18

129 18 10
                                        

Suasana sepi beradu langit mendung hari itu membuat perasaan Elsa tak karuan ketika dengan tangannya yang gemetar itu ia meletakkan buket bunga di makam Ibunya. Ia menatap lama nisan yang bertuliskan nama Ibunya, rasanya masih sama, masih sakit, seolah-olah Ibunya baru saja meninggal, dan perasaan tidak ikhlas itu kembali menyeruak dalam diri Elsa.

Elsa memangku kue ulang tahun yang sengaja dibelinya, dengan mata berkaca-kaca ia menyalakan lilin yang ada di atas kue tersebut. Aneh sekali rasanya, dulu sewaktu Ibunya masih hidup Elsa tak pernah merayakan ulang tahun Ibunya, bahkan dia terkesan acuh dengan hari kelahiran Ibunya itu. Tetapi sekarang dia malah merayakannya sendirian pula dikuburan.

"Selamat ulang tahun mama.. baik-baik ya di surga."

Elsa meniup lilin yang menyala, bersamaan dengan itu pula air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh mengalir dikedua pipinya.

Lilin itu padam. Namun air mata Elsa tak mau berhenti. Meski begitu, Elsa tetap memotong kue ulang tahun tersebut dengan air mata yang ikut jatuh membasahi kue ulang tahun untuk Ibunya.

"Kuenya enak ma," lirih Elsa, ia bersusah payah menelan kue yang manis itu, tetapi entah kenapa terasa hambar di lidahnya.

Tangis Elsa pecah, wajahnya sudah basah oleh air mata, hidungnya memerah, bibirnya bergetar. Tetapi ia tetap menyuapkan potongan kue dengan tangan gemetar ke mulutnya.

"Maaf ma, sebenarnya tadi Elsa sempat lupa dengan ulang tahun mama. Elsa benar-benar anak yang durhaka ma."

Elsa sudah tak sanggup lagi. Ia meletakkan kue yang sejak tadi dipangkunya ke atas tanah. Elsa perlahan lebih dekat lagi dengan makam Ibunya untuk memeluk nisan yang di sana tertuliskan nama Ibunya.

Nyaman. Hangat. Itu yang dirasakan Elsa. Ia mensugesti dirinya bahwa yang saat itu sedang dipeluknya adalah sosok Ibunya, bukan batu nisan.

"Mama kangen sama Elsa gak? Udah lama Elsa gak liat senyum mama."

Elsa semakin mengeratkan pelukannya. Berulang kali ia mencium nisan Ibunya, menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam, rasa rindu yang begitu menyiksa, rasa rindu yang tak kan ada obatnya.

"Ma, Elsa nangis mulu tiap ketemu mama. Bantu Elsa ma, gimana caranya memeluk semua rasa sakit ini? Elsa selalu terjebak dalam luka yang gak kunjung sembuh ini."

Elsa terisak, matanya yang memerah dan senantiasa mengeluarkan air mata itu menatap dalam pada gundukan tanah makam Ibunya. Rasa sakit yang dulu itu kembali muncul ke permukaan dan akan selalu ada dalam diri Elsa. Luka itu belum sembuh sama sekali, dan entah kapan bisa terobati. Ia sudah mencoba berdamai dengan hatinya, ia sudah mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Ibunya, tapi tetap saja ia gagal, Elsa tak akan pernah bisa melupakan hari itu, hari di mana ia terpisah untuk selamanya dengan Ibunya.

"Ma, jawab dong.. bantu Elsa menghadapi semua ini. Elsa butuh seseorang, namun gak ada yang bisa mengerti Elsa, termasuk papa. Elsa merasa hidup disini sendirian ma, Elsa kesepian ma."

Elsa mengusap air matanya. Percuma saja. Ibunya telah meninggal. Mau menangis darah pun Ibunya tetap tidak akan kembali ke dalam hidupnya. Sejenak ia merenungkan kata-kata Ayahnya tadi sebelum Elsa ke makam Ibunya.

"Elsa, lebih baik mulai sekarang kamu memulai hidup baru, jangan di ingat-ingat apa yang dahulu, jangan diingat lagi sesuatu yang bikin kamu terluka. Ayo kita berdamai dengan masa lalu nak."

"Apa Elsa bisa ma? Apa Elsa sanggup memulai hidup baru tanpa mama?"

Elsa terdiam cukup lama. Sekali lagi ia menatap gundukan tanah makam Ibunya. Lalu matanya beralih menatap kue ulang tahun yang masih banyak sisanya. Sebetulnya Elsa lelah, ia lelah disiksa rasa sakit setiap saat, ia lelah berteman luka, ingin rasanya ia hidup normal seperti remaja lainnya yang tak mempunyai beban hidup seberat dirinya.

Tetapi, pertanyaan itu muncul kembali.

Apakah Elsa bisa?

Tiba-tiba ponsel Elsa yang berada di saku roknya berbunyi, ia cukup terperanjat dengan nada dering yang tiba-tiba berbunyi itu. Tetapi akhirnya Elsa tetap mengambil ponselnya, di sana tertera jika Ayahnya yang menelepon.

Elsa mengernyit, ia sedikit bingung. Untuk apa Ayahnya menelpon dirinya? Bukankah Ayahnya sedang jalan-jalan bersama Ibu dan saudara tirinya?

Karena penasaran, Elsa mengangkat telepon dari Ayahnya tersebut, meskipun Elsa tak bisa berbohong jika saat itu ia sedang kesal dengan Ayahnya karena lebih memilih jalan-jalan bersama keluarga barunya daripada menemani Elsa merayakan hari ulang tahun Ibunya.

"Halo pa?"

"Kamu dimakam mama kamu nak?"

Elsa awalnya mengangguk, tetapi ketika sadar jika Ayahnya tak bisa melihat anggukan kepalanya itu, akhirnya ia bersuara, "iya. Kenapa pa?"

Elsa bisa mendengar helaan napas lega di seberang sana. Itu jelas suara napas Ayahnya.

"Papa mau kesana, papa batalin rencana jalan-jalan. Tunggu papa ya nak, kita rayakan ulang tahun mama bareng-bareng."

Elsa terenyuh, ia kembali mengangguk disertai senyuman yang terbit di bibir mungilnya. "Iya pa, Elsa tunggu disini."

Telepon terputus. Elsa menatap bahagia nisan Ibunya. Ia tak sabar menunggu kedatangan Ayahnya, ada perasaan senang yang membucah dalam dirinya saat membayangkan ia ada di makam Ibunya bersama sang Ayah untuk merayakan ulang tahun almarhumah Ibunya.

Sangat sederhana, namun memang itu yang diinginkan Elsa sejak dulu. Elsa tidak ingin Ayahnya melupakan Ibunya meskipun Ibunya sudah tiada.

Namun, Elsa tidak pernah tau, jika sampai kapan pun Ayahnya tak akan datang ke makam Ibunya untuk merayakan hari ulang tahun Ibunya itu.

Penantiannya sia-sia belaka.

[.]

EdelweisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang