بِسْـــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْـــــــــــــــمِ
...
🔹🔹🔹
Author POV
Sesuai persetujuan mereka kemarin, hari ini Aisyah dan Alwi akan melihat cctv untuk melihat sang pelaku yang berani mencelakai Alwi.
Alwi mulai mengecek dan melihat kejadian tersebut satu persatu, Alwi melihat ada seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam, layaknya seorang preman dengan wajah ditutup topeng kain berwarna senada yang sedang mendekati mobilnya.
"Mas, itu pelakunya" ucap Aisyah.
"Iya, dia pelakunya. Tapi, siapa orang dibalik topeng itu" Alwi penasaran dengan orang tersebut.
Lalu mereka menyaksikan lagi aksi pelaku tersebut. Terlihat orang itu seperti membuka engine hood mobil Alwi. Alwi dan Aisyah memperhatikannya secara seksama, mengamati setiap gerak gerik pelaku tersebut.
Hingga pelaku tersebut selesai mengutak-atik bagian engine hood mobil Alwi. Kemudian, dia melepas topeng yang digunakannya.
"Apa?!" Alwi dan Aisyah benar-benar terkejut saat mengetahui pelakunya.
Mereka saling pandang seperti tak percaya. Tapi, setelah melihat kebenarannya mereka tak dapat berkata-kata lagi.
"Mas, nggak mungkin dia yang melakukan itu" Aisyah masih saja menyangkal, namun inilah kenyataannya.
"Mau gimana lagi, sayang. Cctv ini gak mungkin berbohong. Inilah kenyataannya, lagian mas memang bener-bener yakin kalo dia yang melakukannya"
Aisyah diam saja, dia masih mencerna kata kata suaminya. Ada benarnya apa yang dikatakan suaminya itu, mungkin karena cemburu itu sebabnya dia berani mencelakai Alwi.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi. Yang penting sekarang kita udah tau bahwa dia pelakunya" Alwi merangkul istrinya itu, lalu mengajaknya pulang.
🍁🍁🍁
Entah sejak kapan Dila dan Rama sudah berada di rumah Aisyah dan Alwi. Bahkan, kedua suami istri tersebut tidak mengabarinya terlebih dahulu.
"Dari mana kalian?" Tanya Rama sambil berkacak pinggang.
"Lah, kalian kapan datangnya?" Aisyah dan Alwi dibuat bingung oleh mereka.
"Dari tadi! Kalian kemana aja sih? Kan lo baru aja sembuh, Wi. Masa udah jalan jalan aja?! Istirahat di rumah, woyy" Bukannya menjawab, Rama justru balik bertanya.
"Aelah, nt gimana sih, Ma. Ana tanya malah balik nanya, gimana sih!"
Dila dan Aisyah hanya geleng geleng kepala melihat tingkah dua sahabat itu. Mereka pun lebih memilih masuk kedalam rumah.
"Dil, masuk aja yok. Biarin aja dah mereka berdua" ajak Aisyah.
"Iya, Syah. Aku pusing dengerin mereka berdebat mulu, tiap hari kalo ketemu pasti selalu berdebat, kek kucing ama tikus"
Aisyah tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Memang benar apa yang dikatakannya, suaminya dan suami sahabatnya itu kalau ketemu pasti tidak pernah akur. Aisyah mengakui itu.
Aisyah dan Dila masuk kedalam tanpa pamit kepada dua sahabat itu yang masih saja sibuk berdebat.
Aisyah mengajak Dila ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Aisyah langsung menutup pintu kamarnya kemudian melepas cadarnya begitupun dengan Dila.
"Kalian tadi kemana sih?" Tanya Dila.
"Abis dari kantor, ngeliat kejadian kemaren" jawab Aisyah kemudian duduk disamping Dila yang tengah menyender di dinding kasur.
"Terus, gimana? Tau siapa pelakunya?" Dila sangat antusias untuk mengetahui siapa pelaku yang berani mencelakai sahabat kesayangannya ini.
Aisyah mengangguk, lalu menarik napas dalam dalam.
"Dara" hanya nama itu yang bisa Aisyah ucapkan, kemudian dia kembali diam.
"Nggak heran lagi, aku udah yakin kalo Dara pasti pelakunya.
Aisyah mengerutkan keningnya, "gak heran? maksud kamu apa?"
Dila membenarkan posisi duduknya menjadi tegap, lalu memulai bicara.
"Ya, aku udah yakin aja gitu sama dia. Pasalnya, dia akan selalu berbuat jahat sama kamu, sampai sampai dia mengancam kamu kek gitu. Sebenarnya kalo kamu peka, pasti kamu tau maksud dari ancamannya itu. Tapi, sayangnya kamu terlalu polos dan gak peka akan hal itu"
"Polos? Dil, Aisyah itu gak polos. Buktinya, wajah Aisyah gak rata. Aisyah masih punya mata, hidung, mulut"
Dila menepuk keningnya sendiri. Inilah nasib berteman dengan seorang Aisyah yang kelewat polos.
"Bukan itu maksud aku, Syah. Kamu, Syah, polosnya kebangetan, iihh"
Aisyah hanya terkekeh mendengar perkataan Dila.
"Maksud polos disini bukan kek gitu, tapi, kamu itu gak peka sampai sampai kamu gak sadar terhadap ancaman dia, sebenarnya ancaman dia itu kode buat kamu supaya kamu itu menjauh dari Alwi. Sampai disini, paham?"
Aisyah mengangguk paham.
"Hmm... Bagus" Dila langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke kasur empuk milik Aisyah lalu memejamkan matanya.
"Kalo kamu ngantuk, yaudah tidur aja. Ntar, Aisyah, minta tolong Bik Surti buat buatin teh untuk kamu" ucap Aisyah lalu berjalan kearah pintu.
"Syah!" panggil Dila yang tiba tiba saja sudah merubah posisinya menjadi duduk.
Aisyah menghentikan langkahnya, lantas berbalik.
"Apa?"
"Jadi, kamu mau melaporkan Dara ke pihak berwajib, gitu?"
"Entah, Aisyah juga nggak tau. Masih bingung, nanti bakal dibilangin lagi sama, mas Alwi, dia mau nya kek gimana"
"Yaudah"
Dila kembali menidurkan tubuhnya dan Aisyah melanjutkan langkahnya menuju pintu untuk ke dapur.
❤❤❤
assalamu'alaikum
yeayy udah publish😄
gimana kangen sama author gak? hehe
canda doank kok😅✌
maaf ya, author publish nya kelamaan🙏
seperti biasa, vote dan comment nya ditunggu😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Kau Calon Imamku <HIATUS>
SpiritualHigh Rank 🏆 #1 in Cadar (06 April 2019) #5 in Dalam (12 April 2019) #12 in Diam (18 April 2019) 💜💜💜 Cerita ini mengisahkan tentang seorang wanita yang bernama Aisyah. Orang tua nya menjodohkannya dengan anak dari temannya, tanpa sepengetahuan A...
