"22" - The Hidden Love

5.1K 491 39
                                        


Holla,,,
Rainy double up loh😁😁
Because today is a  special day, so today Rainy double up. Hihi.. ottokhae,, are u happy readernims?
Hopely You like,,😅😅

I know this up is very gaje, but,, I hope U will like this chap.

Happy reading,,,
😉😉

.
.



Kini tinggallah Seokjin seorang diri yang menemani Jungkook diruangannya. Seokjin menatap layar laptopnya dengan tatapan redup karena melawan kantuknya. Seokjin menatap jam dinding ruang rawat Jungkook yang sudah menunjukkan pukul 01.00.

Seokjin memijat pelipisnya pelan dan nafas frustasi. Dia benar-benar kesal, bahkan ibunya tak kembali untuk menemaninya menjaga Jungkook.

Seokjin kembali menatap wajah damai adiknya yang seakan mampu menghapus rasa lelahnya. Jika dulunya wajah itu hanya wajah yang akan membuatnya kesal dan marah, kini semua itu berbeda. Karena kini, wajah itu adalah wajah yang akan memberikannya kekuatan dan kebahagiaan.

"Aku tidak tahu apa yang merasukiku saat itu hingga aku melupakan adikku sendiri. Adik yang selalu ada dan memberikanku semangat dan cahaya ketika aku berada dalam keterpurukan. Adik yang rela  sakit dan terluka atas keegoisanku. Aku terlalu egois dan sudah dibutakan hingga aku tak mampu melihat cahaya dari anugerah terindah Tuhan yang diberikan padaku. Maafkan hyung Jungkookie"

.
.







Mari membuka matanya yang sembab dan mendapati dirinya tertidur dikamar Jungkook. Mari menatap jam weker diatas nakas yang menunjukkan pukul 03.00 pagi. Mari mengerjapkan matanya sejenak hingga ia  bangkit dan bergegas pergi setelah dia mengingat sesuatu.

Kini Mari sudah tiba diruang rawat Jungkook yang nampak sunyi. Mari dapat melihat anak pertamanya yang tengah tidur terduduk disamping ranjang rawat anak terakhirnya.

Mari tersenyum tipis melihatnya. Meskipun sakit, namun bayangan masa lalu dimana kedua anaknya masih kecil dan saling menyayangi mampu menghangatkan hatinya.

Mari berjalan menuju Seokjin yang tertidur sambil menggenggam tangan adiknya dan menyelimutinya. Dia juga tak lupa memperbaiki selimut Jungkook.

Mari tersenyum dan mengelus pucuk kelapa Seokjin.

"Kau tau Seokjin-ah,, dulu kau selalu menangis dan menyalahkan dirimu jika adikmu sakit. Kau bakan akan menjaganya hingga tertidur. Seperti saat ini,," lirihnya.

"Aku bahkan tidak tahu saat itu aku membencimu atau karena aku terlalu menyayangimu"

Mianhae.

.
.




Seokjin membuka matanya dan mendapati Jungkook masih belum bangun dan ruangan masih sama kosongnya. Seokjin sedikit merasa kesal pada ibunya, hingga,,

"Kau sudah bangun?" Tanya Mari yang baru saja kembali membeli makanan untuk mereka berdua karena Jungkook sudah memiliki menu makanannya sendiri.

Dan Seokjin hanya membalas Mari dengan senyuman.

"Kapan eomma datang?" Tanya Seokjin yang kini tengah menyantap sarapannya bersama Mari.

"Pukul 03.30. Eomma ketiduran" jawab Mari yang membuat Seokjin tersenyum. Meskipun berbahaya, setidaknya eommanya sudah berusaha datang dan itu menandakan jika eommanya menyayangi Jungkook.

"Bagaimana keadaan Jungkook? Apakah semalam dia sadar?" Tanya Mari yang diiyakan Seokjin dengan lirih.

"Apa yang dia katakan? Apakah sudah ada  yang membaik?" Tanyanya lagi yang membuat Seokjin terdiam.

Life, But Die (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang