"Pakai yang bener helmnya." Ucap Arvino begitu melihat Mysha menggunakan helmnya dengan serampangan. Ia menghela napas kemudian dengan cepat menarik kepala Mysha mendekat, lalu tangannya menyusuri kaitan helm di leher Myha dan mengancingkannya. Klik.
Mysha tersenyum kaku dan merona secara bersamaan, menyadari posisinya dengan Arvino yang begitu dekat. Arvino memang marah padanya namun laki-laki itu tidak benar-benar mengabaikannya.
"Makasih," jawab Mysha kemudian mulai menaiki jok motor.
Tidak ada yang berbeda dengan Arvino siang ini. Laki-laki itu masih saja mendiamkannya. Perjalanan mereka ke rumah Mysha pun hanya dilingkupi oleh keheningan keduanya.
Mysha berdeham lalu mendekatkan kepalanya ke arah Arvino. "Vin..." lirih Mysha. "Tentang tadi—"
"Bentar Sha, aku lagi nyetir."
Mysha mengatupkan mulut erat-erat. Ia sadar, Arvino dengan jelas menolak untuk berbicara dengannya. Mysha menelan ludah kasar berusaha menghilangkan denyutan aneh di dadanya. Ia menarik napas lalu menautkan kedua tangannya di depan perut Arvino, memeluknya dengan hati-hati. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di punggung kokoh laki-laki itu dan menghirup aromanya dalam-dalam. Sesaat ia bisa merasakan punggung kokoh itu menegang sebelum kembali melemah bersamaan dengan satu kata yang terlontar dari mulut Mysha. "Maaf," lirihnya.
Mysha beruntung Arvino tidak menolaknya terang-terangan. Mysha saja hampir tidak punya keberanian untuk berbicara dengan laki-laki itu lagi, jika saja Arvino memilih untuk tidak datang ke rumahnya pagi ini.
"Sha."
Mysha bergumam dengan kepala yang masih bertengger di pungguh Arvino. Cekalan kedua tangannya perlahan terlepas, membuat Mysha menegakkan kepalanya dan menatap Arvino bingung.
"Oh udah sampai?" sentak Mysha, begitu menyadari motor Arvino sudah berhenti di depan gerbang rumahnya. "Maaf, nggak sadar."
"Maaf menjadi sebuah kebiasaan, ketika akhirnya salah bukan lagi penyesalan."
Mysha mengerutkan kedua alisnya, menatap Arvino bingung. "Maksudmu?"
"Jangan terlalu sering melontarkan kata maaf, kalau nggak tahu makna penting dalam kata itu."
Mysha terdiam merasa tersinggung dengan ucapan Arvino. Ia menatap Arvino yang kini juga sedang menatapnya datar.
"Kamu nggak mau aku minta maaf sama kamu?" Mysha melepas kaitan helmnya cepat lalu memandang Arvino sendu. "Aku harus gimana Vin? Aku nggak bermaksud bohongin kamu kayak gini. Aku juga nggak mau terus-terusan bertengkar sama kamu."
"Tapi pada akhirnya semua ucapanmu menjadi kenyataankan? Kamu berbohong dan kita bertengkar."
Mysha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Merasa tertohok dengan ucapan Arvino. Pun rasa sesal yang kian menumpuk.
"Kamu tahu, kemarin aku ada di sana" Arvino menghentikan perkataannya sejenak lalu mengulurkan satu tangannya menunjuk sebatang pohon yang ada di seberang jalan. Kemudian turun dari motor untuk kembali menghadap Mysha. "Saat Raka mengantarmu pulang dan sesaat sebelum aku menelponmu, aku melihatmu dan Raka berdiri di sini, dia—"
"Vin..."
"Kamu mau bilang kalau itu nggak seperti yang aku pikirkan?" Arvino tertawa kaku.
"Memang nggak seperti itu—"
"Lalu apa lagi yang harus aku pikirkan saat melihat Raka mencium pacarku begitu saja di depan mataku sendiri?"
Mysha terdiam mendengar nada frusasi dari laki-laki di depannya. Seharusnya ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, bukan hanya diam dengan terus memupuk rasa bersalah seperti ini.
"Kamu selalu berkata bahwa semua yang kupikirkan itu salah. Tapi kamu sendiri yang terus membuatku berpikir seperti itu," ucap Arvino.
Ia menatap Mysha lama, berharap perempuan itu sedikit saja menegerti betapa sakit perasaannya sekarang. Setelah beberapa detik penuh keheningan, akhirnya Arvino memilih untuk membalikkan badan dan kembali menaiki jok motornya.
"Aku rasa kita butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Untuk sementara, aku nggak bisa antar-jemput kamu dulu." Suara Arvino terdengar menggema di telinga Mysha.
"Sha, kamu tahu aku benar-benar mempercayaimu, kamu udah memiliki kepingan terakhir hatiku untuk kamu genggam."
Arvino menatap sebentar ke arah Mysha lalu melenggangpergi. Meninggalkan Mysha yang mematung, mencoba mencerna setiap arti kata yangdiucapkan oleh Arvino.

KAMU SEDANG MEMBACA
MIS-UNDERSTANDING [REVISI]
Roman d'amourMysha menikmati hidupnya yang sekarang. Ia punya keluarga yang pengertian, juga Arvino, sahabat yang kini merangkap sebagai kekasihnya. Semua terasa sempurna bagi Mysha, sebelum seseorang dari masa lalunya kembali datang dan menghancurkan kebahagia...