Obsesi, adalah keinginan akan sesuatu disertai usaha keras bahkan terkesan memaksa untuk mencapai keinginannya itu. Obsesi merupakan sebuah keinginan yang disertai tindakan emosi yang tidak terkendali atau berlebihan serta tidak beralasan untuk mewu...
Author "Mama kecewa sama kamu Quentin! Kalau sudah dikeluarkan dari sekolah mau cari sekolah dimana lagi? Menyusahkan saja kamu ini!" Omelan dari ibunya hanya angin lalu baginya. Didengar pun tidak olehnya.
Quentin, lelaki yang bisa dibilang pernah melakukan pelecehan terhadap Arlaya pekan lalu dan membuat trauma yang membekas dikehidupan Arlaya kini mendapat berita bahwa ia resmi dikeluarkan dari Sma Merdeka karena perbuatannya.
"Jawab mama! Kalau sudah keluar kamu mau sekolah dimana lagi?" Ucap ibunya sekali lagi.
"Ya terserah, gak usah sekolah juga gak pa-pa. Gak penting." Balas Quentin tanpa menatap kearah ibunya.
Tangan ibunya melayang ke pipinya, reflek wajahnya langsung ikut menyamping karena tamparan.
Quentin hanya menyeringai seakan - akan tamparan ibunya hanya masalah kecil baginya.
Lelaki itu segera bangkit dari sofa dan berjalan mengambil jaket kulitnya dan kunci motornya.
"QUENTIN! Mau kemana kamu?" Ibunya berteriak kearah anaknya namun tak mendapat balasan apa - apa.
Quentin melajukan motornya cepat tanpa peduli keadaan sekitar. Hingga akhirnya ia sampai pada suatu gedung yang sudah terbengkalai namun memiliki rooftop yang cukup nyaman untuk disinggahi.
Ia berdiri di pinggiran rooftop seraya menatap kearah kendaraan yang berukuran kecil dilihat dari tempat ia berdiri. Tangannya merogoh ke kantung celana jeansnya dan mengambil satu kotak rokok yang sengaja ia simpan.
Rokok, batangan yang dapat membuatnya tenang walau banyaknya penyakit yang akan timbul dari batangan ini. Ia tak peduli, jika ia mati karena rokok pun dirinya malah senang karena tak perlu hidup di kehidupan yang tak pernah ia inginkan semenjak ayahnya dan ibunya bercerai karena ayahnya yang berselingkuh dengan ibu dari mantan sahabatnya—Adrian.
Ia sanggup berdiri di tempat ini berjam - jam. Sungguh tak berguna jika orang lain yang merasakan, namun ini adalah zona ternyaman milik Quentin karena tak banyak orang yang tahu tempat ini.
Saat ia membuang rokoknya, dengan kasar ia merasakan pundaknya tertarik sehingga membuatnya menghadap kearah seseorang dengan hoodie hitam dan topeng serigala aneh.
Orang itu memegang pisau! Pisaunya berukuran kecil. Seperti pisau yang biasa digunakan anggota pramuka, namun terlihat begitu tajam.
"You. Deserve. This!" Dengan satu ucapan. Pisau itu tertancap sempurna diperut Quentin. Tubuhnya seakan kaku tak bergerak karena perihnya tancapan pisau tersebut.
Orang ini menarik lalu menusukannya lagi tepat diperut Quentin lagi. Setelah beberapa saat, Orang bertopeng ini langsung mendorong tubuh Quentin yang lemas lalu langsung berlari pergi meninggalkan dirinya.
Senyum Quentin perlahan melebar, ia merasa akhirnya ada yang menyakitinya tanpa harus dirinya sendiri yang repot menyakiti diri sendiri.
Langit biru yang ia lihat perlahan - lahan mulai menggelap dan dirinya langsung tak sadar begitu saja.
// O B S E S S E D //
Arlaya "Aku sekolah dulu ya bun." Ucapku pada bunda, bunda mengangguk dan mencium dahiku. Lalu sesudahnya, aku langsung keluar dari mobil dan menggendong tas milikku.
Kakiku berjalan masuk kedalam area sekolah, diperjalanan menuju kelas. Aku bisa melihat sekelompokkan anak lelaki yang bisa dibilang bahwa mereka adalah teman akrab Quentin, sama nakalnya, namun aku tak tahu namanya satu persatu.
Mereka terlihat panik setelah mendengar obrolan dari teman lainnya yang sedang membelakangiku.
Tanpa mau mengetahui apa yang mereka bicarakan, aku langsung beralih pergi kekelas.
Sesampainya dikelas aku juga melihat wajah terkejut dari murid yang ada dikelas, termasuk Reyina dan Shenina. Sebenarnya ada apa?
Kutaruh tas milikku dan bertanya pada kedua dari mereka.
"Kenapa sih? Kok dari awal gue masuk, wajah murid - murid kayak kaget gitu?" Tanyaku.
"Quentin kritis, dia ditusuk dua kali sama orang gak dikenal." Jawab Reyina membuat bola mataku melebar, ikut terkejut.
Momen keterkejuan ini tak berlangsung lama karena ada guru yang masuk dan memulai pelajaran. Bu Tuty—guru bahasa Inggris yang juga mengetahui kejadian yang dialami Quentin merasa prihatin dan meminta kami untuk berdoa untuk keselamatannya dan ia juga menganjurkan untuk menjenguk Quentin dirumah sakit jika ada yang mau.
Apa orang ini lagi? Orang ini lagi kah yang melukai Quentin? Jika iya, aku sungguh merasa kesal. Tentu saja, walau perlakuan Quentin sempat tak enak diingat namun dengan pembalasan seperti ini sungguh tak layak untuk dilakukan. Bagaimanapun Quentin juga manusia.
Hingga...
"Arlaya? Kenapa kamu bengong? Lagi banyak pikiran?" Ucapan bu Tuty membuat pikiranku buyar begitu saja.
"Oh! Gak pa-pa bu." Balasku kikuk.
Kenapa juga kejadian ini malah membuatku tak fokus, ada - ada saja.
"Kenapa lo Arl? Mikirin Quentin ya?" Ucap Shenina dengan nada agak sedikit berbisik, seakan bisa membaca pikiranku. Aku menggeleng.
"Gak kok." Balasku dan akhirnya melanjutkan menulis apa yang bu Tuty sedang tulis.
Quentin really not deserve this.
// O B S E S S E D //
HALLO! Apa kabar? Baik - baik? Harus dong!
Update lagi 🙌🏻 selamat membaca kaliann! Oh iya, kalo kalian lupa siapa Quentin. I'll give you one picture of him disini lagi 👇🏻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.