Pernahkah kau sedikit berbenah diri ke belakang untuk mengingat, berada di sisi sepertiku butuh perjalanan panjang yang harus kutempuh sendiri? Sementara kau masih menancapkan setangkai mawar di dadaku. Memilih satu diantaranya, mempertahankan mawar itu tetap hidup tetapi aku yang akan menanggung sakit menahun atau mencabutnya seolah aku akan bertahan hidup lama tanpanya.
Dia pernah kau bisikkan di daun telingaku, sebaik apa dia memperlakukanmu. Dengan meriahnya kau bercerita, sementara hatiku saat itu sudah hampir binasa. Tak perlu aku berteriak marah, di depanmu aku menahan rasa cemburu yang kian memburu. Tanpa sadar kau seolah menjahit jantungku secara sengaja dengan jarum kenangan terbaikmu. Sedangkan aku hanya tersenyum menggigit lidah yang sudah berdarah. Semakin aku tersenyum, kau semakin semangat bercerita. Malah, jarum di tanganmu seolah tak berhenti meniti.
Perihal bodoh telah kukembangkan, membiarkanmu memekarkan kenangan di depanku tak pernah kularang. Jangan tanya kenapa. Melarangmu yang kutakutkan akan menjauhkanmu dariku. Biarkan aku yang menikmati kau bahagia dengan menginjak jantungku. Aku tak ingin kau pelan-pelan menjauh hingga menghilang dari muka bumi ini.
Ternyata menganggapmu lebih di kepalaku, hanya mengurangkan sebagian akalku.
.
.
Kau yang menggenggam. Kau yang melepas. Sedang aku, hanya mampu merintih perih.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengenangmu Seperlunya
Ficção Adolescente(Follow Dan nikmati lukaku bersama-sama di instagram. @serumpunsendu) . Beberapa kehilangan kerap kali menjadikan seseorang juga ikut kehilangan jiwa-jiwanya. Terkadang apa yang kau perjuangkan, tidak seperti apa yang akan kau harapkan. Sejatinya ci...
