21. Panggilan Teman Sekongkol

1.7K 242 7
                                    

Tak terasa tiga bulan berlalu, kandungan Mia pun ikut membesar seiring berjalannya waktu. Antusias ketiga anggota keluarga Do itu semakin terlihat karena tak sabar menunggu sang bayi lahir. Di saat Kyungsoo memang sudah lama menginginkan anak kedua, Gio merasa antusias karena ia bisa punya teman sekongkol.

Tiap pagi, dia akan menyapa, “Selamat pagi, teman sekongkol~”

Sungguh, itu membuat Mia tertawa dan sedikit aneh karena panggilannya. Tidak masalah jika Gio menganggap bayi itu sebagai temannya, tapi untuk panggilan rasanya terlalu tidak enak didengar.

Siang ini Mia tengah bernostalgia, ia membawa album foto dan menunjukkan beberapa gambar anaknya pada dirinya sendiri. Ia bercerita kalau Gio adalah buah hati paling Mia dan Kyungsoo nantikan. Sama halnya dengan yang sekarang.

“ … tapi waktu itu eomma tidak memanggilmu ‘teman sekongkol’ Gio.” Mia tertawa sambil mencubit hidung anaknya dengan gemas. Sedangkan sang empu mengerutkan keningnya.

“Terus?”

“Karena waktu itu eomma suka sekali dengan buah anggur, jadi eomma memanggilmu Grape. Bahasa Inggrisnya Anggur.” Gio membuka mulutnya dan mengangguk seolah-olah ia kaget dengan panggilan Mia. Lantas ia berdiri dan berjingkrak bahwa ia lebih suka dipanggil Grape daripada Cobra.

Lalu dengan semangat ia masuk ke dalam kamar dan mengambil buku buah-buahan yang pernah ia dapatkan dari ibu Mia, neneknya. Ia berseru akan membuat panggilan bagi teman sekongkolnya.

Eomma, apa eomma suka buah naga?” tanyanya polos, membuat Mia sedikit terkejut dan tertawa setelahnya. “Kenapa, eomma?”

“Lantas kalau iya, kau akan memanggilnya Naga?” Gio menggeleng sambil mengerutkan keningnya dan menunjukkan raut tak suka. Ia membuka lagi halaman demi halaman buku untuk mencari gambar yang cocok.

Sesekali Gio berdiskusi dengan Mia, menanyakan buah apa yang disukainya dan itu akan sangat cocok untuk panggilan adiknya. Tapi Gio sungguh bingung, apakah adiknya itu laki-laki atau perempuan.

Eomma, apa teman sekongkolku itu laki-laki atau perempuan? Eomma bisa melihatnya sebentar?” tanya Gio sambil merebahkan dirinya di lantai. Ia cukup lelah walau untuk memikirkan sebuah nama panggilan.

“Menurut Gio?”

Emm … Kalau perempuan aku namai Orenji (Orange). Kalau laki-laki aku namai Banana.” Mia menatap gemas lalu menjelaskan kalau ia ingin adik Gio itu seorang perempuan. Tapi karena mungkin kurang paham, Gio malah memutuskan kalau panggilannya terhadap teman sekongkol adalah Orenji.

Setelah itu, Gio hanya membicarakan banyak hal untuk ibu serta adiknya. Bagaimana ia akan mengajak Orenji bermain, membagi makanannya, berfoto bersama dan masih banyak lagi.

Waktu berlalu sampai Kyungsoo pulang dari kerjanya. Ia menyapa Mia dengan kecupan kening, menyapa Orenji dengan elusan lembut dan kecupan singkat, serta menyapa Gio dengan cara memeluk dan mengangkatnya tinggi sambil berputar tiga kali. Rutinitas baru.

“Aku masak lebih awal karena Gio terus mengikutiku sambil berbicara banyak hal. Maaf kalau makanannya sedikit dingin,” ujar Mia sambil melepaskan dasi Kyungsoo.

“Tidak apa-apa.” Kyungsoo mengedikkan bahunya dan mengelus perut Mia penuh sayang. Membuat Gio menghampirinya sambil menegur dengan cara mengetukkan pedangnya ke tangan Kyungsoo.

Appa, jangan elus Orenji terus kalau belum mandi!” serunya.

	Kyungsoo tertawa sambil berjongkok dan berkata, “Kenapa memangnya?”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kyungsoo tertawa sambil berjongkok dan berkata, “Kenapa memangnya?”

“Orenji itu bersih, appa itu kotor. Mandi dulu!” Mia terkekeh kala Gio menggantikan tugasnya menyuruh Kyungsoo mandi.

“Baiklah, appa akan mandi sekarang,” Tapi baru saja melangkah ke depan pintu kamar, ia menoleh. “omong-omong … siapa Orenji?”

“Teman sekongkolku!”

***

Kyungsoo masuk ke dalam kamar dengan membawakan susu hamil rasa cokelat untuk Mia. Istrinya baru saja mendudukkan diri di kasur, dan tersenyum pada Kyungsoo yang selalu perhatian ketika ia hamil.

“Gio sudah tidur?” tanya Mia dan Kyungsoo mengangguk sambil menyerahkan susunya. Setelahnya memperhatikan Mia.

“Kenapa Gio memanggilnya Orenji?” tanya Kyungsoo setelah meletakkan gelas kosong di nakas. Ia berangsur mendekati Mia untuk beristirahat. “Orenji apa?”

Orange. Dia pikir adiknya itu perempuan.” Kyungsoo mengangguk sambil mengelus perut Mia dan sesekali menanyakan perkembangan yang istrinya rasakan. Ia juga bercerita sedikit mengenai panggilan Orenji dan Banana yang Gio ungkapkan sebelum tidur.

Mia pun berharap jika anak keduanya adalah perempuan, ia benar-benar menginginkannya bahkan sebelum mereka menikah. Mia selalu berharap punya anak perempuan. Tapi Kyungsoo malah sewot.

“Kau tidak menyindirku, kan?” tanyanya membuat Mia mengerutkan kening secara spontan. “Ingat pembicaraan kita pas bertemu Mo Yeon noona kemarin?”

Keluarga Song yang terdiri dari Song Jong Ki dan Song Hye Kyo adalah tetangga mereka. Hye Kyo adalah seorang bidan, selain tetangga pun Mia sering konsultasi gratis dengannya.

	Tepanya kemarin, keluarga DO tengah menghabiskan waktu di sore hari dengan bermain di halaman rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tepanya kemarin, keluarga DO tengah menghabiskan waktu di sore hari dengan bermain di halaman rumah. Kebetulan keluarga Song pun sedang bermain, jadi mereka bergabung. Saat tahu Mia hamil, Hye Kyo sengaja menggoda mereka dengan ilmunya sebagai seorang bidan.

Lebih tepatnya dia menggoda Kyungsoo dengan memujinya kalau ia adalah lelaki yang hebat. Untuk anak pertama langsung mendapatkan laki-laki, berarti ‘semangat’ di atas ranjang patut diacungi jempol.

Jadi maksud Kyunsoo menuduh Mia menyindirnya adalah karena kalau anak kedua mereka perempuan, ia berpikir bahwa ‘semangat’nya di atas ranjang tidak sehebat ketika mereka baru saja menikah. Padahal Mia tak bermaksud.

Wajah Mia seketika memerah, ia memukul lengan Kyungsoo sambil beringsut untuk merebah dan tidur. “Apa sih yang kau pikirkan. Enak saja main menuduh orang.”

Mereka langsung terdiam beberapa saat, sampai Mia merasakan pergerakkan Kyungsoo yang memeluknya dari belakang.

“Ya sudah, pokoknya mau laki-laki atau perempuan … aku harap dia lahir dengan selamat,” ujarnya pelan dan lembut. Kemudian ia mengelus perut Mia. “Orenji atau Banana, jadilah anak baik. Jangan menyusahkan ibu kalian.”

Mia terkekeh sambil meraba tangan Kyungsoo. Ia mengangguk sebagai perwakilan jawaban anak mereka.









“Dan mau anak laki-laki atau perempuan sekalipun …” Mia menoleh ke belakang. “… pokoknya aku tetap hebat kalau kita olahraga.”

“Kyungsoo!!!”













Itu ilmu buat yang enggak tahu. Mimu bukannya keluar topik dari judul loh-_-, ini memang perlu kalian tahu kalau mau nikah/udah nikah. Lebih detailnya enggak bisa Mimu jelasin, entar dikira mesum. Bye, hehe.

D.O's FamilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang