“Ternyata kita seruangan ya?”
Nary merasa jantungnya seketika berhenti berdetak. Matanya kian melebar dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Ry?” Panggil orang itu sambil melambaikan tangannya. “Jangan cengo dong.” Katanya sambil terkekeh.
Mata gadis itu mengerjap pelan. Baru saja hendak berbicara, pengawas yang akan mengawasi ruangan mereka masuk. Hal itu membuat Nary kembali merapatkan bibirnya lalu berbalik memandang ke depan.
***
“DEMI APA?!” Suara Kiala menggelegar dalam ruangan diikuti suara gebrakan meja. Mata bulat Kiala semakin melebar hingga seperti ingin keluar saat itu juga dari pelupuk matanya.
“Ry, lo ...” Seketika Isil tak tahu ingin mengatakan apa lagi pada sahabatnya yang satu ini.
Sedangkan Nary hanya mengacak rambutnya sambil meringis beberapa kali. “Dari ratusan orang yang sekolah disini, kenapa gue harus seruangan sama dia?!”
Ayle memegang pundak Nary. “Terus tadi pas selesai ujian gimana?”
Nary melirik Ayle sekilas. “Gue langsung ngacir aja pas pengawas keluar.” Katanya dengan parau.
Kiala berdecak sinis. “Ngapain sih tu orang kembali saat lo udah merasa bebas?”
“Entah kenapa kalo gue ingat kembali, gue jadi geli ilfeel gimana gitu.” Tambah Isil sambil bergidik.
“Terus kalo dia kembali ngejar gue gimana? Gue juga bingung kali. Padahal belakangan ini 'kan dia udah gak muncul lagi di hadapan gue— Eh enggak!” Pekik Nary ketika mengingat sesuatu. “Gue pernah berpapasan sama dia di koridor waktu Pak Harles nyuruh ngambil atlas.”
Ayle langsung menjentikkan jarinya sambil menatap Nary antusias. “Mungkin aja sejak saat itu dia kembali kesemsem sama lo terus ngedekatin lo lagi deh.” Simpulnya.
“Heran gue. Tu orang punya kelainan jiwa ya? Ga ada kapok-kapoknya.”
“Ga peka kali sama rangsangan.”
“Hah? Rangsangan apa?” Tanya Ayle bingung.
“Tentu aja ransangan yang di berikan Nary. Kan Nary biasanya ngasih penolakan tuh, masa dia ga peka-peka sih kalo Nary risih sama dia?” Jelas Kiala panjang lebar.
“Ganteng sih, tapi sikapnya itu lho ... buat ilfeel.”
“Lagian gue udah punya Kak Asta, ngapain dia deketin gue lagi?” Kata Nary sambil mencuatkan bibirnya kesal.
“Udahlah. Jangan nethink dulu. Mungkin aja kebetulan 'kan? Lagian dia belum ada tanda-tanda ngedeketin Nary.” Ujar Isil membuat Nary langsung menatapnya.
“Dia juga pernah dateng ngajak ke kantin waktu itu.”
“Nah kan! Pasti dia udah ancang-ancang ngedekatin lo lagi. Ry, jangan pernah khilaf. Ingat Kak Asta. Dibanding dia, Kak Asta jauh lebih baik.” Nasehat Kiala yang di beri anggukan Nary.
“Ngomong-ngomong, tadi ujian gimana?” Tanya Ayle mengganti topik, bermaksud agar sahabatnya— Nary tidak terus kepikiran mengenai hal itu.
Kiala kembali menggebrak meja kesal. “Itu soal ujian atau olimpiade sih?! Susah bener!!” Serunya histeris.
Isil terkekeh lucu. “Baru juga Bahasa Indonesia, La. Apa kabar sama Matematika?”
“Kiala mah semua dibilang susah.” Ujar Ayle menanggapi.
Nary tertawa kecil. “Lumayan lah. By the way ga pulang? Kita udah 20 menitan lho disini.” Kata Nary sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sedari tadi mereka berada di kelas setelah ujian karena Nary yang mengatakan ingin menceritakan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASTA'S ✓
أدب المراهقين#1 in Teen Fiction (Sudah Terbit) Sebagian part sudah dihapus. Vaneriana Nary hanyalah salah satu dari ratusan siswi di sekolahnya yang bermodalkan sifat ceria, cerewet, dan rupanya yang manis. Semua orang yang melihat tingkahnya pasti berpikir dua...
