Bab 9.1[Revisi]

23 15 1
                                        

"Kamu..ngapain di sini?" Tanya Mysha pelan. Ia berusaha mengabaikan tatapan tajam yang diberikan Arvino kepadanya.

Matanya hanya mampu menatap hidung lurus lelaki itu. Perasaan bersalah begitu menumpuk di benaknya ketika melihat sorot kekecewaan di mata Arvino. Mysha sangat tahu kemungkinan bahwa sekarang Arvino menganggapnya telah berbohong. Tapi untuk mengatakan satu pembelaan saja bibirnya tak mampu.

"Cuma ingin menjernihkan pikiran seperti biasa."

Mysha tertohok dengan jawaban Arvino. Laki-laki itu pasti sedang dalam masa sulit dan Mysha mengabaikannya. Tadi siang ia tidak berpikir sejauh itu saat Arvino berkata ingin ke rumahnya. Ia hanya terfokus pada rencananya dan ketiga temannya untuk melakukan quality time sepanjang hari. Dan Mysha mulai menyesali itu.

"Maaf, aku nggak tahu kalau kamu sedang banyak—"

"Nggak masalah, nggak penting juga. Rupanya kamu bersenang-senang hari ini. Kalau gitu aku pulang, segera istirahat."

Mysha melihat Arvino tersenyum tipis lalu beranjak begitu saja dari sisinya.

"Vin.." ucap Mysha, berbalik secepat yang ia bisa.

Arvino menoleh dan mengangkat kedua alisnya, bertanya. Mysha mencoba menyuarakan isi kepalanya namun tak ada satupun kata yang berhasil keluar. Ketika akhirnya bibirnya terbuka, hanya satu kalimat yang bisa ia lontarkan.

"Hati-hati, dan telpon setelah sampai," pintanya. Dengan itu Arvino mengangguk kemudian mulai menyalakan mesin motornya dan pergi.

֍֍֍

Seharusnya Mysha tahu jika Arvino tidak akan menelponnya. Tapi entah mengapa dia masih berharap jika laki-laki itu akan sedikit mengasihaninya dengan menelponnya. Mysha berdecak melihat jarum jam yang menunjukkan angka 21.40, tidak mungkin Arvino masih dalam perjalanan bukan?

Mysha menghela napas kasar lalu dengan cepat meraih ponsel di atas nakas. Nada sambung terdengar begitu Mysha menekan tombol telepon di kontak Arvino. Dering pertama, kedua, ketiga, Mysha masih sabar menanti.

Namun ketika akhirnya operatorlah yang menjawab, membuat perasaan resah Mysha semakin nyata. Ia kembali menelpon, lagi dan lagi, yang terus saja berujung pada suara operator. Rasanya Mysha akan menangis detik itu juga jika Arvino masih memilih untuk mengabaikannya.

Selama hampir empat tahun kedekatannya dengan Arvino, laki-laki itu tidak pernah sekalipun mengabaikannya, entah seberapa kesal dan marahnya laki-laki itu padanya. Tapi sekarang, menjawab telepon darinya saja Arvino tidak mau.

Ketukan di pintu kamarnya membuat Mysha tersentak. Ia menoleh dan melihat Sarah, bundanya masuk dan membawa sepiring buah-buahan.

"Tadi Arvino ke sini tanding catur sama ayah," kata bundanya sambil tersenyum.

Mysha menelan ludah. "Udah..lama?"

Mysha melihat ibunya menatapnya bingung. "Iya, sepulang sekolah. Awalnya bunda kira ia sedang ada masalah, tapi sepertinya bunda salah. Arvino tidak memberitahumu?"

"engg..enggak," jawab Mysha.

Sarah mengernyitkan dahi. "Padahal saat tadi bunda menyuruhnya menunggumu di sini, Arvino bilang akan memberitahumu." Kemudian Sarah menunjukkan raut terkejut. "Berarti Arvino menunggumu satu jam lamanya dan kamu tidak tahu?" lanjutnya.

Mysha mengangguk ragu lalu meringis. "Sepertinya begitu. Mmm bun.." Mysha menatap ragu-ragu ke arah Sarah.

"Iya?"

"Kalau Arvino marah ke Mysha gimana?"

"Nggak mungkin, yang bunda tahu kamu yang selalu kesal ke Arvino," ejek Sarah, namun Mysha tidak lagi menganggapnya lucu untuk saat ini.

"Tapi, tadi Mysha berbuat sedikit kesalahan dan sepertinya Arvino marah. Bunda tahu kan, sekarang kita bukan lagi sahabat."

Sarah mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Mysha kembali melanjutkan. "Tadi siang yang Arvino tahu Mysha pergi dengan Lia, Dinda, dan Anya, tapi saat pulang tadi, Arvino melihat Mysha di antar pulang sama Raka."

"Kamu bertemu Arvino?" ucap Sarah terkejut.

"Iya." Jawab Mysha lesu.

"Dan siapa itu Raka?"

"Eh..itu, temen SMP Mysha yang dulu pernah ke sini juga."

Mysha melihat bundanya mengerutkan kening sebentar, lalu, "Oh nak Raka, pacar kamu dulu ya?"

Setelah itu ia melihat bundanya tersenyum kecil sambil perlahan mengelus rambutnya. "Udah nggak perlu galau gitu. Percaya sama bunda, besok pagi Arvino pasti udah di sini lagi."

Mysha mengangguk lesu kemudian merebahkan badan di kasur dengan pikiran yang penuh.

MIS-UNDERSTANDING [REVISI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang