08

861 169 53
                                        


Semua terjadi begitu cepat, Woojin langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin. Hyungseob tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Woojin bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien Woojin membantu Hyungseob membereskan barang-barangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke apartement, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Woojin tersenyum pada Hyungseob yang berdiri kaku di tengah ruangan.

"Well anggap saja ini rumahmu sendiri." Ia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali ke rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk. Kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja."

Hyungseob memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?

"Sementara kau pergi, bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kau janjikan?"

Woojin mengangkat bahu,

"Silahkan," Ia mengeluarkan dompetnya, "Kau butuh uang?"

"Tidak...!" Hyungseob menjawab tegas, uang tiga ratus juta yang ditransfer Woojin tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu.

Woojin sepertinya bisa membaca pikiran Hyungseob, "Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu. Silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?"

Woojin mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya, "Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun."

Ia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Hyungseob mengingatnya baik-baik. Hyungseob sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Woojin disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Woojin tidak akan tahu.

Woojin memakai jasnya, puas karena Hyungseob menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini."

Tatapan Woojin ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Hyungseob memerah.

Sepeninggal Woojin, Hyungseob segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi. Lobby apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar.

"Anda ingin dipanggilkan taxi?" Sapanya dengan sopan.

Hyungseob cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana kan?

"Tidak," Jawabnya, "Saya menunggu jemputan, di depan." Gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Hyungseob segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.








Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet.



Hyungseob berpapasan dengan Jihoon ketika ia hendak memasuki ruangan perawatan Guanlin, "Kau tidak apa-apa Hyungseob-ah? Kau kelihatan pucat."

Romantic Illusion • JinseobCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang