Elsa menggeleng sambil membuka mulutnya, maksudnya adalah ia menginginkan bakso yang disuapi Adit barusan.
Adit menggeleng, ia menjauhkan mangkuk bakso dari jangkauan Elsa.
"Ilangin dulu wajah cemberutnya!"
Elsa mendengus sebal, tetapi detik berikutnya ia langsung tersenyum lebar yang berhasil membuat Adit terpana.
Manis banget! batin Adit.
Adit kemudian kembali menyuapi Elsa dengan tak ada lagi Elsa yang memasang wajah cemberut. Elsa bahkan malah tercengir dan hal itu sukses membuat Adit gelapan karena tidak fokus.
Jantung Adit berdebar kencang, sesuatu yang tak bisa dipungkiri bahwa rasa terlarang untuk adik tirinya masih ada. Masih bersemayam di hatinya.
"Ngomong-ngomong, tumben banget kak Adit ngajakin aku ke kantin bareng."
Adit terdiam. Ia menatap Elsa dengan tatapan bingung bercampur khawatir. Bingung kenapa Elsa tiba-tiba memanggilnya dengan panggilan 'kak', padahal selama ini Elsa selalu tidak sopan padanya. Dan juga khawatir karena Adit takut Elsa kesurupan hantu yang sopan, sehingga Elsa tiba-tiba memanggil Adit dengan panggilan 'kak' tersebut.
"Jangan bengong! Suapin lagi dong!! Laper akutu." rengek Elsa.
Adit tersenyum. Sangat lebar. Senyuman yang di mata Elsa adalah senyuman yang tampak aneh, tetapi senyuman itu bagi siswi-siswi yang ada di kantin adalah senyuman paling manis dari diri Adit karena Adit memang termasuk cowok yang jarang mengumbar senyum.
Tau kenapa Adit tersenyum? Karena Elsa. Perlahan Elsa sudah mulai berubah, ia sudah mau menerima keadaan Adit. Tak ada lagi tatapan permusuhan dan tatapan kebencian yang selalu Elsa lemparkan pada Adit tiap kali mereka bersama.
Adit kembali menyuapi bakso ke dalam mulut Elsa.
"Ngomong-ngomong, lo tadi kenapa gak masuk kelas? Rayya yang ngasih tau, dan tumben banget lo bolos."
Elsa terkekeh, ia mengunyah baksonya terlebih dahulu dan setelah itu barulah ia menjawab pertanyaan Adit.
"Bolos itu wajar tau! Selama SMA tapi ga pernah bolos mah gak seru!!"
"Gue gak pernah tuh."
Elsa mendecih, "ya itu karena kak Adit murid teladan, mana bisa murid teladan kek kak Adit bolos. Pemikiran kita itu beda!"
Adit memutar bola matanya, ia kembali menyuapi Elsa. "Lain kali jangan diulangi lagi."
"Iyayayayayayayayayyayayayayayaayyayayaaya."
Adit tersenyum gemas. Ia tidak lagi menyuapi Elsa karena baksonya telah habis. Tapi nampaknya Elsa masih belum kenyang dan masih menginginkan bakso itu lagi. Buktinya cewek itu malah menatap mangkuk bakso yang telah kosong dengan tatapan seperti orang yang tidak makan selama satu tahun.
Tuhan.. nyulik anak orang dosa ga ya? batin Adit gemas.
"Mau lagi?" tawar Adit.
Elsa mengangguk dengan semangat. Ia memasang wajah polos serta diberi efek ke-imut-an agar Adit luluh dan memberinya semangkuk bakso lagi. Dan usaha Elsa memang berhasil membuat Adit luluh.
Elsa menanti dengan sabar semangkuk baksonya. Sambil menunggu Adit, Elsa memperhatikan seisi kantin dan ia baru sadar jika dari tadi hampir semua siswi yang ada di kantin saat itu sedang memandang Elsa dengan tatapan iri yang begitu kentara.
Elsa melongo. "Ini pasti gara-gara Adit." batinnya.
Tak lama kemudian Adit datang dengan semangkuk bakso kesukaan Elsa. Ketika itu Elsa langsung mengabaikan orang-orang yang memperhatikan dirinya dan ia lebih memilih fokus pada semangkuk baksonya.
"Mau disuapin lagi?" tanya Adit.
Elsa menggeleng, "enggak usah deh. Apa kak Adit gak liat kalo daritadi para penggemar kak Adit itu melotot ke arah aku."
"Peduli banget sih sama orang-orang, mending fokus sama diri lo aja ratu Elsa."
"Bodo amat!"
"Pelan-pelan makannya. Malu diliatin orang-orang. Cewek kok makannya gak ada anggunnya sama sekali." tegur Adit.
"Tadi katanya gue gak usah fokus sama orang-orang!" gerutu Elsa.
Adit hanya diam dengan pandangan yang tak lepas dari Elsa. Sakit juga ternyata mencintai adik tiri sendiri.
"Gue pergi dulu ya."
Elsa seketika berhenti makan. Ia langsung memasang wajah cemberut andalannya pada Adit.
"Gue belum selesai makan tau!"
"Yaelah lo kan jomblo, udah sering makan sendiri."
Elsa menggeleng, bukan itu maksudnya. "Kak Adit udah bayar belom baksonya?"
Adit menggeleng dengan tampang polosnya, namun diam-diam dalam hati ia menyeringai karena berhasil mengerjai Elsa.
"Itu kan lo yang makan baksonya. Kenapa harus gue yang bayar?"
Setelah berkata demikian, Adit langsung pergi meninggalkan Elsa yang terlihat akan mengamuk.
"Mampus lo!" batin Adit.
"Bangsat!!!"
[.]
KAMU SEDANG MEMBACA
Edelweis
Teen FictionKematian itu pasti. Rasa cinta dan sayang bisa pudar. Semuanya bisa datang dan pergi kapan pun namun tak ada yang menetap. Oleh sebab itu, ada pepatah yang mengatakan bahwa "Dalam kehidupan, tidak ada yang abadi, karena untuk setiap 'selamat datang'...
