Ruangan hening itu terletak di lorong paling ujung. Dan Hyungseob hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Guanlin, saat ini bukan jam besuk dan Hyungseob tidak boleh masuk.
Pikiran Hyungseob terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Jihoon dan yang lainnya bilang akan membantu, tetapi Hyungseob tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi dengan biaya perawatan Guanlin yang begitu mahalㅡyang harus ditanggungnya setiap bulannya.
Dengan sedih Hyungseob menatap Guanlin, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana.
Hyungseob mengusap air mata di sudut matanya.
'Ah Guanlin... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan.....'
Saat itulah Woojin masuk, diantarkan oleh Jihoon di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Woojin ketika dia melihat Hyungseob menatap Guanlin yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.
"Hyungseob...." Woojin bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Hyungseob dari Guanlin.
Suaranya seperti menyentakkan Hyungseob hingga pria itu menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Woojin akan muncul di sini. Matanya menatap Jihoon meminta pertolongan.
"Dia datang kesini untuk berbicara, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu." Gumam Jihoon lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Hyungseob, dia lalu mengamit lengan Hyungseob.
"Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."
Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Hyungseob hanya mengikuti ketika dituntun ke ruangan Jihoon, sedangkan Woojin hanya mengikuti di belakang dalam diam.
Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Jihoon menutup pintu ruangan dari luar.
"Aku minta maaf." Gumam Woojin dengan lembut akhirnya.
Hyungseob bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.
"Ya... Sudah di maafkan... Sekarang... Sekarang bisakah kau pergi?" Hyungseob mulai menahan tangisnya.
Woojin telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.
"Aku tidak tahu tentang semua ini Hyungseobah, baru tadi Daehwi mengungkapkan kebenarannya di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" Sambung Woojin pelan.
"Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu. Karena jauh di lubuk hatiku, aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Woojin mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Hyungseob-ah."
Hyungseob memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Woojin yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya.
Woojin memang tidak bisa disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Woojin tentang pria yang melemparkan diri padanya demi uangㅡselain bahwa pria itu adalah jalang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantic Illusion • Jinseob
FanfictionA Romantic Story About Serena (Jinseob Ver) Dalam hidupnya, impian Hyungseob hanyalah ingin menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Dia ingin menikah dengan Guanlinㅡkekasihnya, membentuk keluarga kecil yang bahagia, lalu seperti akhir kisah klise l...
