Part 4 : Rindu

19K 774 4
                                        

بِسْـــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْـــــــــــــــمِ

Hanya satu kata yang
dapat kuucapkan untukmu
RINDU, ya kata itulah
yang selalu terpendam dihatiku
saat aku merasakan jauh darimu

(Aisyah Salsabila Az-Zahra)

🔹🔹🔹

Setiba di rumah...

"Assalamu'alaikum," ucapku sambil membuka pintu rumah.

Aku terkejut melihat seorang pria dan wanita yang tengah duduk bersama Umi dan Abi.

Ya, dia adalah aa ku dan kakak ipar ku, tak lupa juga gadis kecilnya.

"Aa Rifki?" Aku terkejut setelah tau bahwa yang sedang duduk bersama Umi dan Abi adalah aa ku yang sangat ku sayang.

Ya, Rifki Abdullah As-Syakhir namanya panggil saja Rifki.

"Ini beneran aa?" Tanyaku tak percaya setelah aku menghampiri nya.

"Iya lah siapa lagi? Ini aa kesayangan mu yang sangat kamu sayangi dan rindukan," katanya dengan percaya diri.

"Aa Rifki geer banget, a Aisyah kangen sama aa," kataku sambil memeluk aa Rifki dan buliran air mataku sudah mengalir membasahi cadar ku.

"Aa juga kangen sama adik aa yang cantik ini, udah ah jangan nangis," katanya membalas pelukan ku dan langsung menghapus air mataku yang sudah membasahi cadar ku.

Tiba tiba ada yang ikut memeluk ku dari belakang, siapa lagi kalau bukan keponakan ku? Gadis kecil yang lahir dari rahim kakak ipar ku.

Gadis itu bernama Aizah Husna As-Syakhir, panggil saja Aizah. Namanya mirip dengan namaku, hanya saja namaku Aisyah dan namanya Aizah.

"Aizah juga mau dipeluk teteh," kata gadis kecil itu yang memelukku dari belakang.

Aku langsung melepaskan pelukan ku dengan aa. Dan berbalik arah ke gadis kecil itu.

"Hmmm... Keponakan teteh ini juga pengen dipeluk," ucapku sambil tersenyum manis padanya.

"Iya donk," dia langsung memelukku kembali dan aku membalas pelukannya.

"Teh, Aizah kangen sama teteh," kata Aizah yang masih dalam pelukanku.

"Teteh juga kangen sama Aizah," ujarku lalu mengelus punggung nya.

"Teteh ngapain pake tutup tutup segala? Kok sama kek bunda sih? Teteh kan cantik," katanya yang langsung melepaskan pelukan kami.

Aku langsung mendudukkannya di depanku.

"Aizah sayang, iya memang teteh cantik. Karena cantik itulah yang harus ditutupi, karena kalo nggak ditutup akan menimbulkan fitnah. Karena cantik tidak harus dilihat, cantik itu harus dilindungi dan dijaga. Kecantikan itu akan diberikan kepada yang berhak, yakni suami kita. Dan yang boleh melihat kecantikan kita hanya mahram kita saja seperti, ayah, kakek, nenek, dan bunda," jelasku pada gadis kecil itu.

Aizah hanya mengangguk pelan pertanda dia mengerti dengan apa yang kukatakan.

"Oh berarti kalo kita cantik harus pake itu ya teh?" Tanyanya sambil menunjuk kearah cadar ku.

"Iya," jawabku singkat lalu tersenyum padanya.

"Kalo gitu Aizah juga mau kayak teteh, Aizah mau tutup muka Aizah aja, kan Aizah cantik dan biarin ayah, bunda, nenek, kakek, dan teteh aja yang liat nya," katanya sambil tertawa.

Kau Calon Imamku <HIATUS>Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang