Woojin marah, marah besar pada Hyungseob.
Hyungseob bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.
Semalaman Hyungseob tidak bisa tidur, dan Hyungseob yakin Woojin juga tidak tidur karena lelaki itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.
Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Woojin meledak-ledak marah seperti kemarin yang setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Woojin murka, tetapi menyimpannya hingga membuat seluruh tubuhnya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama." Desis Woojin setelah membanting serbet makanannya ke meja.
Tangan Hyungseob yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah. "Apa?"
"Kita berangkat bersama-sama." Ulang Woojin datar.
"Tapi....."
"Tidak ada tapi-tapian." Sela Woojin kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu, "Ayo cepat!!!"
Dengan gusar Woojin membukakan pintu mobil untuk Hyungseob, dan membantingnya ketika Hyungseob sudah duduk di kursiㅡtanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, Woojin menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya.
Hyungseob hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Woojin.
"Nanti kau pulang denganku!! Kau dengar itu?? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!!!" Gumam Woojin tanpa mau dibantah ketika menurunkan Hyungseob di lobi kantor.
****
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Hyungseob, perasaannya tidak enak. Sampai kapan Woojin akan marah padanya? Sampai kapan Woojin akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Woojin?
Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Hyungseob tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah Sakit menengok Guanlin, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Woojin pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Woojin tadi pagi, Hyungseob tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Woojin untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.
Meja sekertaris Woojin sudah kosong, dengan pelan Hyungseob melangkah ke pintu besar ruangan Woojin, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam.
Hyungseob masuk dan menutup pintu di belakangnya.
Ketika membalikkan badannya, dia terpaku.
Bukan Woojin yang ada di sana, tetapi Jinyoung, lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Hyungseob dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Woojin-ssi menyuruh saya kesini saat jam pulang kantor." Jelas Hyungseob terbata.
Jinyoung tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Aku tahu, Woojin menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jepang di ruang pertemuan."
"Oh."
Hyungseob tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Hyungseob memang tidak kenal dekat dengan Jinyoung, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Jinyoung.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja." Gumam Hyungseob cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Jinyoung itu menghentikan gerakan tangan Hyungseob membuka pegangan pintu.
"Apa?"
"Bagaimana rasanya menjadi jalang simpanan taipan kaya seperti Woojin?" Jinyoung bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Hyungseob.
Hyungseob tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Jinyoung, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar." Hyungseob berhasil membuka pintu sedikit, tapi Jinyoung mendorong pintu itu hingga tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu Tuan Putri," Ulang Jinyoung sinis.
Hyungseob menatap Jinyoung tajam. "Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya." Desisnya pelan.
Ucapan itu membuat Jinyoung tertawa, penuh penghinaan.
"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan jalang oleh Woojin??" Ejeknya kasar lalu mencekal lengan Hyungseob tak kalah kasar, tak peduli Hyungseob mulai meronta-ronta.
"Kau adalah orang paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Woojin dengan tubuhmu," Jinyoung menyeringai sinis.
"Tak kusangka Woojin bisa bertekuk lutut pada orang sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Woojin terbiasa dikelilingi orang-orang dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."
"Anda salah, saya tidak begitu."
Hyungseob berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Jinyoung, tapi genggaman Jinyoung seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku jalang cilik!!"
Jinyoung menggeram pelan, "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga ratus juta yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Woojin untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!!!"
"Anda salah paham!!" Hyungseob setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Jinyoung yang sangat keras.
"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga tiga ratus juta." Jinyoung mulai merapat ke tubuh Hyungseob.
“Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu???"
“Tidaaak!!! Lepaskan saya!!!"
Hyungseob mulai berteriak membabi
buta, berusaha melepaskan diri dari Jinyoung yang semakin gelap mata.
Jinyoung mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar.
Hyungseob meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila.
Dia tak mau disentuh Jinyoung, dia tidak mau!!!
Woojin!!! Woojin!!! Tolong aku!!!!
[TBC]
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Illusion • Jinseob
Fiksi PenggemarA Romantic Story About Serena (Jinseob Ver) Dalam hidupnya, impian Hyungseob hanyalah ingin menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Dia ingin menikah dengan Guanlinㅡkekasihnya, membentuk keluarga kecil yang bahagia, lalu seperti akhir kisah klise l...
