Arlaya
Aku berhadapan tepat didepannya. Ia tak berhenti memberikan senyuman indahnya padaku hari ini.
Kami diam namun ia tetap tersenyum menatapku dan dengan dua gelas kopi susu hangat didepan kami.
Api unggun menyala dihadapan kami berdua. Selimut menyelimuti tubuh kami berdua yang berhadapan, Devan meletakkan gelas kopi miliknya dan ibu jarinya mengelus pipiku dengan lembut.
"One day you gonna find who is he. You gonna find your way to be free, i swear you gonna be free Arl." Ucapnya tak melepasakan matanya padaku.
Aku mengerutkan dahi dan melepaskan elusan ibu jarinya pada pipiku.
"Maksudnya?" Tanyaku.
"You are gonna find him. You gonna find someone who kills me that day, you gonna find someone that make you afraid and cry because that terror." Balasnya.
Sekarang aku mengerti apa yang dia bicarakan. Dia membicarakan soal orang aneh itu.
"Dev, darimana kamu tau dia?" Tanyaku serius.
"You gonna find him someday. Aku bakal terus disamping kamu buat cari tahu dia, aku bakal terus ada sama kamu walau kamu gak bisa liat aku." Ucapnya tersenyum lalu mencium dahiku lama seraya mengelus rambutku halus.
Seketika. That dream just gone. Tak tahu kemana.
Devan, aku bermimpi soal mu. Lagi, dan kali ini mengapa kau hanya datang dan meninggalkan teka teki? Aku masih butuh waktu yang sangat lama untuk melihatmu di mimpi.
Ah sudahlah. Hanya orang bodoh yang menyalahkan berakhirnya mimpi.
Setelah itu aku berangsut bangun dan merapikan tempat tidur, kubuka gorden dan berjalan kearah kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.
Tak butuh waktu lama, akhirnya aku langsung kembali kekamar lagi untuk berganti baju.
// O B S E S S E D //
Setelah sampai disekolah, seperti biasa. Aku pergi memasuki sekolah dengan setengah rasa malas karena hari ini adalah upacara.
Aku berjalan kearah lorong yang sudah banyak dipenuhi murid - murid yang beberapa dari mereka panik karena tak membawa atribut upacara. Ini sering terjadi pastinya disetiap sekolah.
Kakiku berjalan dan berhenti tepat didepan kelas, kubuka lokerku dan mengambil beberapa buku untuk dipelajari seusai upacara.
Kututup pintu loker dan setelahnya aku masuk kedalam kelas seraya menaruh buku dibawah meja.
Setelah aku sempat menyapa Reyina dan Shenina. Kami keluar bersamaan seraya membawa topi untuk upacara.
Saat baru beberapa anak tangga yang kami turuni. Di lantai dasar sudah mulai banyak orang yang beramai - ramai teriak meminta tolong, dahiku mengkerut dan kami langsung sedikit buru - buru melihat kejadian dibawah.
Mataku melebar menatap seseorang didepanku, itu Nina. Kepalanya berdarah dan tubuhnya tak sadarkan diri, namun aku masih bisa melihat ia bernafas.
Aku langsung masuk kedalam kerumunan dan tak beberapa lama kemudiannya pak Wijaya—kepala sekolah Sma Merdeka datang dengan juga beberapa petugas PMR.
Setelah itu Nina dibawa menggunakan tempat tidur beroda yang. Aku sempat berpikir untuk ikut bersama mereka membawa Nina dan akhirnya tekadku berkata 'iya' untuk membantu Nina.
"Pak boleh saya ikut? Saya deket pak sama Nina" ucapku izin pada pak Wijaya.
"Ayo ayo nak cepat." Aku mengangguk dan ikut masuk kedalam ambulance, akhirnya setelah itu mobil ambulance berjalan.
Syukurlah jarak rumah sakit dan sekolah tidak terlalu jauh. Akhirnya setelah sampai petugas rumah sakit langsung membuka pintu mobil dan aku keluar diikuti oleh petugas PMR yang lainnya.
Tempat tidur beroda Nina berjalan kearah UGD dan setelah sampai, kami langsung diberhentikan untuk menunggu karena hanya petugas rumah sakit yang boleh masuk.
Setelah sekitar hampir setengah jam akhirnya dokter keluar dan berkata bahwa Nina baik - baik saja dan luka di kepalanya juga sudah dijahit.
Aku izin masuk duluan untuk melihat keadaan Nina, tubuhnya lemas dan ia masih tampak tertidur. Perban tampak menutupi setengah bagian kepalanya dan bunyi monitor juga tak berhenti berbunyi.
Tak lama aku disini, datanglah wanita yang umurnya sepantaran dengan bunda. Wajahnya tampak panik, ia menghampiri Nina dan langsung mengelus rambutnya.
Tampaknya dia adalah ibu dari Nina. Karena wajahnya sangat mirip dengan Nina.
"Kamu Arlaya ya nak?" Tanyanya dan aku mengangguk seraya tersenyum kecil kearahnya.
"Saya Diana, mamanya Nina. Terima kasih ya kamu mau ikut kesini buat temenin dia." Ucapnya dan aku mengangguk lagi.
Setelah perbincangan pendek itu. Pak Wijaya datang ke ruangan ini dan berkata bahwa aku harus kembali kesekolah.
"Maaf ya tan, Arlaya gak bisa temenin Nina lama - lama. Insya Allah besok saya kesini lagi buat jenguk Nina." Ucapku pada tante Diana.
Senyumnya mengembang dan mengangguk. Lalu aku bersalaman untuk menghormati beliau dan setelahnya aku pergi keluar ruangan dan berjalan beriringan bersama ketigas petugas PMR sekolahku dan pak Wijaya.
Di mobil bu Resa—wakil kepala sekolahku. Kubuka ponselku dan ada beberapa pesan yang diberikan oleh Reyina untukku.
Dia menanyakan keadaan Nina dan aku membalas singkat bahwa ia baik saja dan setelahnya aku langsung memasukan ponselku di kantung seragamku.
Aku sempat mendengarkan percakapan antara pak Wijaya dan bu Resa.
"Apakah petugas piket sudah cek cctv dekat tangga bu?" Tanya pak Farris.
"Cctv di dekat tangga situ rusak dan belum sempat di benarkan pak. Sayang sekali." Balas bu Resa.
Bukan kabar baik, jika begini bagaimana aku dan warga sekolah harus mencari tahu pelakunya.
Oh tidak. Pikiranku tertuju pada orang ini lagi, jangan bilang kalau orang ini memang benar - benar melakukannya. Karena sekitar 2 minggu yang lalu saat Nina mengobrol denganku. Orang ini satu sekolah denganku juga.
Ini sungguh tanda tanya besar untukku. Ini tak boleh terus - terusan terjadi, sementara orang ini pun juga sangat susah untuk dicari.
Ponselku bergetar dan langsung kubuka. Ini adalah pesan dari orang aneh, dia kembali setelah sudah hampir berminggu - minggu berhenti memberikan pesan creepy darinya.
Uknown Number: whoa.. seru juga ya ngepush orang sampe kepalanya bocor gitu. I love when people who try to approach you suffer.
Arlaya: Gila ya lo!! Stop ngelakuin hal bego ke orang - orang terdekat gue psycho.
Uknown Number: Oh poor you, i can't. Tangan gue gatel sih buat gak ngelukain orang.
Uknown Number: Dan mungkin akan berhenti kalo gue berhasil dapetin lo. Tenang aja Darl.
Arlaya: Go to hell freak.
Setelah itu aku langsung mematikan daya ponselku dan sesampainya disekolah. Aku turun dari mobil bu Resa dan berjalan kearah kelas yang syukurlah sedang tidak adanya guru.
Shenina dan Reyina menatapku dengan bingung, mungkin karena aku datang dengan wajah yang badmood. Karena memang iya, aku betul - betul tidak di mood yang bagus karena salah satu temanku terluka lagi dan ternyata yang melukainya adalah orang yang sama.
I. JUST. WANT. TO. BE. NORMAL.
// O B S E S S E D //
Part 18 update!! As i say soon akhirnya update jugak buat kalian my lovely dovey readers ❤️
Thank you all who been wait for my messy stories ❤️❤️
VOMMENTS ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsessed [COMPLETE]
Novela JuvenilObsesi, adalah keinginan akan sesuatu disertai usaha keras bahkan terkesan memaksa untuk mencapai keinginannya itu. Obsesi merupakan sebuah keinginan yang disertai tindakan emosi yang tidak terkendali atau berlebihan serta tidak beralasan untuk mewu...
![Obsessed [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/153926621-64-k420892.jpg)