Bab 4.1[Revisi]

44 25 9
                                    

"Sha. Pacaran yuk."

Mysha membatu seketika, ia sontak menatap Arvino yang sialnya juga sedang menatap ke arahnya. Kali ini Mysha benar-benar dibuat bungkam oleh Arvino. Tatapan lelaki itu benar-benar berbahaya. Mysha masih terdiam berusaha menguasai dirinya dan mengabaikan perkataan Arvino.

"Sha—"

"Kenapa?" Mysha langsung menghentikan perkataan Arvino. Matanya berkelit menolak memandang lelaki di hadapannya.

Arvino perlahan mengulurkan tangannya dan menangkap pergelangan tangan Mysha. Sedang tangannya yang lain terulur ke arah wajah perempuan itu dan mengarahkannya tepat ke depan wajahnya. Arvino menatap bola mata Mysha lekat-lekat dan mereka bertatapan cukup lama, sebelum Arvino tersadar dan melepaskan tangannya dari wajah Mysha dengan wajah dan telinga semerah tomat. Lelaki itu berdeham berusaha menghilangkan kecanggungan dan kegugupannya. "Orang bilang perempuan sama laki-laki gak bakalan bisa bersahabat selamanya, ya udah lagian kita udah saling nyaman satu sama lain. Kenapa enggak buat pacaran? Karena kita nggak mungkin selamanya jadi sahabat bukan? Dan aku juga tidak mau mengakhiri kebersamaan kita."

Mysha melongo menatap Arvino, perasaanya campur aduk antara terharu dan kesal. Bagaimana bisa lelaki itu mengajaknya pacaran dengan alasan yang begitu konyol dan tidak masuk akal? Tapi di sisi lain Mysha juga tidak rela jika kebersamaan mereka berakhir.

"Gimana bisa? Nantinya juga masing-masing dari kita pasti punya pasangan dan memiliki kehidupan sendiri. Jadi memang kata sahabat untuk lawan jenis itu tidak mungkin selamanya karena memang kehidupan tidak hanya berputar di sekitar mereka."

"Tidak, aku sudah cukup denganmu. Aku tidak bisa membayangkan jika harus berhadapan dengan banyak makhluk sepertimu di lain tempat, itu akan membunuhku perlahan. Jadi cukup kamu satu aja." Ucapan Arvino sontak membuat kegugupan Mysha menghilang. Kini wajah cantik itu memberengut kesal. "Dasar perusak suasana." Tangannya mencubit perut keras Arvino yang disambut tawa oleh lelaki itu.

Lengan Arvino dengan cepat menarik kedua pergelangan tangan Mysha dan memegangnya erat-erat. Raut wajahnya berubah serius dan ia menatap tepat ke bola mata Mysha.

"Jadi, kita resmi pacaran."

֍֍֍

"Pacaran??"

Mysha hanya menunduk berusaha menyembunyikan rona di pipinya yang mulai terasa panas. Berbeda dengan tiga perempuan di hadapannya yang kini tengah melotot seakan tengah mendengar berita yang begitu mengerikan. Seolah sadar dengan tatapan tajam temannya, Mysha segera mengadahkan kepala. "Kalian..tidak suka?"

"Kau masih bertanya?"

"Bagaimana bisa?"

"Lalu Raka gimana?"

Seruntutan pertanyaan yang terlontar dari ketiga bibir teman perempuannya yang tak lain adalah Dinda, Anya, Lia berhasil membuat Mysha memutar bola mata.

"Kenapa?" tuduhnya.

"Yah..banyak yang lebih baik dari Arvino."

Kini tatapan Mysh beralih ke arah Dinda.

"Banyak perempuan yang lebih baik dari aku. Tapi Arvino memilihku."

Lia memutar bola mata kesal. "Mungkin dia hanya sedang bermain-main denganmu. Kau tahu Arvino bukan berasal dari keluarga baik-baik. Lihatlah perlakuannya yang begitu dingin kepada yang lain, seolah-olah dia tidak membutuhkan orang lain saja."

"Kita hanya tidak ingin kau sakit hati nantinya," tutur Anya lembut.

Mysha memicingkan matanya menatap Lia, "Aku cukup baik mengenal Arvino, jika itu yang kalian takutkan. Arvino orang baik dan aku tahu itu."

"Mys—"

"Tidak, kumohon dengarkan aku. Arvino nggak seburuk yang kalian pikir. Aku tanya, pernahkah Arvino memainkan hati perempuan-perempuan di sekolah ini? Suka pukul? Ikut tawuran? Nggak kan? Tentang sikap Arvino, bukankah masing-masing orang punya karakter sendiri?"

"Kau berkata seperti itu karena kau dibutakan oleh kebaikannya yang mungkin hanya sementara—"

"Kukira empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal siapa Arvino."

Dengan marah Mysha membalikkan badan lalu melangkah meninggalkan ruang kelas tanpa menggubris panggilan teman-temannya.

Ia keluar dari kelas dan hendak berbelok ke arah lorong di sebelah kanannya ketika sesosok tubuh tegap membuatnya berhenti dan tertegun. Sejak kapan Arvino berdiri di sana? Apa ia mendengar semua perkataannya dan teman-temannya?

"Hai." Arvino tersenyum kecil.

Mysha terdiam melihat senyum Arvino, kemudian dengan cepat ia menarik pergelangan lelaki itu dan membawanya pergi. Ia mengabaikan beberapa panggilan Arvino yang menyuruhnya untuk berhenti. Mysha terlalu marah untuk sekedar menjawab pertanyaan Arvino.

"Sha wait, stop."

Mysha merasakan tarikan kuat di pergelangan tangannya yang masih menggenggam tangan Arvino. Ia memutar tubuh lalu melepaskan cekalan tangan Arvino yang lain di pergelangannya dan kembali menariknya. Kali ini Arvino berhasil menghentikan niatan Mysha.

"Ada apa?"

Mysha menatap Arvino beberapa detik sebelum memalingkan wajah.

"Kamu..dengar?"

"Apa?" Arvino mengangkat satu alisnya, bertanya.

"Di kelas. Lia, Dinda, Anya. Obrolan kita..kamu mendengarnya kan?"

Arvino terdiam beberapa detik, lalu, "ya."

Mysha menghela napas kemudian menggaruk ujung pelipisnya. "Maaf—"

"Jangan. Jangan minta maaf untuk kesalahan yang nggak kamu lakukan."

Mereka terdiam cukup lama. Mysha terus menunduk menatap ujung sepatunya. Ia tidak siap jika harus menatap wajah Arvino dan menemukan sorot luka di sana. Mysha tahu sudah berapa banyak kesakitan di sana dan ia tidak ingin menambahnya lagi.

"Sha." Arvino meraih dagu Mysha pelan dan medongakkannya.

"Jadi dianterin ke Gramed gak nih. Kalau masih betah nunduk di situ mending aku duluan aja deh."

Mysha cemberut menatap Arvino. "Awas kalo berani," ucapnya berpura-pura kesal.

Arvino terkekeh, ia memutuskan untuk menghentikan pembicaraan mengenai apa yang terjadi di kelas Mysha tadi dan sebagai gantinya ia menarik pergelangan tangan Mysha dan membawanya ke parkiran. 

MIS-UNDERSTANDING [REVISI] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang