07

852 169 27
                                        


Hyungseob mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Guanlin. Kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada Jihoon, sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Guanlin? Dia habis mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?

Woojin menatap Hyungseob dari seberang meja, Apa yang dipikirkan pria itu? Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun?

Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku??? Pikiran buruk itu tiba- tiba menyergap otaknya. Dalam kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?



Woojin menggertakkan giginya, seharusnya pria dihadapannya ini bangga, Park Woojinㅡorang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya terpandang di negaranya, yang bisa mendapatkan pria manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!

Woojin memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi maupun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Hyungseob. Amat sangat menginginkannya malahan.

Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Hyungseob, bukannya semakin reda, dia malah makin ingin dan ingin lagi. Pria itu begitu polos tapi menggairahkan, dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari pria itu bagaimana cara memuaskannya.

Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?

Woojin memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Jinyoungㅡpengacara kepercayaannya dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiaannya.

Jinyoung adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya.

Lelaki ini telah menempuh pendidikan hukum di Jepang, dan disanalah mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Jinyoung pulang ke Korea, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika Woojin memutuskan memimpin cabang di Korea, mereka bertemu lagi, lalu menjalin kerjasama kerja sekaligus persahabatan.

Woojin tahu Jinyoung tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Woojin yang ekstrim.





Tetapi saat Woojin membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Jinyoung.

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrin Woojin, jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. Kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau suatu saat nanti terjadi masalah."

Woojin tersenyum, Hyungseob tidak akan berpikir sejauh itu, bukannya pria itu bodoh, tapi dia terlalu polos. Entah kenapa Woojin percaya bahwa Hyungseob akan menepati janjinya.

"Buat saja Jinyoung-ah, selanjutnya biar aku yang menanggung." Gumamnya yakin.

Jinyoung tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Woojin yakin lelaki itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail. Jinyoung adalah lelaki yang sangat analisis, Woojin menahan senyumnya.




Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Hyungseob yang seolah tidak selera makan.

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" Desis Woojin, hanya sebuah desisan tapi bisa membuat Hyungseob terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Hyungseob?

Romantic Illusion • JinseobCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang