Dalam sendu Elsa terdiam, berteman gerimis yang tak rela pergi. Ada luka baru yang kembali menghampiri, padahal luka lama pun belum sempurna sembuh. Memang benar, tak ada yang lebih sakit daripada kehilangan, karena sekuat apapun mencoba mengikhlaskan tetapi tetap saja luka itu tak mau berlalu. Ingin rasanya berteriak, ingin rasanya mengeluarkan segala kesedihan yang terpendam, namun tak ada tempat mengadu. Hanya seorang diri, berteman sepi padahal di keramaian.
Elsa menaburkan bunga pada gundukan tanah yang masih basah itu, jemarinya bergetar kala menggenggam bunga, pemandangan itu menambah mengoyak hati orang-orang yang memperhatikan gadis malang itu. Dia masih amat belia, namun kesedihan tak henti datang menghampirinya, bertubi-tubi sampai tak bisa dihindari.
Tak ada lagi bunga untuk ditaburkan, Elsa beralih menyirami makam dengan air. Meskipun kala itu gerimis sedang melanda, ia tetap menuangkan air ke kuburan orang yang disayanginya itu.
Baru saja ia ingin memulai kehidupan yang baru, baru saja ia ingin mencoba mengikhlaskan kepergian Ibunya, dan baru saja ia ingin berdamai dengan semua luka-luka di masa lalu. Namun, seolah semesta tidak ingin dirinya berbahagia, seolah semesta hanya ingin Elsa terjebak dan hidup dalam luka masa lalunya, kembali lagi, luka baru kembali menghampiri, seolah hanya kepada Elsa luka itu berpulang.
Ingin rasanya menangis sampai air mata tak mampu lagi keluar, ingin rasanya berteriak sampai suara tak lagi mampu berteriak, namun semua itu hanya sia-sia belaka. Luka itu tak kenal ampun, tanpa permisi, begitu saja menghampiri, Elsa belum siap sama sekali menerima luka baru.
"Tuhan, dimana letak kebahagiaan itu?" batin Elsa.
Pertanyaan itu dijawab dengan gerimis yang berubah menjadi hujan lebat, membuat orang-orang yang sedang berduka itu berlarian mencari tempat berteduh, semuanya pergi, meninggalkan Elsa sendirian berteman luka.
Kembali lagi, Elsa merasakan lagi bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh orang yang teramat berarti baginya. Kenapa orang-orang yang disayanginya selalu berakhir meninggalkannya dan meninggalkan luka yang teramat dalam? Apakah Elsa benar-benar tak pantas bersama dengan orang-orang yang disayanginya? Apakah Elsa hanya boleh berteman luka dan kesedihan?
"Kalau papa juga pergi, Elsa sama siapa? Kenapa papa gak ngajak Elsa kalau papa mau nyusul mama?"
Padahal, baru saja ada harapan dalam diri Elsa untuk memulai semuanya dari awal bersama Ayahnya dan keluarga barunya, namun belum sempat harapan itu terwujudkan, semesta dengan teganya menghancurkan angan-angan kecil yang Elsa coba untuk ciptakan demi menjemput secuil kebahagiaan.
Semesta mengutuknya.
Elsa mulai tersedu, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga, jatuh bersamaan dengan air hujan yang membasahi bumi.
Sampai kapan harus bersabar? sampai kapan harus berteman luka dan kesedihan? apakah tidak ada jalan untuk bahagia?
Intinya, Elsa lelah, jiwa dan raganya.
"Elsa.. ayo pulang nak."
Elsa terperanjat, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya berdiri tiga orang yang selama ini tak pernah ia harapkan kehadiran mereka dalam hidupnya, namun sekarang di saat semua orang meninggalkannya, tiga orang itu malah tetap bersamanya, tanpa ada rasa benci sedikit pun, ikhlas menemani Elsa dalam kesedihannya itu.
Ibu tirinya perlahan mendekati Elsa, beliau duduk di samping Elsa, di mata itu juga tersirat kesedihan, kesedihan ketika ditinggalkan oleh orang tersayang. Tangis Elsa semakin pecah kala Ibu tirinya itu memeluk dirinya sambil terisak, Elsa membalas pelukan Ibu tirinya itu, untuk pertama kalinya. Ada rasa nyaman, kehangatan, rasa yang selama ini Elsa rindukan dari sosok Ibu.
"Ada mama disini, ada Kak Adit, ada Rayya juga. Elsa nggak sendirian kok."
Adit dan Rayya ikut berpelukan, keluarga kecil itu menangis sedih di bawah lebatnya hujan. Saling menguatkan, saling menenangkan. Sederhana, namun itu yang benar-benar Elsa butuhkan untuk saat ini. Orang-orang yang menemaninya disaat luka seperti ini.
"Elsa minta maaf ma."
Untuk pertama kalinya Elsa menyebut Ibu tirinya dengan sebutan "mama", tak ada lagi kata tante.
"Kamu gak ada salah sama mama nak."
Elsa makin terisak mendengar jawaban Ibu tirinya itu, ke mana saja dia selama ini sampai mengabaikan kebaikan dan ketulusan dari Ibu tirinya itu? Elsa benar-benar merasa menyesal sekarang, dia merasa sangat bersalah. Bagaimana bisa dahulu ia berperilaku buruk terhadap Ibu tirinya itu.
Hujan semakin lebat, membasahi seluruh permukaan bumi, namun keluarga kecil itu yang baru saja kehilangan seseorang yang teramat berarti dalam hidup mereka tak ada tanda-tanda akan meninggalkan kuburan yang sepi itu. Rasa kehilangan itu masih nyata, masih ada secuil rasa tidak rela akan perpisahan yang menyakitkan ini, masih ada secuil harapan agar semuanya kembali seperti dulu, tak ada yang pergi dan tak ada yang ditinggalkan.
Namun, itu semua hanyalah harapan semu. Sampai kapan pun tak akan pernah terwujud.
Elsa kembali menatap makam Ayahnya, seseorang yang menjadi tempat berlindungnya ketika ditinggalkan oleh sang Ibu.
"Selamat jalan papa, semoga papa ketemu mama, berbahagialah disana. Elsa disini juga akan mencoba berbahagia." batin Elsa
[.]
Tiati virus corona ges ((:
KAMU SEDANG MEMBACA
Edelweis
Ficção AdolescenteKematian itu pasti. Rasa cinta dan sayang bisa pudar. Semuanya bisa datang dan pergi kapan pun namun tak ada yang menetap. Oleh sebab itu, ada pepatah yang mengatakan bahwa "Dalam kehidupan, tidak ada yang abadi, karena untuk setiap 'selamat datang'...
