Dear Allah 2

588 14 1
                                        

Aku kenal dengan seorang gadis.  Banyak orang bilang ia mirip denganku. Padahal tidak juga. Senyumnya sangat manis dibandingkan senyumku. Gerak-geriknya membuatku gemas. Dia sangat cantik dan lucu. Tapi tentu saja, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan ia.

Aku sering mendengar kisah lika-liku hidupnya dan aku senang sekali saat dia bercerita, rasanya aku tidak pernah sendirian di dunia ini. Dia hebat dan dia memiliki ketegaran yang luar biasa.

Diam-diam aku jadi meniru gayanya, aku menirukan semua yang ia usahakan demi menggapai bahagia. Aku benar-benar terinspirasi olehnya. Senang sekali kita jadi bisa berbagi insting, saran, nasehat dan segala macam keluh kesah. Kadang-kadang aku terduduk disebelahnya lalu menyenderkan kepalaku dibahunya. Aku merasa sangat nyaman. Ia seperti satu bagian dari tubuhku. Saat ia terluka, aku juga merasakan sakit yang ia alami.

Aku sangat menyayangi gadis itu. Aku bangga dan sekali lagi aku bahagia bertemu dengannya.

Suatu hari, aku merasa sesak didadaku, ada yang berubah diantara kami. Seperti ada jarak yang menghalangi kami untuk sekedar menyapa atau bahkan saling melempar senyum. Rasanya kaku dan canggung. Aku takut. Aku takut sekali.

Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya. Kami bertemu tapi aku merindu. Kami bersama tapi terasa ada yang berbeda. Kami tertawa tapi seperti ada sesuatu yang telah sirna. Kami saling mendekap, tapi kami merasa ada sesuatu yang tak lengkap.

Aku sakit sekali.

"Entah dari mana. Kamu sekarang terlihat bukan dirimu. Aku yang dulu selalu mengikuti caramu kini menghindar dari dirimu itu.

Kamu tahu kan aku pernah bilang, kamu itu inspirasiku. Aku sayang sama kamu. Kamu adalah penyemangat, kamu saudariku kamu sahabat sejatiku tapi...

Tapi kenapa kamu seolah menutup hatimu untuk melihatku. Aku salah apa?? Apa kata-kata ku pernah menyakitimu? Aku minta maaf. Sungguh aku menyesal telah melukai hatimu. Kumohon maafkan aku.

Aku tak pernah sekali membencimu. Aku juga tak berharap kau memahamiku, atau sekedar menuruti kata-kataku. Menurutku kau punya hak untuk menentukan hidupmu.  Tapi sahabat, aku ingin kita berjumpa di surga. Aku ingin kita bertemu di tepi sungai Al-kausar tepat waktu.
Tak ada niatan lain selain aku ingin kita sama-sama bahagia.

Ya Allah...

Memang... aku bukan ahli surga. Aku bukan orang yang telah pasti mendapat surga. Aku manusia biasa yang banyak dosa. Tapi kumohon... bisakah kita sama-sama berusaha untuk menjadi setitik mutiara, setidaknya kita lakukan saja sebisa kita. Aku benar-benar ingin menemuimu di surga. Aku benar-benar ingin menyandarkan kepalaku dibahumu seperti dulu. Aku ingin sekali kita menari layaknya orang yang tak pernah terluka di surga. Aku ingin sekali. Aku ingin sekali. Aku ingin sekali. Setidaknya jika aku tidak ada di Surga tepat waktu kau bisa menolongku yang di neraka. Setidaknya kita bisa bersama. Setidaknya kita masih bisa tolong menolong di akhirat. Setidaknya aku bisa menggenggam tanganmu lebih erat. Atau setidaknya aku bisa melihat senyum terindahmu di sana.

Ya Allah...

Aku menyayangi nya..."

Pacitan, 15 Agustus 2018
21:28 PM

Untuk sahabatku yang aku sayangi. Semoga  Allah selalu melindungi dirimu.

Dear AllahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang