Apa kabar... celotehmu yang tak pernah berhenti berdengung ditelingaku...
Apa kabar... senyumu yang tak pernah pudar dari tatapanku.
Apa kabar... rangkulanmu yang setia menyapa kesahku...
Apa kabar... semua yang selalu kau berikan padaku...
Jadi selama ini hanya aku yang mempertahankannya?
Saat aku hendak pergi dan merubah status kau sibuk dengan duniamu sendiri. Apa hanya aku? Yang mempertahankan canda tawaku untuk menggodamu agar tersenyum?? Apa hanya aku yang selalu khawatir jika kau kenapa-napa dari kejauhan?? Apa hanya aku yang takut kau kehilangan arah saat maksiat mulai beralih merangkulmu? Coba katakan padaku, apa hebatnya maksiat itu disisimu?? Apa kata kataku terlalu kasar?? Coba perbaiki jika kau masih peduli padaku. Atau aku akan tetap mengataimu dengan kalimatku yang tak tersaring. Sudah cukup halus. Apa aku tak pandai lagi menjaga hatimu? Apa sekarang yang telah mengajakmu berteman pada zina lebih bisa menjaga hatimu? Kutanya apa untungmu? Kutanya apa hebatnya ia yang sekarang lebih leluasa mendorongmu kelubang setan? Kumohon ampuni kalimatku yang kasar... aku tak tahu lagi bagaimana harus kuperhalus... aku tak tahu lagi. Sungguh kritik aku sekarang juga.
25 Agustus 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear Allah
Aléatoireini adalah kisah dari seorang gadis pemalu yang malu berteriak di khalayak umum. jadi ia hanya bisa menorehkannya dalam sebuah diary kecil yang ia harapkan bisa melegakan sedikit sesak dihati kecilnya.
