30

788 198 33
                                        


Sejak saat itu Woojin seolah-olah menghilang dari kehidupan Hyungseob.


Hyungseob merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen. Hari ini Guanlin sudah boleh pulang dari rumah sakit.

Bersama Daehwi dan Jihoon, mereka pulang ke apartemen. Jihoon memutuskan untuk tinggal sementara membantu Hyungseob, dan Daehwi sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Guanlin dan melakukan terapi rutin.

Kata Daehwi, Woojin memutuskan mengambil tugas perjalanan ke Eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.

Dada Hyungseob terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri.

Oh ya, dia merindukan Woojin, sangat merindukannya.

Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Hyungseob mencintai Woojin. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Woojin, itu saja.







“Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya." Guanlin memecah keheningan, menatap Hyungseob dengan sedikit menyelidik. Dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Hyungseob begitu murung.

“Aku yang membujuknya." Daehwi yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Hyungseob pasti kebingungan dengan pertanyaan Guanlin itu.

“Woojin adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Woojin mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen ini tidak terpakai.”

Diam-diam Hyungseob dan Jihoon menarik napas lega mendengar kelihaian Daehwi menjawab.






Mereka sampai di apartemen, dan Hyungseob mendorong kursi roda Guanlin memasuki ruangan itu.

Begitu mereka masuk, tanpa sadar Hyungseob mengernyit. Semua kenangan itu seolah menghantamnya.

Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Woojin, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….


“Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Hyungseob, bosmu sangat baik.” Guanlin mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Hyungseob sambil tersenyum.

Mau tak mau Hyungseob memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu...


Hyungseob melirik kamarnya, Woojin dan dia menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.

Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!






Dengan cepat mereka menyiapkan segalanya hingga Guanlin selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya.

Jihoon menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.



Setelah memastikan Guanlin tertidur pulas, Daehwi menyeduh teh dan mengajak Hyungseob duduk di ruang depan.

“Dia sudah kembali dari Eropa.” Daehwi membuka percakapan, menatap Hyungseob dari atas cangkir kopi yang diteguknya.


Seketika itu juga hati Hyungseob melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai ‘dia’ itu.

“Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Hyungseob pelan.



Daehwi tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Hyungseob.

“Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tapi masih saja mencemaskannya."

Dengan pelan Daehwi meletakkan cangkirnya, “Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon."

Daehwi terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Hyungseob, “Yah.... Dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja.”

Hyungseob memalingkan wajahnya dengan pedih.

“Dia menderita...” Desah Daehwi kemudian, “Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya.”

“Sudah...” Hyungseob tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Woojin serasa mengiris-iris hatinya.

“Sudah.. Aku tidak mau mendengarnya lagi.”



Daehwi menarik napas, “Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu.”

Kata-kata Daehwi yang menggantung membuat Hyungseob menoleh, tertarik.

“Pesan?”

Daehwi menggangguk, “Ya, sebuah pesan. Malam ini jam delapan, ditunggu di restourantnya."

Kemudian Daehwi menyebutkan nama sebuah hotel.


Dan Hyungseob mengernyit, hotel itu adalah hotel tempat pertama kalinya dia bersama Woojin....




[TBC]

Romantic Illusion • JinseobCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang