Bagian 10. Pasar Malam

4.7K 723 32
                                    

"Ayolah kak Jeno~"

Jeno menghela nafas kasar. "Kau menyempatkan mampir sepulang sekolah dan kelas tambahanmu yang melelahkan, hanya untuk mengatakan ini?"

Haechan mengangguk dengan semangat dan menyipitkan matanya, seolah menunggu jawaban ya, dari Jeno.

"Kau tahu, kakakku akan rewel."

"Tidakk... Aku mendapat uang banyak dari pamanku. Nanti aku akan membaginya denganmu dan Yongiee.. Kau bisa menaiki semua wahana yang kau dan Yongie mau!"

Mendengar Haechan menyebut kata 'Paman' membuat Jeno teringat akan uang yang pamannya berikan. Jeno memang masih belum membelanjakannya, namun ia simpan untuk membeli susu Taeyong. Tidak lucu jika uang yang pamannya perjuangkan harus habis di pasar malam.

Jeno menengok ke dalam rumahnya, ke arah Taeyong yang terpaku menatap layar televisi. Sudah lama sejak Nenek mengajak mereka ke pasar malam. Semenjak itu Jeno tak pernah lagi mengajak kakaknya ke pasar malam. Alasannya tentu tak jauh dari uang. Taeyong tak akan puas jika belum menaiki seluruh wahana dan permainan di sana. Belum jajanan seperti permen kapas atau es krim. Pergi ke pasar malam sama saja pergi menuju 'kawasan neraka kedua' bagi Jeno.

"Ayolah, kumohon.."

Suara Haechan yang memelas membuat Jeno menghela nafas.

"Baiklah, akan kupikirkan.."

"Oke! Kuanggap itu 'iya'."

"Hey..! Aku tidak bilang begitu.."

"Sampai bertemu nanti malam, Kak!"

Jeno hanya melongo ketika melihat Haechan sudah berlari meninggalkan rumahnya. Jeno pun menutup pintu dengan gamang. Dilihatnya Taeyong yang kini menonton dengan mata sayu. Tanda ia mulai mengantuk.

"Hey.."

Tampak mata Taeyong kembali membulat dan menatap Jeno yang duduk di sampingnya dengan senyum yang cerah.

"Kakak nonton apa?"

"Bombob.."

Oh, Taeyong sudah mengantuk rupanya. Tampak jelas dari bagaimana ia menjawab pertanyaan Jeno dengan nada yang lemah dan mata yang sayu. Biasanya Jeno akan langsung menggiring Taeyong ke kamar untuk tidur siang, namun kali ini sepertinya tidur siang bukan pilihan yang bagus. Sebisa mungkin Jeno ingin Taeyong mengantuk saat malam nanti, sehingga tak akan berlama-lama saat di pasar malam.

"Eh, udah sore. Mandi yuk Kak.."

Taeyong tampak melihat keadaan sekitar. "Masih siang kok.."

"Eh.. Apanya yang siang. Lihat tuh, jamnya. Sudah jam 3."

Mata Taeyong tampak tertuju pada jam dinding yang Jeno tunjuk.

"Kan, yang pendek, nunjuk 2.."

Jeno diam-diam senang kakaknya mulai paham cara membaca waktu, namun terpaksa kali ini Jeno harus berbohong.

"Loh.. yang dilihat yang panjang Kak. Tuh, nunjuk angka 3 kan?"

Taeyong tampak mengerucutkan bibirnya.

"Kata Jeno yang pendek.."

Jeno menghela nafas dalam. Entah kenapa Jeno agak menyesal sudah mengajari kakaknya melihat jam.

"Ya sudah. Kalau gitu Kakak nonton tv aja ya.."

Taeyong mengangguk, tapi kemudian ia membuka mulutnya lebar-lebar. Menguap.

"Jangan tidur ya.."

"Eung... Kemarin disuruh tidur.."

"Ya kan kemarin.. sekarang jangan tidur ya.. nanti rezekinya dipatok ayam."

Childish (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang