26

768 187 42
                                        


Hyungseob berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Woojin.

Dia berlari penuh air mata, ke kamar perawatan Guanlin. Kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan.

Ketika sampai di depan pintu perawatan, nafasnya terengah, dia berhenti karena pintu itu masih tertutup rapat.

Jihoon tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Hyungseob, jangan masuk dulu, dokter baru menstabilkan kondisinya."















Penantian itu terasa begitu lama, sampai kemudian Hyungseob diijinkan masuk, hanya lima menit untuk sekedar menengok Guanlin, setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisi Guanlin lagi.

Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya, mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Hyungseob menanti; mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya.

"Guanlin..."

Suara Hyungseob serak oleh emosi, dan tangisnya meledak, dia menghampiri tepi ranjangㅡke arah Guanlin yang masih terbaring, pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnyaㅡtapi hidup dan membuka mata.

Hyungseob meraih tangan Guanlin dan menciumnya, lalu menangis.

"Guanlin..."

Banyak yang ingin Hyungseob ungkapkan, dia ingin mengucap syukur karena Guanlin akhirnya bangun, dia ingin merajuk karena Guanlin memilih waktu yang begitu lama untuk terbangun, dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan.

Air mata tampak menetes dari pipi Guanlin, lelaki itu mencoba berbicara, tetapi tampak begitu susah payah.

“Stttt... Kau tidak boleh bicara dulu,” Gumam Hyungseob lembut, mencegah Guanlin berusaha terlalu keras.

“Mereka memasang selang di tenggorokanmu, untuk makanan. Kau koma selama kurang lebih dua tahun."

Mata Guanlin menatap Hyungseob, tampak tersiksa.

Dan dengan lembut Hyungseob mengusap air mata di pipi Guanlin.

“Nanti, setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi, tapi sekarang, kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya, sekarang...”

Hyungseob menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam, “Sekarang kita harus bersyukur karena kau akhirnya terbangun.”

Guanlin menganggukkan kepalanya, dan seulas senyum dengan susah payah muncul dari bibirnya.

“Sekarang istirahatlah dulu, dokter akan mengecek kondisimu lagi." Bisik Hyungseob lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.

Ketika Hyungseob akan beranjak, genggaman Guanlin di tangannya menguat.

Dengan lembut Hyungseob menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Guanlin.

“Aku tidak akan kemana-mana, aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi, tapi aku tidak akan kemana-mana, aku akan berada di dekat sini hingga saat kau butuh nanti aku akan langsung datang.”

Pegangan Guanlin mengendor, lelaki itu mau mengerti.

Dengan lembut Hyungseob mengecup dahi Guanlin dan melangkah menjauh keluar ruangan perawatan. Air matanya mengucur dengan derasnya ketika dia melangkah menghampiri Jihoon. Jihoon masih berdiri di sana dan Hyungseob langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.

“Dia sadar Jihoon... Dia akhirnya sadar... Aku masih tak percaya, selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Guanlin memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku ini sia-sia... Tapi sekarang...”

Romantic Illusion • JinseobCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang