Bagian 21. Anjing

3.7K 546 29
                                    

Jeno memandang wajah kakaknya yang tengah lahap memakan makan siangnya. Hari ini Jeno memasakkan ayam goreng seperti janjinya tempo hari. Jeno harus merelakan uang Jaehyun terpakai lagi, tapi itu lebih baik daripada kakaknya merengek meminta makan di kafe itu lagi. Jeno mungkin tak mampu membuat chicken cordon bleu seperti di kafe saat itu, tapi Jeno juga yakin jika masakannya tak kalah enak dari masakan kafe mahal itu. Jeno hanya memebuat ayam goreng tepung, dan Taeyong tampak sangat menikmati masakan Jeno itu.

"Gimana kak? Enak kan?"

Taeyong hanya mengangguk sebagai jawaban. Gigi kelincinya sibuk menggigiti sisa-sisa daging paha ayam di genggamannya. Anggukan dan lahapnya Taeyong memakan masakannya sudah cukup bagi Jeno untuk mengetahui jawaban pertanyaannya.

Tak mau kalah, Jeno mengambil ayam bagiannya dan memakannya dengan nasi hangat. Suara 'kriuk' renyah terdengar saat gigi Jeno menggigit ayamnya.

'Hmm~ enak.. Kau memang hebat Jeno.'

Sebenarnya sedikit memalukan bagi Jeno untuk memuji dirinya sendiri mengingat ia hanya menggunakan tepung ayam serba guna yang ia beli di pasar. Setidaknya tangan yang memasak juga berpengaruh bukan? Ayam dan tepung tak akan memasak dirinya sendiri.

Dalam kegiatan makan siang yang lengang itu, tiba-tiba pikiran Jeno melayang pada laki-laki bernama Mark yang tiba-tiba saja dekat dengan kakaknya. Jeno sangat yakin jika dari wajahnya, Mark bukan tipe anak yang baik. Jelas juga ia mengaku merupakan salah satu siswa yang mengeroyok Taeyong dan Haechan. Jeno masih tak dapat mengira-ngira apa yang anak tengil itu rencanakan.

Sebenarnya Jeno sudah berupaya menjauhkan Taeyong dari Mark dengan meminta bapak penjaga sekolah menjaga Taeyong. Ia juga meminta kakaknya itu untuk menunggunya di dalam sekolah. Entah apa yang membuat hari ini Mark tetap dapat bertemu dengan kakaknya itu. Benarkah dia dan kakaknya sudah berbaikan? Tapi Jeno maklum saja jika kakaknya bisa berbaikan dengan anak tengil itu. Taeyong sudah disuap dengan sebatang coklat kesukaannya. Jeno sendiri heran, darimana anak tengil itu tahu makanan kesukaan Taeyong? Apakah itu terlalu mudah dibaca?

"Kak.."

Tak tahan dengan kekhawatirannya, Jeno memulai mencari tahu.

"Iya?" jawab Taeyong dengan mulut penuh.

"Kakak kok deket sama siapa itu? Min-min?"

"Min-minie?" mata Taeyong membulat penuh menatap wajah Jeno.

"Iya.. Min-minie. Kan dia dulu pernah pukul kakak?"

"Nggak.. Kakak yang cakar pipi Min-minie.. Luka.. Kasihan.."

Alis Jeno mengerut. "Sungguh? Min-min nggak pukul?"

Taeyong menggeleng. "Min-min suka pukul Eccan.. Temannya pukul Kakak.. Gendut.. Min-min.. Min-min minta maaf.. Kalau Kakak maafin nanti Kakak dikasih cokelat~ hehehehe.."

Sedikit Jeno mendapatkan info baru. Ternyata memang anak itu tidak seburuk yang Jeno pikirkan. Tapi kenapa? Kenapa ia harus repot-repot meminta maaf? Jeno tidak bisa untuk tak curiga. Kakaknya terlalu polos untuk dikelabui oleh orang lain, dan Jeno tak ingin seorang pun mencoba mempermainkan apalagi membahayakan kakaknya itu. Jeno pikir ia harus menyelidikinya lebih jauh.

'Aku harus bertanya pada Haechan setelah ini.'

"Oh!"

Mata Jeno yang sempat tertuju pada makan siangnya kini beralih kembali pada wajah Taeyong yang seolah baru mengingat sesuatu.

"Min-minie punya anjing! Lucuu... Namanya ruby!"

Jeno memasang wajah datar, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah makanannya lagi. Entah kenapa ia tahu arah percakapan ini.

Childish (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang