Arlaya POV
Hari ini, Minggu 28 Oktober 2018, aku menepati janji Devan untuk menontonnya tanding melawan tim basket SMA Sejahtera.
Aku sudah siap dengan baju yang simple dan memakai sedikit makeup agar tak terlihat mati.
Setelah memakai sedikit lipstick, Devan datang saat itu juga dengan membawa mobilnya diluar. Aku turun dari tangga dan izin kepada bunda untuk menonton pertandingan basket dan setelah diizinkan aku langsung keluar dari rumah lalu berjalan kearah mobil Devan.
Kubuka pintu mobilnya dan menyapa nya dengan senyum terbaikku.
"Ready?" Tanya Devan setelah aku memasang sit belt.
"Yup." balasku tersenyum.
Mobil mulai berjalan menyusuri komplek dan akhirnya keluar dari daerah perumahanku.
Perjalanan ke Gor Kencana membutuhkan waktu 14 menit dari rumahku, kata Devan. Selama di perjalanan kami hanya mengobrol sedikit tentang aktivitas kami yang sempat terpisahkan oleh jarak dan waktu saat itu, saat kami masih LDR.
"New York - Jakarta, pas kamu sms dan bilang pengen pindah ke Jakarta aku bener - bener loncat lho. Sampe mama ketuk pintu dan nanyain gini; 'Dev? Kamu gak apa - apa kan?', gitu."
Aku tertawa mendengar ceritanya, meski Devan sering disebut Cold oleh murid - murid. Dia tak sedingin itu saat sudah kenal, malah dia adalah sosok yang konyol namun memikat disaat yang bersamaan.
Aku sungguh beruntung bisa menjadi sosok yang spesial untuknya. Sangat beruntung.
// O B S E S S E D //
Sesampainya di Gor Kencana, aku dan Devan turun dengan ia yang mengambil peralatannya di jok belakang. Lalu kami memasuki area gor dengan berpengangan tangan.
Di dalam sudah banyak orang yang sibuk dengan kesibukan masing - masing. Aku berpisah dengan Devan karena ia harus latihan sebelum bertanding, jadi aku memutuskan untuk pergi dan mencari tempat duduk di tribun.
Aku kebingungan untuk mencari tempat duduk karena hampir semua bagian tempat duduk sudah penuh.
"Arlaya sini," panggil seseorang.
Aku menatapnya dan tersenyum kecil, lalu aku menghampirinya dan duduk di kursi kosong sebelahnya. Aku tak mengenalnya namun dengan baik hati ia memberikan tempat duduk untukku.
"Mungkin gue terlihat asing di mata lo, gue Zahra." ucap gadis dengan rambut kepang dua ini seraya menjulurkan tangannya mengajak berkenalan.
"Gue Arlaya." balasku membalas jabatan tangannya.
Namun setelah kami berkenalan singkat, akhirnya pertandingan akan segera dimulai.
Aku melihat Devan yang sedang berdoa bersama tim nya, lalu ia meminum sedikit tegukan air mineral miliknya. Mataku bertemu dengan matanya dan ia mengucapkan kata 'aku sayang kamu, doain aku menang' ucapnya tanpa suara namun aku tetap bisa membacanya. Aku mengangguk dan membalas 'semangat! Arly sayang Devan' dia tersenyum lebar lalu mulai bergabung dengan timnya.
Tim sekolahku dan tim SMA Sejahtera sempat berfoto bersama sebelum pendengaranku mendengar suara pluit, tanda pertandingan sudah dimulai.
Teriakkan dari tribun memasuki indera pendengaranku. Aku tersenyum menatap Devan yang dengan lincah memainkan bola basket yang ia pegang dan membutakan lawan sehingga dengan mudah juga ia memasukkan bola basket tersebut.
Setelah sekitaran setengah jam. Akhirnya tim basket sekolahku yang memenangkan lombanya dengan poin 5 - 1, dengan kemenangan yang kita raih. Tim basketku bersorak meriah dan aku melihat Devan yang di angkat tubuhnya oleh para teman timnya karena dia adalah pencentak poin terbanyak dari awal pertandingan dimulai.
Aku bertepuk tangan diikuti pendukung sekolahku yang lain, kami bersorak senang seraya menyanyikan lagu khas sekolah.
"SMA MERDEKA JAYA, JAYA, JAYA!"
"WOHOOO SELAMAT MERDEKA!"
Suara teriakan kemenangan memenuhi satu gor ini, aku turun dan ditemani Zahra karena ternyata ia datang juga karena ingin menyemangati pacarnya, namanya Reza, kalau tak salah tadi ia bilang. Setelah aku sudah benar - benar dibawah, aku berlari kearah Devan dan memeluknya, ia membalas seraya mengangkat ringan tubuhku.
"Eh eh kalian di foto dulu sini," seorang lelaki yang sekiranya sudah berumur 20 tahunan menghampiri kita berdua (aku dan Devan) seraya membawa kamera miliknya.
"Senyum ya, Devan rangkul dong pacarnya." lanjut lelaki ini, lalu ia menekan tombol pada kameranya dan cahaya blitz menerangi mata kami. Dan setelah itu ia berkata terima kasih dan foto kami akan di salurkan kedalam buku tahunan sekolah nantinya.
Akhirnya setelah banyak dari teman - teman Devan yang mengucapkan selamat, akhirnya pada sekitar pukul setengah 5 sore akhirnya Devan mengantarkan aku pulang kerumah dan ia mentraktirku makanan cepat saji atas kemenangannya.
Sesampainya dirumah...
"Makasih ya Dev untuk hari ini dan sekali lagi selamat, your'e doing great today." ucapku sebelum turun dari mobilnya.
"Anything for you and thank you, udah sana masuk. I'll see you soon Arly." balasnya.
Aku mengangguk dan membuka pintu mobilnya lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya mobil Devan benar - benar hilang keluar dari daerah komplek. Aku berbalik seraya tersenyum senang dan berkali - kali aku mengucapkan bersyukur jika aku mempunyai Devan kepada Tuhan.
Kubuka pintu rumah dan langsung berjalan naik keatas kamar karena aku tak melihat keadaan bunda di ruang tamu, lalu setelah masuk kamar aku langsung melepaskan sepatu yang tadi aku pakai dan meletakan pada tempat semula. Tubuhku yang sudah merasa tak nyaman langsung berjalan mengambil handuk dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri yang sudah cukup lengket.
Sekitar 15 menit, aku keluar dari kamar mandi karena aku baru saja membilas rambutku dengan shampoo. Setelah masuk kekamar aku memilih baju santai dan memakainya lalu setelah itu aku mengeringkan rambut dengan hair dryer dan memberikan sedikit vitamin rambut. Setelah rambutku kering, aku berjalan kearah tempat tidur merebahkan diri seraya memejamkan mata beberapa saat lalu mataku kembali terbuka karena telingaku mendengar suara dari ponselku yang menandakan pesan masuk.
Aku membuka passcode ponselku dan membuka pesan yang baru masuk.
Uknown: This the last chance i give to you darling, jauhi Devan atau nyawa dia bakal hilang saat ini juga!
Uknown: Kalo besok lo belum putusin dia, gue harus bener - bener bertindak dengan ngehabisin dia.
Uknown: Oh atau lo mau pilih cara gue ngebunuh dia? I give you chance to choose. Mutilasi? Pancung? Choose baby choose.
Aku menutup mulutku tak percaya, bagaimana ia tahu bahwa tadi aku baru saja pergi bersama Devan? Mengapa ada rintangan jika tadi aku sedang merasa bahagia ya Tuhan?
Arlaya: Please siapapun lo. Jangan lagi.
Arlaya: Semua text yang lo kirim buat gue gila. SO STOP PLEASE!!
Arlaya: Okay kalo lo mau gue jauhin Devan, tapi gue butuh janji lo untuk jangan ambil orang yang gue sayang. Termasuk Devan ataupun orang tua gue.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Ponslku berbunyi menandakan dia membalas.
Uknown: Ok. Gue gak bakal ganggu siapapun, tapi lo harus janji dengan yang lo bilang sama gue sebelumnya.
Uknown: Be a good girl, i'm watching you.
// O B S E S S E D //
Alhamdullilah update cepet.
Hope you guys enjoy part 4 :))
VOMMENTS KALIAN JANGAN LUPA YAA. DAN MAAF KALO ADA PENGETIKAN YANG SALAH BCS I'M NOT A GOOD WRITER.
thank you. <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsessed [COMPLETE]
Novela JuvenilObsesi, adalah keinginan akan sesuatu disertai usaha keras bahkan terkesan memaksa untuk mencapai keinginannya itu. Obsesi merupakan sebuah keinginan yang disertai tindakan emosi yang tidak terkendali atau berlebihan serta tidak beralasan untuk mewu...
![Obsessed [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/153926621-64-k420892.jpg)