18. Their Togetherness

281 38 3
                                        

Reina duduk manis di atas kursi panjang belakang sekolah. Sesekali dia melirik jam di pergelangan kirinya. Beberapa kali dia mendengus menatap daun berguguran di hadapannya. Sekarang sudah mulai memasuki musim gugur. Reina dapat merasakan suara yang begitu tenang dari gemerisik dedaunan di depannya.

Tampak dari jauh sosok Vano muncul dengan sedikit terburu-buru. Takut kalau Reina menunggu terlalu lama dan membuat gadis itu marah.

Vano tepat di belakang Reina. Gadis itu belum menyadari keberadaannya. Vano terlihat canggung, dia melirik ke sekitar—mencari apa yang bisa diberikan untuk Reina. Sial! Dia bahkan tidak membawa cokelat seperti yang pernah Ana katakan.

“Reina suka cokelat!”

Vano merutuki kebodohannya. Ini semua gara-gara Velix yang berurusan dengan Joni dkk. Alhasil dia harus menyelesaikan urusan dengan Joni sebelum bertemu Reina. Dengan satu tarikan napas panjang, Vano pun mendekat.

“Reina!”

Reina menoleh, menampilkan senyum yang memerlihatkan lesung di kedua pipi. “Devan!”

Sepertinya Reina tidak marah, Vano bisa bernapas lega. Dia kemudian duduk di bangku panjang sebelah Reina dengan sedikit kaku. “M-maaf ya, tadi lama.”

Reina mengangguk, dia tidak menunjukkan kemarahan.

“Udah nunggu lama, ya?” tanya Vano lagi.

Reina menggeleng, dia sama sekali tidak bersuara, hanya menunjukkan isyarat kepala.

Vano semakin canggung, tiba-tiba dia begitu kaku. “Oke Vano, lo bisa. Ingat kata Ana, lakukan Vano, lakukan!” suara batin Vano bergemurung.

“Devan!” Reina bersuara, hampir saja mengejutkan Vano.

“Kamu ngapain nyuruh aku ke sini?” tanyanya dengan kerlipan di kedua mata saat menoleh menatap Vano.

"Oh, itu. A-aku—"

Reina menunggu Vano meneyelesaikan kalimatnya.

“Aku mau ajak kamu jalan!” serunya kemudian.

Mata Reina membelalak kaget, bukan karena ajakan yang secara tiba-tiba, tapi ekpresi Vano yang begitu aneh saat mengatakan itu. Tanpa sadar, gadis itu tertawa.

“Kamu nggak mau, ya?” Vano mulai menyerah.

Reina diam, dia kembali serius. “Ke mana?"

Vano yang mendapat sambutan hangat, langsung menampilkan keterkejutannya. Dia tidak percaya kalau Reina akan setuju secepat ini.

“Kamu mau, Rein?” Vano antusias.

“Ke mana dulu? Ana ikut, nggak?”

“Ngapain ajak Ana? Kita berdua. Aku sama kamu!”

Reina mengernyit, wajahnya berubah jadi datar. “Kita berdua?”tanyanya ragu.

🍀🍀🍀

"Hoaaaaam..."

Bruk!

"Alan, sakit. Kamu barusan pukul aku pakai apa?" Ana bersuara pelan sambil mengusap kepala, dia melirik Alan di depannya yang sok serius membaca buku Sejarah. "Pakai buku tebal itu? Aku bisa bodoh nanti."

"Makanya jangan nguap lebar gitu. Entar masuk lalat." Alan pura-pura fokus baca buku, sebenarnya dia ingin tertawa melihat wajah suntuk Ana di depannya.

"Sejarah itu membosankan."

"Dan matematika itu menyebalkan," balas Alan cepat.

Ana menggembungkan pipi saat menatap kesal Alan. "Kamu bisa botak kayak Pak Berto kalau kebanyakan baca Sejarah."

Secret Clover [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang