29

713 185 42
                                        


Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.

“Well, dia tampak sehat.” Gumam Woojin kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Hyungseob tajam.

Hyungseob menganggukkan kepalanya.

“Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?” Sambung Woojin jahat.

Hyungseob membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Woojin.

“Woojin!! Jahat sekali kau!” Mata Hyungseob tampak berkaca-kaca.

"Dokter Lee bilang masih ada kesempatan bagi Guanlin untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh.”

“Sampai berapa lama lagi Hyungseob? Kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi. Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?”

Woojin mendesis kesal, “Dan kata Daehwi dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal...”

“Woojin!!!” Hyungseob setengah berteriak, menghentikan kata-kata Woojin. Pipinya memerah mendengar ucapan Woojin yang begitu vulgar.

Woojin mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah, “Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Daehwi kepadaku."

Tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundak Hyungseob, “Bagaimana Hyungseob? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? Padahal aku tahu...”

Mata Woojin menyala-nyala, “Aku tahu betapa kau pria kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua... tidak disentuh.. tidak di...”

“Hentikan!!!!” Kali ini Hyungseob benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Membuat Woojin terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.

Hyungseob tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Woojin ingin melumatnya.

“Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik.” Desis Hyungseob tajam.

“Aku mencintai Guanlin, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja. Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi...”

"Tidak butuh yang lain lagi?” Kata-kata Hyungseob yang penuh cinta kepada Guanlin itu menyulut kemarahan Woojin.

Dengan kasar direngggutnya Hyungseob ke dalam pelukannya, “Kalau begitu bagaimana dengan yang ini??!”

Dengan tanpa diduga-duga, Woojin mencium bibir Hyungseob. Pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Hyungseob dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya.

Oh! betapa dia ingin menghukum pria ini karena menyakitinya! Oh betapa dia merindukan pria ini!!

Ciumannya melembut ketika merasakan bibir pria yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya.

Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Hyungseob erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.

Hyungseob yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya.

Aroma Woojin, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka. Dan secara alami, Hyungseob membalas pelukan dan lumatan Woojin.



Romantic Illusion • JinseobCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang