Arlaya
Sungguh. Ini menyulitkan.
Ini sudah sekitar seminggu aku memulai menjauhi Devan karena permainan bodoh dari orang gila yang sama sekali aku tak kenal dan sungguh aku benar - benar ingin berbalik membunuhnya.
Aku mengabaikan pesan dari Devan yang menanyakan apakah aku baik saja, aku selalu berjalan cepat ketika berpapasan dengannya jika di lorong sekolah. Aku mengerti, pasti ia mengira aku sedang banyak masalah dan tak ingin di ganggu dengan permasalahan cinta dahulu, jika aku bisa meminta maaf kepadanya secara langsung dan menjelaskan mengapa aku menghindarinya. I will. I really will.
Ini adalah jam istirahat kedua, aku dan Shenina juga Reyina sedang mengobrol ringan dikala kelas sedang sepi karena beberapa dari murid kelasku sedang pergi ke kantin.
"Eh btw, lo kenapa sih Arl sama Devan? Perasaan kayak lagi jauh - jauhan gitu. Lagi berantem?" Tanya Reyina.
"Eh nggak kok, kita gak berantem. Cuma lagi pengen istirahat aja dulu gitu dari cinta - cintaannya." Balasku, berbohong (lagi).
Mereka hanya mengangguk kecil dan kembali mengobrol soal konser yang akan mendatangkan beberapa penyanyi luar negeri yang akan datang ke Indonesia.
"Arlaya," panggil Bimo, teman sekelasku. Dari luar.
"Dicariin Devan tuh." lanjutnya dan aku melebarkan mataku, aku terkejut bukan main saat Bimo melontarkan kata tadi.
Aku berjalan keluar dengan ragu dan Devan menatapku tersenyum lembut, seperti biasanya.
"Ikut aku. Cerita sama aku." tawar Devan dan aku memberhetikan tangannya yang mulai menggapai tanganku.
"Kemana?" Balasku dengan suara kecil.
Tanpa membalas Devan kembali menggapai tanganku dan menarikku pergi dari kelas dan berhentilah kami pada.. Rooftop.
Kami berdiri berhadapan dan Devan menatapku dengan tatapan seperti dia meminta jawaban.
"Dev aku gak bisa." Ucapku membuka pembicaraan.
"Kenapa? Tell me, aku tahu kamu sejak lama Arl." Balasnya memegang bahuku lembut.
"I- i can't kita semua didalam bahaya."
"Tell me Arlaya Tell me!" Devan menaikkan volume suaranya karena ia kesal.
Aku mengambil ponselku dan membukanya, lalu menunjukkan ponselku pada Devan. Menujukkan pesan - pesan terror dari orang yang tak ku kenal.
"Ini alasan, kenapa aku ngejauhin kamu Dev. Aku mau kamu aman dan bisa sama aku terus, because if i lose you. I don't know who i am without you." Aku merasakan air mataku jatuh, lolos begitu saja karena tak kuasa menahannya.
Devan menarikku kepelukannya dan aku menangis lebih kencang lagi seraya mengeratkan pelukannya.
"Satu hal yang kamu harus tau Arl, kita semua bakal aman. Aku bakal aman dan akan terus ada sama kamu, percaya sama aku. Aku gak bakal kemana - mana." Balas Devan mengelus rambutku seraya aku masih menangis.
Aku mengangguk. Aku yakin Devan bisa menjaga dirinya dengan baik, aku tahu Devan.
Tuhan.. jagalah Devan, jagalah Devan untukku.
Author
Disisi lain, lelaki itu menggeram seraya menggenggam ponselnya erat dan matanya tak lepas menatap kedua pasangan yang berpelukan dengan tatapan setajam belati.
"Mungkin emang harus sekarang." Ucapnya dalam hati dengan senyuman miring ia pun meninggalkan pasangan tersebut.
// O B S E S S E D //
Jeng jeng part 5 update 🤩
Aku ga nyangka kalian bisa suka sama cerita ini sampe aku kaget sendiri ngeliat readers udah sampe 1K!!
Makasih banyak yang udah mau add Obsessed ke reading list kalian ❤️ you guys rock 🤟🏻
Vomments yap 👌🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsessed [COMPLETE]
Teen FictionObsesi, adalah keinginan akan sesuatu disertai usaha keras bahkan terkesan memaksa untuk mencapai keinginannya itu. Obsesi merupakan sebuah keinginan yang disertai tindakan emosi yang tidak terkendali atau berlebihan serta tidak beralasan untuk mewu...
![Obsessed [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/153926621-64-k420892.jpg)